Lembar Aktivitas untuk Kunjungan ke Museum

Kelas 5 » IPS 5 » Sejarah »
Alat dan Bahan » Sumber Daya Lokal »

Metode :: Pengamatan , Kunjungan

Tags: , , , , , , , ,

Abstraksi

Anak-anak senang beraktivitas. Lihat saja majalah-majalah untuk anak-anak, pasti penuh dengan : mewarnai, menghubungkan titik-titik, mencocokkan gambar, dan sebagainya. Mereka juga senang mempunyai souvenir—sesuatu yang bisa disimpan dari perjalanan mereka. Ternyata, yang sederhana bisa menjadikan anak-anak lebih menikmati kunjungan ke —sekaligus menjadi souvenir!

Latar Belakang

Jika di sekitar sekolah kita terdapat objek seperti museum, kita beruntung. Artinya murid-murid kita mempunyai kesempatan untuk mendapatkan sumber belajar selain dari buku.

Namun, coba berkaca pada diri kita sendiri. Apa yang kita rasakan dulu, ketika SD, jika tahu akan mengunjungi museum? Mungkin yang terbayang adalah membosankan. Museum, sebagai salah satu tempat pembelajaran (edukasi), idealnya menyediakan aktivitas yang interaktif dan variatif. Memang, kita tidak bisa menuntut setiap museum di daerah kita mempunyai fasilitas menarik seperti multimedia yang interaktif, namun kita sendiri bisa membuat kunjungan ke museum menjadi tak terlupakan untuk anak-anak.

Ingatlah, dengan sedikit imajinasi, kotak kardus sederhana bisa menjadi mobil ferrari mewah maupun roket yang terbang tinggi ke angkasa.

Kondisi Kelas

Metode ini paling memungkinkan diterapkan pada murid mulai kelas III SD, terutama yang sudah mempunyai kemampuan baca tulis yang baik, juga cukup mandiri untuk belajar sendiri (terpisah dari gurunya).

Karena ini bersifat pembelajaran mandiri dan di luar kelas, jumlah murid tidak terlalu berpengaruh terhadap kegiatan. Aktivitas ini bisa dikerjakan perseorangan maupun berkelompok.

Latar belakang penggunaan metode

Metode ini didasarkan pada daya eksplorasi anak. Intinya adalah bagaimana kita memanfaatkan potensi anak untuk mengamati dan menjelajah. Selain itu, kita juga perlu mengakomodasi daya imajinasi anak-anak (efektif untuk usia SD) untuk menjadikan kunjungan museum ini “ yang menantang”.

Manfaatkan semua saluran belajar anak. Objek wisata seperti museum cocok untuk pembelajaran secara tematik, di mana anak-anak bisa menggabungkan beberapa unsur pembelajaran sekaligus.

Latar belakang penyampaian materi

Museum yang umum ada di Indonesia adalah museum Provinsi. Biasanya museum ini akan memuat informasi spesifik mengenai daerah yang bersangkutan: sejarah, geografi, dan seni budaya. Karena itu, kunjungan museum sangat cocok untuk mata pelajaran Kesenian Daerah (Muatan Lokal), , SBK, dan Bahasa Indonesia sekaligus. Beberapa daerah yang memiliki flora dan fauna endemik bahkan bisa menjadi sumber bagus untuk pelajaran IPA.

Ada baiknya kunjungan ini dilakukan sebagai tahap konfirmasi, yaitu setelah sebelumnya murid-murid mendapat input mengenai materi yang bersangkutan. Untuk contoh ini, saya menggunakan kunjungan ke Museum Balaputeradewa di Palembang. Hal ini cocok khususnya untuk kelas V semester I dengan SK-KD:

IPS: (1.1) Mengenal makna peninggalan-peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa dan di Indonesia (1.2) Menceriterakan tokoh-tokoh sejarah padamasa Hindu-Budha dan di Indonesia *khususnya yang mengenai Kerajaan

SBK : (1.2) Mengidentifikasi jenis motif hias pada karya seni rupa Nusantara daerah setempat dan (1.3) Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan motif hias karya seni rupa Nusantara daerah setempat

Bahasa Indonesia: (2.2) Menceritakan hasil pengamatan/kunjungan dengan bahasa runtut, baik, dan benar, (2.3) Berwawancara sederhana dengan narasumber dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa (dengan bertanya kepada pemandu museum), (4.1) Menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan kata dan penggunaan ejaan, (8.2) (*untuk semester II) Menulis laporan pengamatan atau kunjungan berdasarkan tahapan (catatan, konsep awal, perbaikan, final) dengan memperhatikan penggunaan ejaan.

 

Teori

Teori yang ingin disampaikan pada kunjungan haruslah mengaitkan antara pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan museum yang akan dikunjungi. Pada contoh berikut ini, museum yang akan dikunjungi adalah Museum Sejarah Sumatera Selatan, Balaputeradewa.

Sejarah Museum

Museum mengambil nama Balaputeradewa karena Balaputeradewa adalah nama raja terpenting dalam sejarah kerajaan Sriwijaya. Pada masa pemerintahannya, Sriwijaya berhasil mencapai puncak kejayaannya, yaitu sebagai kerajaan nasional pertama yang menjadi cikal-bakal Indonesia. Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di daerah Sumatera Selatan ini menjadi salah satu kebanggaan provinsi ini.

Sejarah Sumatera Selatan

Fase sejarah di Sumatera Selatan dibagi menjadi 2, yaitu prasejarah dan sejarah. Prasejarah artinya zaman ketika masyarakat belum mengenal tulisan. Di daerah Sumatera Selatan, yang menjadi sorotan utama adalah banyaknya peninggalan megalitikum (zaman batu besar) di daerah barat, yaitu Lahat dan Pagaralam.

Sebaliknya, sejarah berarti zaman ketika masyarakat sudah mengenal tulisan. Dalam sejarah Sumatera Selatan, kerajaan pertama yang mengenal tulisan adalah kerajaan Sriwijaya yang merupakan kerajaan Buddha. Bukti tertulis yang menjelaskan kerajaan ini adalah prasasti-prasasti yang menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Sumatera Selatan juga mengalami masa pendudukan oleh VOC (Perserikatan Dagang Hindia-Timur). Bersamaan dengan itu, agama Islam mulai memasuki wilayah ini. Pahlawan terkenalnya adalah Sultan Mahmud Badaruddin II dari kesultanan Palembang Darussalam (sekitar abad 17).

Langkah-langkah

Survey

Survey mengenai museum tersebut, misalnya melalui internet. Jika memungkinkan dari segi waktu dan kesempatan, datangi langsung museum yang bersangkutan. Hal ini penting untuk memastikan koleksi-koleksi yang tersedia di ruang pamer museum tersebut. Dengan mendatangi langsung, kita juga akan mendapatkan hal-hal rinci namun menarik rinci yang bisa kita jadikan bahan dalam pembuatan lembar aktivitas. Jika mendatangi langsung museum tersebut, jangan lupa mengambil catatan dari deskripsi objek-objek yang sekiranya penting.

 

Museum Balaputeradewa

Survey lah terlebih dahulu untuk mendapatkan hal-hal menarik yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan.

Kumpulkan materi-materi pelajaran yang akan diulas di kunjungan ini, kemudian integrasikan dengan hasil survey kita terhadap koleksi museum, untuk menentukan tema apa yang paling mungkin untuk digali lebih jauh.

Membuat Lembar Aktivitas

Untuk membuat Lembar Aktivitas yang optimal, diperlukan survey tersendiri pula. Kumpulkanlah berbagai jenis aktivitas yang mungkin diminati anak-anak, lalu pilih mana yang paling sesuai dengan konsep kita. Baca majalah-majalah anak sebagai referensi dalam membuat lembar aktivitas.

Dengan bermodalkan materi yang pernah kita ajarkan kepada murid (berpeganglah pada RPP yang sudah kita buat) serta hasil survey kita di museum, buatlah lembar aktivitas serelevan dan semenarik mungkin.

Pada contoh ini, Museum Balaputeradewa menekankan sejarah Sumatera Selatan mulai zaman prasejarah hingga pasca kemerdekaan. Untuk SK-KD kelas V yang dijabarkan sebelumnya, maka perlu dibuat penekanan pada materi mengenai Kerajaan Buddha Sriwijaya dan Kerajaan Islam Palembang Darussalam. Namun Museum Balaputeradewa juga menekankan daya tarik utama sejarah di Sumatera Selatan berupa arca-arca megalitik  yang banyak tersebar di daerah Pagaralam dan Lahat. Meskipun hal ini tidak tercantum pada SK-KD IPS, namun berguna untuk pengetahuan umum maupun untuk Muatan Lokal.

 

Lembar Aktivitas untuk murid-murid

 

… Voílà! Selamat Bekerja!

Akhirnya, susunlah acara di museum, bekerja sama lah dengan staff museum (jika ada). Komunikasikan ide Anda dan bagaimana Anda harapkan mereka bisa mendukungnya.

Dalam perjalanan menuju museum, mulailah kegiatan apersepsi untuk membangun mood murid dalam mengeksplorasi museum. Bagikan Lembar Aktivitas dan biarkan mereka mempelajarinya beberapa lama sebelum memasuki museum.

Kemudian, biarkanlah murid-murid mengeksplorasi museum dengan cara mereka sendiri, dan nikmati wajah puas mereka ketika berhasil menemukan jawabannya.

 

NIkmatilah wajah puas dan ceria anak-anak ketika menemukan jawaban yang mereka cari

 

Tips

  1. Sempatkan diri sendiri melakukan survey ke museum yang bersangkutan untuk memastikan koleksi apa saja yang ada di sana beserta deskripsinya (sebagai acuan untuk membuat lembar aktivitas)
  2. Gunakan banyak gambar, ilustrasi, atau (sebisa mungkin) foto. Jadikan lembar aktivitas ini “lahan permainan” anak. Buatlah seperti peta harta karun. Buatlah seperti teta-teki silang (TTS). Buatlah semenarik mungkin namun dengan menyesuaikan fasilitas yang tersedia.
  3. Gunakan bahasa yang persuasif pada Lembar Aktivitas.
  4. Menarik bukan berarti harus royal. Kalau fasilitas tidak memungkinkan mencetak atau meng-copy banyak, buatlah lembar aktivitas yang sederhana dan bisa diduplikasi secara manual. Menekankan pada pembuatankelompok kerja juga bisa menjadi salah satu solusi. Bahkan, dengan ini anak-anak mendapat lebih banyak porsi untuk belajar bekerja sama.
  5. Sebelum hari keberangkatan, jangan lupa ulang-ulang materi yang telah disampaikan yang berhubungan dengan kunjungan ini.
  6. Cermatlah dalam menggunakan jasa guide. Berdasarkan pengalaman, guidecenderung mendikte atau langsung memberikan jawaban sehingga kurang memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengeksplorasi museu. Alternatifnya, berikan waktu 15-30 menit (tergantung luas museum) untuk anak-anak mengeksplorasi dan mencari jawaban sendiri. Biarkan mereka puas menikmati museum dengan cara mereka sendiri terlebih dahulu, setelah itu barulah gunakan jasa guide untuk mengkonfirmasi jawaban-jawaban yang mereka dapatkan sendiri, juga untuk memberi anak-anak kesempatan untuk bertanya.
  7. Jika tidak terdapat museum di daerah Anda, Lembar Aktivitas ini tetap bisa digunakan untuk menjelajah tempat lain, misalnya pasar ikan di tepi pantai, mercusuar, perkebunan, peternakan, dan objek lainnya.

Metode Alternatif

Metode alternatif ini bisa dilakukan jika banyak murid peserta karyawisata mempunyai atau membawa kamera (kamera pada telpon seluler pun jadi). Lakukanlah dengan konsep rally fotografi. Bagilah murid menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah kamera (idealnya 1 kelompok terdiri dari 2-3 orang), kemudian berikan mereka petunjuk yang mengarahkan mereka pada suatu objek di museum, lalu minta mereka memotret benda tersebut.

Contoh:

Apakah aku? Aku terbuat dari batu. Aku bertuliskan huruf-huruf Pallawa. Aku juga bisa menceritakan kejadian-kejadian di masa Sriwijaya. Aku mempunyai nama sama dengan daerah tempat aku diteukan, yaitu Boom Baru, di Palembang.

Pastikan petunjuk yang kita berikan tercantum di captionatau deskripsi koleksi. Gunakan gaya bahasa yang sesuai dengan tingkatan umur atau kelas murid kita.

Pendidikan karakter yang disisipkan

Pendidikan karakter yang disisipkan dalam kegiatan ini adalah kerja sama dan pantang menyerah. Tempat umum seperti museum juga bisa menjadi tempat yang tempat untuk melatih murid disiplin, misalnya tertib dan mengantri membeli tiket masuk.

 

Ayooo… yang tidak antri tidak akan diberi tiket :)

Kesimpulan

Keterbatasan bukanlah yang sepatutnya menghalangi kita dari memberikan pembelajaran yang berkualitas. Manfaatkanlah daya imajinasi dan energi anak yang meluap-luap untuk beraktivitas. Pastikan untuk memberikan pelajaran yang menyenangkan sekaligus bermutu untuk murid-murid kita.

Unduh

Contoh lembar Aktivitas Siswa di Museum.

Revisions

No comments yet.

Leave a Reply