Revision 3134 is a pre-publication revision. (Viewing current revision instead.)

Mengekspresikan Pikiran dan Perasaan dengan Menulis Surat

Abstrak

Mengungkapkan dan bisa dengan apa saja. Yang paling penting adalah seseorang mampu mengungkapkannya melalui media yang tepat dan memiliki dapak positif bagi kognitif, afektif, dan konatifnya.

Latar Belakang

Kondisi Siswa

Sering kali guru melihat perilaku siswa yang “aneh” tanpa tahu apa maksudnya. Sikap tersebut ditemui terutama pada anak-anak yang sering mengalami kekerasan baik di dalam maupun di luar rumah. Sikap tersebut juga bisa jadi merupakan imitasi dari apa yang mereka alami. Tidak heran anak-anak yang hidup dalam masyarakat yang biasa memberi contoh kekerasan akan mempraktikkan kekerasan pula dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan.
Surat yang ditulis oleh Arnita, siswa kelas 4, untuk Pak Yuri

yang ditulis oleh Arnita, siswa kelas 4, untuk Pak Yuri

Sering kali pula orang tua atau guru memberi label seorang siswa dengan cap negatif misalnya nakal, bandel, kurang ajar, tidak sopan, dan sebagainya. Padahal boleh jadi siswa tersebuthanya tidak tahu cara yang tepat untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka. Salah satu cara mengekspresikan pikiran dan perasaan adalah melalui tulisan. Nah, tulisan bagaimanakah yang mampu mengungkapkan pikiran dan perasaan anak-anak?

Latar Belakang Penyampaian Materi

Mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan tulisan terdapat di Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK KD) mulai dari kelas III sampai IV.

Alat dan Bahan

  1. Kertas
  2. Pulpen, pensil
  3. Pensil warna, spidol
  4. Gambar/foto seseorang yang akan dikirimi surat

Metode

Guru bisa memilih metode apapun untuk mengenalkan cara mengekspresikan pikiran dan perasaan. Cara yang saya lakukan terhadap murid-murid saya di SDN Matutuang, Kab. Sangihe  adalah dengan memfasilitasi rasa rindu mereka terhadap guru Pengajar Muda yang pernah menemani mereka selama satu tahun di Pulau Matutuang. Rasa rindu tersebut terungkap dari pembicaraan mereka yang selalu bercerita mengenai masa-masa indah bersama Pak Yuri, sebutan akrab para siswa kepada Yuri Alfa Centauri, Pengajar Muda angkatan 2 di SDN Matutuang.

Langkah-langkah

Tidak semua anak di SD kami bisa menuliskan pikirannya dalam surat. Karena itu, saya sebagai guru perlu melakukan persiapan dan 'pemanasan' sebelum mengajak mereka surat. Berikut ini adalah langkah-langkah saya dalam mengajak siswa mengekspresikan pikiran dan perasaan melalui surat:
  1. Guru menjelaskan pada siswa tentang komunikasi (apa itu komunikasi, manfaat, cara, media).
  2. Guru memfokuskan penjelasan pada tujuan komunikasi yang salah satunya adalah mengungkapkan pikiran dan perasaan. Mengungkapkan pikiran misalnya: setuju/tidak setutu, tahu/tidak tahu, paham/tidak paham. Sedangkan perasaan misalnya: suka/tidak suka, senang/tidak senang, marah/tidak marah, kangen/tidak kangen. Dengan begitu anak-anak akan bisa membedakan antara pikiran dan perasaan.
  3. Saya menyakan kepada siswa (secara lisan) bagaimana perasaan mereka terhadap Pak Yuri ( atau subyek lain, sesuai kebutuhan) dan harapan apa yang mereka sampaikan kepada Pak Yuri
  4. Setelah itu, saya meminta anak untuk mengungapkan pikiran dan perasaan mereka yang dituangkan ke dalam secarik kertas. Ungkapan perasaan dan pikiran tersebut boleh berupa tulisan, gambar, atau kombinasi keduanya. Tulisan bisa berupa , prosa, puisi, pantun, dan sebagainya.

Lesson Learned

Dengan cara menulis surat, siswa belajar untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka secara positif. Hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi mereka bahwa tidak seharusnya dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan itu dengan menggunakan kekerasan. Dengan demikian diharapkan kekerasan dapat berkurang. Selain itu, anak-anak secara tidak sadar belajar untuk melakukan sesuatu yang hasilnya untuk orang lain. Jika dilakukan terus menerus, kemampuan anak untuk menulis juga akan melejit.

Revisions

Revision Differences

January 2, 2013 @ 16:33:24Current Revision
Content
  <h2>Abstrak</h2>
  Mengungkapkan pikiran dan perasaan bisa dengan apa saja. Yang paling penting adalah seseorang mampu mengungkapkannya melalui media yang tepat dan memiliki dapak positif bagi kognitif, afektif, dan konatifnya.
  <h2>Latar Belakang</h2>
  <h3>Kondisi Siswa</h3>
  Sering kali guru melihat perilaku siswa yang “aneh” tanpa tahu apa maksudnya. Sikap tersebut ditemui terutama pada anak-anak yang sering mengalami kekerasan baik di dalam maupun di luar rumah. Sikap tersebut juga bisa jadi merupakan imitasi dari apa yang mereka alami. Tidak heran anak-anak yang hidup dalam masyarakat yang biasa memberi contoh kekerasan akan mempraktikkan kekerasan pula dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan.
<a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ ?attachment_id=3133" rel="attachment wp-att-3133"><img class="size-medium wp-image-3133" alt="Ini salah satu contoh surat yang ditulis oleh Arnita, siswa kelas 4 untuk Pak Yuri" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2013/01/ kunjungan-rumah-pak-imam- 059-200x300.jpg" width="200" height="300" /></a> Ini salah satu contoh surat yang ditulis oleh Arnita, siswa kelas 4 untuk Pak Yuri  <a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2013/01/ Mengekspresikan- Pikiran-dan- Perasaan-dengan- Menulis-Surat- Ulil.jpg"><img class="size-medium wp-image-3217" alt="Surat yang ditulis oleh Arnita, siswa kelas 4, untuk Pak Yuri" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2013/01/ Mengekspresikan- Pikiran-dan- Perasaan-dengan- Menulis-Surat- Ulil-235x300.jpg" width="235" height="300" /></a> Surat yang ditulis oleh Arnita, siswa kelas 4, untuk Pak Yuri
Abstrak  
Mengungkapkan pikiran dan perasaan bisa dengan apa saja. Yang paling penting adalah seseorang mampu mengungkapkannya melalui media yang tepat dan memiliki dapak positif bagi kognitif, afektif dan konatifnya.   
Latar Belakang   
Kondisi Siswa   
Sering kali kita melihat perilaku anak yang “aneh” tanpa tahu apa maksudnya. Apalagi anak-anak yang di dalam maupun di luar rumah sering mengalami kekerasan, bisa jadi metode yang mereka gunakan juga merupakan imitasi dari apa yang mereka alami. Tidak heran anak-anak yang hidup dalam masyarakat yang biasa memberi contoh kekerasan akan menirunya dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan.   
Sering kali pula orang tua atau guru memberi label seorang anak dengan cap negatif misalnya nakal, bandel, kurang ajar, tidak sopan, dan sebagainya. Padahal boleh jadi seorang anak yang demikian hanya tidak tahu cara yang tepat untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka.  Sering kali pula orang tua atau guru memberi label seorang siswa dengan cap negatif misalnya nakal, bandel, kurang ajar, tidak sopan, dan sebagainya. Padahal boleh jadi siswa tersebuthanya tidak tahu cara yang tepat untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka.
Salah satu cara mengekspresikan pikiran dan perasaan adalah melalui tulisan. Nah, tulisan bagaimanakah yang mampu mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka?  Salah satu cara mengekspresikan pikiran dan perasaan adalah melalui tulisan. Nah, tulisan bagaimanakah yang mampu mengungkapkan pikiran dan perasaan anak-anak?
Latar belakang penyampaian materi <h3>Latar Belakang Penyampaian Materi</h3>
Mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan tulisan terdapat di Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK KD) mulai dari kelas III sampai IV. Mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan tulisan terdapat di Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK KD) mulai dari kelas III sampai IV.
Alat dan bahan <h2>Alat dan Bahan</h2>
1. Kertas  
  <ol>
   <li>Kertas</li>
2. Pulpen, pensil   <li>Pulpen, pensil</li>
3. Pensil warna, spidol   <li>Pensil warna, spidol</li>
4. Gambar/foto seseorang yang akan dikirimi surat   <li>Gambar/foto seseorang yang akan dikirimi surat</li>
Metode  
  </ol>
  <h2>Metode</h2>
Anda bisa memilih cara apapun untuk mengenalkan cara mengekspresikan pikiran dan perasaan. Cara yang saya lakukan terhadap siswa-siswa saya adalah dengan memfasilitasi rasa kangen mereka terhadap guru pengajar muda yang pernah menemani mereka selama satu tahun di pulau matutuang. Rasa kangen mereka terungkap dari pembicaraan mereka yang selalu bercerita mengenai masa-masa indah bersama pak Yuri, sebutan akrab anak-anak kepada Yuri Alfa Centauri, Pengajar Muda angkatan 2 di SDN Matutuang.  Guru bisa memilih metode apapun untuk mengenalkan cara mengekspresikan pikiran dan perasaan. Cara yang saya lakukan terhadap murid-murid saya di SDN Matutuang, Kab. Sangihe  adalah dengan memfasilitasi rasa rindu mereka terhadap guru Pengajar Muda yang pernah menemani mereka selama satu tahun di Pulau Matutuang. Rasa rindu tersebut terungkap dari pembicaraan mereka yang selalu bercerita mengenai masa-masa indah bersama Pak Yuri, sebutan akrab para siswa kepada Yuri Alfa Centauri, Pengajar Muda angkatan 2 di SDN Matutuang.
Langkah-langkah  <h3>Langkah-langkah</h3>
  Tidak semua anak di SD kami bisa menuliskan pikirannya dalam surat. Karena itu, saya sebagai guru perlu melakukan persiapan dan 'pemanasan' sebelum mengajak mereka menulis surat. Berikut ini adalah langkah-langkah saya dalam mengajak siswa mengekspresikan pikiran dan perasaan melalui surat:
  <ol>
1. Anak-anak diceritakan terlebih dahulu tentang komunikasi (apa itu komunikasi, manfaat, cara, media) dengan bahasa yang sederhana.   <li>Guru menjelaskan pada siswa tentang komunikasi (apa itu komunikasi, manfaat, cara, media).</li>
2. Kerucutkan tujuan komunikasi, yang salah satunya adalah mengungkapkan pikiran dan perasaan. Mengungkapkan pikiran misalnya: setuju/tidak setutu, tahu/tidak tahu, paham/tidak paham. Sedangkan perasaan misalnya: suka/tidak suka, senang/tidak senang, marah/tidak marah, kangen/tidak kangen. Dengan begitu anak-anak akan bisa membedakan antara pikiran dan perasaan.   <li>Guru memfokuskan penjelasan pada tujuan komunikasi yang salah satunya adalah mengungkapkan pikiran dan perasaan. Mengungkapkan pikiran misalnya: setuju/tidak setutu, tahu/tidak tahu, paham/tidak paham. Sedangkan perasaan misalnya: suka/tidak suka, senang/tidak senang, marah/tidak marah, kangen/tidak kangen. Dengan begitu anak-anak akan bisa membedakan antara pikiran dan perasaan.</li>
3. Tanyakan kepada anak-anak bagaimana perasaan anak-anak terhadap pak Yuri ( atau subyek lain, sesuai kebutuhan) dan harapan apa yang mereka sampaikan kepada pak Yuri.   <li>Saya menyakan kepada siswa (secara lisan) bagaimana perasaan mereka terhadap Pak Yuri ( atau subyek lain, sesuai kebutuhan) dan harapan apa yang mereka sampaikan kepada Pak Yuri</li>
   <li>Setelah itu, saya meminta anak untuk mengungapkan pikiran dan perasaan mereka yang dituangkan ke dalam secarik kertas. Ungkapan perasaan dan pikiran tersebut boleh berupa tulisan, gambar, atau kombinasi keduanya. Tulisan bisa berupa cerita, prosa, puisi, pantun, dan sebagainya.</li>
  </ol>
  <h2>Lesson Learned</h2>
  Dengan cara menulis surat, siswa belajar untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka secara positif. Hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi mereka bahwa tidak seharusnya dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan itu dengan menggunakan kekerasan.
4. Setelah itu, mintalah anak untuk mengungapkan pikiran dan perasaan mereka yang dituangkan ke dalam secarik kertas. Boleh melalu tulisan, gambar atau kombinasi keduanya. Tulisan bisa berupa cerita, prosa, puisi, pantun, dan sebagainya. Dengan demikian diharapkan kekerasan dapat berkurang. Selain itu, anak-anak secara tidak sadar belajar untuk melakukan sesuatu yang hasilnya untuk orang lain. Jika dilakukan terus menerus, kemampuan anak untuk menulis juga akan melejit.
Lesson Learned   
Dengan cara menulis surat, siswa belajar untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka secara positif. Hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi mereka bahwa tidak seharusnya dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan itu dengan menggunakan kekerasan. Dengan demikian diharapkan kekerasan dapat berkurang.   
Selain itu, anak-anak secara tidak sadar belajar untuk melakukan sesuatu yang hasilnya untuk orang lain. Jika dilakukan terus menerus, kemampuan anak untuk menulis juga akan melejit.  

Note: Spaces may be added to comparison text to allow better line wrapping.

No comments yet.

Leave a Reply