Melatih Budaya Terima Kasih: Mengenalkan ‘Terima Kasih’ dari Berbagai Bahasa di Dunia

Pendidikan Karakter »
Alat dan Bahan » Sumber Daya Lokal »

Metode :: Permainan

Tags:

Abstraksi

Semakin dini kita menanamkan budaya berterima kasih pada seseorang, diharapkan akan mengakar dan menjadi kebiasaan baik, sehingga seorang anak bisa menghargai orang lain sekaligus mensyukuri yang ia dapatkan, mulai dari hal-hal kecil. Berikut ini adalah beberapa cara untuk menanamkan budaya berterima kasih kepada anak-anak.

Mengajari anak-anak menghargai dengan berterima kasih

Latar Belakang

” adalah salah satu frase terpenting dalam hidup kita. “” menunjukkan penghargaan kita terhadap seseorang yang melakukan sesuatu kepada kita, merupakan wujud rasa syukur atas apa yang kita dapatkan, dan seolah juga membayar lunas utang budi kita kepada yang kita terima-kasihi.

Sayangnya, frase sederhana ini justru sering terlupakan. Entah karena rasa gengsi atau tidak acuh, semakin sedikit kita menemukan orang yang mau berterima kasih, terutama pada hal-hal kecil. Padahal, semakin kita mensyukuri hal kecil, akan semakin mudah kita menghargai hal-hal yang lebih besar. ­­

Budaya terima kasih ini bisa dibangun perlahan melalui kebiasaan. Karena ini merupakan pelajaran budi pekerti, teori tidaklah cukup. Harus langsung dipraktekkan. Ketika kita menjelaskan pentingnya berterima kasih kepada anak-anak berusia 6 tahun, mungkin mereka tidak akan mengerti. Tetapi jika mereka terbiasa mengucapkan “terima kasih” sejak kecil, pada usia yang lebih dewasa mereka akan mulai menyadari makna pentingnya menghargai orang lain lewat ucapan “ajaib” tersebut.

Metode

Seperti biasa, pembelajaran ini dikemas sebagai “permainan” supaya lebih menarik bagi anak-anak. Dalam permainan ini, tugas setiap anak adalah mengucapkan “terima kasih” sesuai dengan bahasa yang mereka dapatkan. Berikut ini adalah langkah-langkahnya.

Mengumpulkan kosa-bahasa yang bermakna “terima kasih”

Kumpulkanlah sebanyak-banyaknya kata dalam berbagai bahasa yang berarti “terima kasih”. Cara mudahnya, bukalah google translator danmasukkan “terima kasih” pada kolom kiri. Jangan lupa pilih bahasa yang diinginkan. Perhatikan cara pengucapannya (biasanya google translator sudah mempunyai fitur ini) dan jangan lupa catat asal negaranya. Semakin “unik”, anak akan semakin tertarik dan kemungkinan besar akan semakin senang (dan sering) mengucapkannya. Berikut ini beberapa bahasa yang saya gunakan:

  1. Thank you (Inggris)
  2. Gamsahamnida (Korea)
  3. Arigatou (Jepang)
  4. Bedankt (Belanda)
  5. Grazie (Italia)
  6. Merci (Perancis)
  7. Gracias (Spanyol)

Membagi anak-anak ke dalam beberapa kelompok

Hal ini sangat ditentukan oleh jumlah murid dibandingkan jumlah kosakata yang kita dapatkan. Jika di kelas Anda terdapat 30 anak dan Anda mendapatkan 16 bahasa, maka setiap 2 anak mendapatkan bahasa yang sama. Namun agar optimal, sebisa mungkin jadikan jumlah bahasa seimbang dengan jumlah murid.

Metode penyampaian

Mulailah dengan menyebutkan bahwa Anda punya permainan, dan permainan ini akan dilakukan hingga (misalnya) akhir semester. Tunjukkan bahasa-bahasa yang Anda punya (bisa berupa flash cards atau sekedar tulisan di papan tulis). Tanya apa pendapat mereka mengenai kata-kata tersebut, dan minta mereka menebak apa artinya, atau bahasa apakah itu. Setelah proses curah ide, jelaskan bahwa kata-kata tersebut memiliki arti yang sama, yaitu “terima kasih”. Tengahkan bahwa semua orang di dunia mengenal ungkapan “terima kasih”, dan ini salah satu kata paling penting ketika kita mempelajari suatu bahasa.

 

beberapa ucapan terima kasih dalam berbagai bahasa yang ditulis di papan tulis

Bagilah murid sesuai jumlah bahasa yang tersedia (metode bebas). Jangan lupa sebutkan kata tersebut berasal dari negara mana. Terangkan bahwa mulai saat ini, setiap anak harus mengucapkan “terima kasih” dalam bahasa yang mereka masing-masing dapatkan. Sedangkan Anda, sebagai guru, akan tetap mengucapkan “terima kasih” dalam Bahasa Indonesia. Tekankan pula bahwa kata ini harus sesering mungkin diucapkan, sekecil apapun seseorang melakukan sesuatu untuknya.

Mulailah dengan permainan yang sifatnya sound check seperti “terima kasih Itali mana?” “terima kasih Belanda?” dan perhatikan apakah setiap anak sudah lancar dengan pengucapannya.

Sebagai uji coba, mintalah salah satu murid melakukan sesuatu untuk seluruh kelas (misal: mengambil buku yang telah dinilai dari meja guru dan membagikannya kembali kepada teman-teman). Perhatikan apakah setiap murid yang menerima buku sudah mengucapkan “terima kasih” dalam bahasa masing-masing.

Membuat “tepuk terima kasih”

Salah satu sinyal yang dipakai di kelas saya adalah “tepuk terima kasih”. Tepuk ini digunakan untuk memberikan apresiasi kepada seseorang. Begini bunyinya:

<komando> Tepuk terima kasih!

<Jawaban> (tepuk tangan 3x) terima kasih (tepuk tangan 3x) terima kasih (tepuk tangan 3x) kamu hebat!

 

“Tepuk terima kasih” ini bisa dimodifikasi menggunakan pembelajaran ini. Mintalah murid-murid secara serempak melakukan “tepuk terima kasih” namun dalam bahasa masing-masing. Untuk bagian “kamu hebat” boleh dibiarkan dalam Bahasa Indonesia. Contoh:

<komando> Tepuk terima kasih!

<Jawaban> (tepuk tangan 3x) bedankt (tepuk tangan 3x) bedankt (tepuk tangan 3x) kamu hebat!

 

Lesson Learned

  1. Selain menggunakan bahasa asing seperti Bahasa Inggris, Perancis, dan sebagainya, sebaiknya gunakan pula bahasa daerah, misalnya “hatur nuhun” (Bahasa Sunda), “matur nuwun” (Bahasa Jawa), dan sebagainya. Nilai tambahan yang bisa didapat dari alternatif ini adalah mengajarkan kepada anak-anak keanekaragaman budaya Indonesia, sehingga menimbulkan afeksi berupa rasa “memiliki” kepada kekayaan bangsa ini. Kendalanya memang bagaimana mendapatkan kosa-bahasa tersebut. Jika bahasa asing, kita bisa dengan mudah mengandalkan google translator. Apakah sudah ada situs serupa untuk mengkonversi kalimat ke berbagai bahasa daerah? Cara untuk menyiasatinya adalah dengan mempunyai program tambahan seperti sahabat pena yang menghubungkan murid-murid dengan teman sejawat mereka yang terpencar di titik-titik lain di seluruh Indonesia. Fasilitasi pembelajaran bahasa mereka dengan ini. Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Mudah kan?
  2. Jangan berhenti pada mengucapkan “terima kasih”. Ajak pula anak-anak membuat kartu terima kasih (thank you card) kreasi mereka sendiri untuk orang-orang yang berjasa bagi mereka.
  3. Ingatlah bahwa guru berarti digugu dan ditiru. Murid akan meneladani gurunya. Jangan heran murid Anda tidak pernah berterima kasih jika Anda pun jarang berterima kasih. Ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada murid Anda, apresiasikan setiap usaha yang mereka lakukan, dan mereka akan mencontoh kebiasaan baik tersebut.

Akhir kata, terima kasih telah membaca!  🙂

 

Revisions

One Response to “Melatih Budaya Terima Kasih: Mengenalkan ‘Terima Kasih’ dari Berbagai Bahasa di Dunia”

  1. Dewa 30 November 2012 at 20:01 #

    dan terima kasih ada cara baru untuk mengajarkan terima kasih dengan cara menyenangkan. Syukriya, gamsahabnida.

Leave a Reply