Menghapal Tangga Satuan Panjang dengan Jembatan Keledai

Kelas 4 » Matematika 4 »
Metode » Jembatan Keledai » Cantelan »

Metode :: Jembatan Keledai

Tags: , , , ,

Abstraksi

Tidak semua materi pelajaran matematika bebas dari hapalan. Contohnya adalah materi Konversi Satuan, misalnya satuan panjang. Materi ini dipelajari sejak kelas 3 kemudian diulang lagi pada kelas 4, kelas 5, dan kelas 6.

Masalah yang dihadapi adalah siswa sering lupa atau terbalik urutan satuannya. Salah satu metode untuk mengatasi masalah ini adalah menggunakan Jembatan Keledai dengan permainan kata.

Latar Belakang

Kondisi Siswa

Siswa yang sudah jenuh dan mengantuk merupakan tantangan bagi guru. Materi apapun yang guru sampaikan akan sulit diterima siswa, apalagi bila materi tersebut adalah pelajaran Matematika , diperparah jika materi itu memerlukan hapalan pula :mrgreen: . Salah satu contoh materi tersebut adalah Konversi Satuan.

Kondisi Kelas

Dengan jumlah siswa satu kelas yang cukup banyak, guru perlu usaha lebih keras agar siswa tetap fokus pada pelajaran. Menarik perhatian siswa, salah satunya, bisa dengan cara menyebutkan sesuatu yang tak biasa di kelas. Apalagi pelajaran Matematika, ternyata tak melulu menghitung. Bagaimana jika Matematika bermain dengan kata-kata?

Teori/Penjelasan Materi

Untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan panjang, siswa harus hapal dengan urutan tangga satuan panjang. Jika diurutkan dari yang paling atas ke bawah, yaitu :  km – hm – dam – m – dm – cm – mm.

Satuan Panjang

Satuan Panjang

Masalah yang dihadapi adalah:

  1. Siswa tidak hapal urutan satuan panjang
  2. Urutan yang dihapal terbalik-balik

Kalau sudah seperti itu, kacau sudah jika mereka diminta untuk mengerjakan soal dan ulangan yang berkaitan dengan materi “satuan”.

Untuk mengatasi masalah di atas guru bisa memanfaatkan ‘jembatan keledai’, yaitu mengaitkan suatu kata dengan kata lain, menghubungkan satu satuan dengan suatu kata yang hampir mirip, sehingga menimbulkan kesan yang mendalam dan siswa dapat mengingatnya dengan lebih mudah.

Langkah-langkah

  1. Ketika masuk ke kelas, langsung tuliskan kata-kata ini di kelas.

Kami – Hampir – Demam – Makan – Durian Mentah – Sama – Mangga Mentah

  1. Biarkan dulu siswa bereaksi dan berkomentar, yang penting rebut perhatian mereka agar fokus ke papan tulis.
  2. Minta siswa membaca bersama-sama  dan kemudian tantang mereka untuk menghapalkan kata-kata tersebut dalam waktu singkat.
  3. Coba minta salah satu siswa yang berani menghapal kata-kata tersebut untuk maju ke depan.
  4. Ada atau tidak ada siswa yang hapal, yang penting siswa mulai tertantang dan semakin penasaran dengan kata-kata tersebut.
  5. Mulai jelaskan apa maksud dari kata-kata yang tertulis di papan tulis.

Kami = km (kilometer)

Hampir = hm (hektometer)

Demam = dam (dekameter)

Makan = m (meter)

Durian mentah = dm (desimeter)

Sama = cm (sentimeter)

Mangga mentah = mm (milimeter)

Minta siswa untuk mengingat-ingat sambil memahami makna kata demi kata

Lesson Learned

Kata-kata di atas merupakan contoh. Guru bisa menggantinya dengan kata-kata yang akrab di telinga siswa. Misalnya, kami menggunakan kata ‘demam’ karena akhir-akhir ini banyak siswa yang sedang sakit demam. ‘Durian mentah’ digunakan karena saat itu sedang musim buah durian di desa, hampir setiap hari makan durian. Dan ‘mangga mentah’ dipakai karena hampir setiap rumah memiliki pohon mangga dan mangga mentah menjadi favorit mereka ketika membuat rujak.

Improvisasi

Untuk menguatkan ingatan, guru bisa membuat visualisasi/gerakan dari permainan kata-kata tadi. Saat saya mencoba lagu ini di kelas, ada murid saya yang dengan inisiatifnya sendiri mencoba membuat visualisasi dari kata-katanya :D . Misal :

Kami = menunjuk dirinya sendiri

Hampir = menepuk dahinya

Demam = menumpuk telapak tangannya dan bergaya seperti orang tidur

Makan = bergaya seperti memasukkan makanan ke mulut

Durian mentah = meletakkan tangan seperti membelah durian

Sama = meletakkan telapak tangan yang terbuka di depan dada

Mangga mentah = menirukan gaya merasakan mangga yang asam (mengipas-ngipaskan tangan di depan mulut)

Dengan metode ini, siswa sedikit banyak juga belajar meningkatkan kemampuan linguistiknya dan pemahamannya terhadap Bahasa Indonesia.  Selain itu permainan kata-kata ini membuat siswa dapat menyimpan dalam long term memory.

Revisions

No comments yet.

Leave a Reply