Penerapan Metode Pembelajaran Power Teaching


Metode :: Permainan

Tags: , , , ,

Abstraksi

Tulisan kali ini akan membahas tentang metode pembelajaran yang kami coba pada murid-murid di SDN 7 Paya Bakong, Aceh Utara. Metode ini memiliki konsep yang sama dengan yang diajarkan pada Training Intensif CPM V.

Power Teaching lebih bersifat praktikal: langsung mengarah pada alur serta cara penyampaian materi di kelas. Metode ini sangat memfasilitasi cara belajar . Dengan menggunakan tubuh sebagai peraga, energi berlebih pada siswa yang sangat aktif dapat disalurkan untuk keperluan belajar.

Untuk melaksanakan metode ini, guru dituntut agar kreatif membuat berbagai macam variasi gerakan peraga dan sinyal-sinyal serta seekspresif mungkin ketika menyampaikan materi di depan kelas. Dengan demikian, metode ini juga memfasilitasi proses dua arah.

Latar Belakang

Latar Belakang Penerapan Metode

Penerapan metode ini sebenarnya berawal dari ketertarikan serta karakteristik saya pribadi sebagai orang yang suka bergerak. Gaya belajar dan mengajar saya adalah kinestetik. Selama dua bulan belakangan, di kelas saya kerap mempraktikkan prinsip-prinsip Brain Based Teaching (BBT) ala Bobby Hartanto yang diajarkan pada Training Intensif CPM V, karena konsep ini sangat sesuai dengan diri saya. Ketertarikan pribadi ini membawa saya pada pencarian berbagai metode sejenis di luar sana. Dan secara tidak sengaja saya menemukan konsep Power Teaching ini.

Latar Belakang Kelas

Kebetulan, murid yang saya hadapi juga memiliki karakteristik yang sama yaitu kinestetik. Kelas 5 berisi 28 orang murid dengan jumlah murid laki-laki yang lebih banyak daripada perempuan (20 laki-laki, 8 perempuan).

Suasana kelas selalu gaduh karena murid laki-laki yang sangat aktif gemar berteriak serta berlarian di dalam kelas. Sedangkan murid perempuan cenderung pasif di dalam kelas–padahal jika di luar kelas mereka gemar menari-nari.

Sinyal semacam ‘Perhatian-Siap Siap’ untuk menertibkan kelas serta tepuk kinestetik ‘one, two, three, our, five, six, seven’ ala Bobby Hartanto untuk menyalurkan energi berlebih anak, sudah tidak ampuh lagi karena anak-anak memang cepat merasa bosan.

Lebih jauh tentang karakteristik murid-murid saya, kelancaran ber-Bahasa Indonesia mereka masih rendah (baik baca, bicara, maupun tulis). Itu pula yang membuat saya mencoba metode Power Teaching karena siswa belajar dengan cara bergerak.

Latar Belakang Penyampaian Materi

Secara prinsip, metode Power Teaching dapat diterapkan untuk mata pelajaran apapun. Saya juga telah menerapkannya di dalam berbagai mata pelajaran. Namun pada tulisan kali ini saya akan membahas untuk mata pelajaran matematika dengan tema kubus dan balok (perbedaan, ciri-ciri, serta rumus untuk mengukur volume).

Beberapa minggu sebelumnya, tema ini telah diajarkan oleh guru yang saya gantikan. Saya juga telah mengulang kembali materi tersebut dengan menggunakan alat peraga kubus dan balok berbahan plastik. Namun hasilnya belum sesuai harapan. Murid-murid saya masih kesulitan membedakan antara kubus dan balok. Karena itu, di minggu berikutnya saya mencoba mengajarkan hal yang sama dengan cara yang berbeda yaitu dengan metode Power Teaching ini.

Tentang Power Teaching dan Penerapannya di Kelas

Power teaching adalah suatu bentuk reformasi paradigma mengajar yang berbasis pada strategi pengajaran interaktif. Dengan konsep well-designed learning games, berikut adalah enam teknik pengajaran Power Teaching:

1. Class-Yes

Teknik ini digunakan pada saat kita ingin menarik perhatian seluruh kelas dengan cepat. Guru berseru memanggil seluruh kelas: “Claaassss….” dan murid harus langsung menjawab seruan guru dengan menjawab serempak: “Yeeessss…”. Pada intinya ini serupa dengan bentuk sinyal “Perhatian-siap siap” yang biasa murid saya praktikkan. Namun, siswa saya ternyata lebih tanggap dengan “Class-Yes”. Mungkin karena mereka merasa ini hal yang baru dibandingkan dengan “Perhatian-Siap siap” yang telah dipraktekkan dari masa Pengajar Muda yang pertama di tempat saya.

Sebelum itu, saya juga telah mencoba mengubah seruan “Class-Yes” tersebut menjadi “Kelas-Yap Yap”, tapi malah jadi terdengar aneh dan ditertawakan oleh para murid :mrgreen: . Pada akhirnya saya memilih untuk tetap menggunakan seruan dalam bahasa Inggris karena anak-anak menganggap itu keren. Sekalian juga, mengenalkan kosa kata Bahasa Inggris pada mereka.

Dalam menggunakan seruan “Class-Yes”, dalam konsep Power Teaching, guru bisa memvariasikan nada suara di setiap seruan, seekspresif mungkin. Saya pernah coba, satu kali saya menyerukan “Claaaasss” dengan nada menggeram (dan siswa harus menjawab Yes dengan nada yang sama). Kemudian saya mengubahnya jadi nada mencericit, berbisik, bercengkok India, bernada seperti raksasa, dll. Agar lebih ‘nendang’ kita juga bisa memadukan variasi nada seruan dengan ekspresi wajah dan gerakan yang sesuai.  Setelah saya coba, hal ini membuat membuat siswa saya tampak senang dan bersemangat untuk menjawab seruan–dan dengan begitu kelas menjadi lebih mudah untuk fokus.     

2. Teach-Okay (brain activator)

Ini adalah skill mengajar yang paling krusial dalam konsep Power Teaching. Penelitian menunjukkan bahwa siswa paling banyak belajar ketika mereka mengajar. Gaya Power Teaching tidak mengedepankan metode ceramah oleh guru. Dalam metode ini, guru bisa mencoba berbicara dengan padat dan singkat kemudian meminta siswa untuk mengulangi apa yang telah guru ucapkan kepada teman sebangkunya dengan menggunakan gestur-gestur yang kreatif (guru bisa memperagakan gestur-gesturnya terlebih dahulu). Pada saat siswa sedang saling mengajar, guru berkesempatan untuk memonitor tingkat komprehensi setiap siswa di kelas.

Jangan lupa, untuk memberikan gestur dan seruan khusus sebagai pertanda bagi anak-anak untuk memulai proses saling mengajar. Tetap, jangan lupa untuk memvariasikan gestur dan nada suara di tiap perintah. Di kelas saya melakukan gestur tepukan dan gerakan tangan kemudian berseru “teach!”, kemudian anak-anak langsung mengikuti gestur tepukan dan gerakan tangan yang saya lakukan namun berseru “Okay!” (lalu langsung berbalik pada teman sebangkunya untuk saling mengajar dengan gestur). Lalu saya akan berkeliling kelas untuk melihat apakah anak-anak mengajarkan hal yang sama dengan yang saya bicarakan di depan kelas.

Hal yang pasti jika menggunakan metode saling mengajar ini adalah kelas akan menjadi sangat ribut karena seluruh kelas berbicara bersama. Anda yang mengharapkan situasi kelas yang tertib dan penuh disiplin, tentu tidak cocok dengan metode ini. Namun, saya pribadi sangat menyukai suasana kelas yang ribut—dalam artian seluruh siswa aktif mengikuti aktivitas kelas. dengan menggunakan metode saling mengajar, siswa tidak hanya terpaku mendengarkan penjelasan guru, melainkan saling mengajari satu sama lain dengan cara yang seperti permainan. Selain itu, saya juga turut menanamkan nilai moral dari metode saling mengajar ini (mengingat karakteristik siswa saya yang enggan berbagi dengan teman-temannya): bahwa semua yang ada di dalam kelas ini adalah sahabat. Maka sebagai sahabat, bila memiliki ilmu, harus saling berbagi dengan satu sama lainnya.

3. Micro Lecture

Dalilnya adalah ini: semakin panjang Anda berbicara, semakin mengantuk anak-anak dibuatnya. Dalam Power Teaching, tidak ada yang namanya berceramah di sepanjang jam pelajaran. Guru harus membagi materi yang akan disampaikan menjadi beberapa chapter yang padat dan singkat di tiap chapter-nya. Jangan lupa di tiap chapter diselingi dengan perintah untuk saling mengajarkan pada teman sebangkunya.

Pada saat kelas matematika tentang kubus dan balok, saya membagi penjelasan materi menjadi 5 chapter.

  1. Perbedaan antara bangun ruang dan bangun datar: Bangun ruang bisa diisi air dan bangun datar tidak bisa diisi air.
  2. Ciri-ciri balok: dari persegi panjang, ada yang lebih panjang.
  3. Ciri-ciri kubus: dari persegi, semuanya sama
  4. Rumus volume balok: panjang x lebar x tinggi
  5. Rumus volume kubus: sisi x sisi x sisi

Perhatikan bahwa saya menggunakan bahasa yang lebih mudah dicerna dan dibayangkan oleh anak-anak. Selain itu saya juga menggunakan penanda gestur agar anak-anak lebih mudah mengingat di long term memory.Contohnya ketika saya menyebut bangun ruang, saya mengembangkan kedua tangan saya ke arah samping kiri dan kanan seperti ada sesuatu yang mengembang (memiliki ruang). Lalu ketika saya menyebut bangun datar, saya menempelkan kedua telapak tangan saya dan membuat gerakan seperti meremas untuk menandakan bahwa bangun datar tidak memiliki ruan

4. Scoreboards

Papan skor adalah sistem apresiasi dan penilaian siswa. Terbagi menjadi dua kategori, baik dan kurang baik, dilambangkan dengan muka tersenyum dan muka cemberut.  Setiap chapter, setelah siswa selesai melakukan proses saling mengajar, guru langsung memberikan tanda turus (|) pada papan skor sesuai dengan hasil pengamatan guru. Bila dia menganggap bahwa siswa telah melakukan tugas mengajarnya dengan baik secara keseluruhan, maka ia memberi tanda turus di lambang muka cemberut dan sebaliknya. Di akhir pelajaran, jumlah turus pada papan skor, memiliki konsekuensi. Konsekuensinya, bisa ditentukan oleh guru atau disepakati oleh seluruh kelas. Misalnya: lebih banyak atau lebih sedikit pekerjaan rumah atau lebih banyak atau lebih sedikit waktu istirahat.

Pada saat di kelas, saya menggunakan papan skor muka tersenyum dan muka cemberut dengan konsekuensi lebih banyak atau lebih sedikit waktu istirahat. Pertimbangan saya dalam memberikan tanda turus (apakah di muka tersenyum ataukah di muka cemberut) sebenarnya didasarkan pada seberapa baik anak-anak menyampaikan materi kepada teman sebangkunya. Namun, kepada anak-anak saya sengaja mengatakan bahwa saya menilai mereka berdasarkan seberapa bersemangatnya mereka melakukan gerakan-gerakan. Alasannya, karena saya ingin mengubah perilaku anak-anak yang amat berorientasi pada nilai (tidak peduli salah atau benar, tidak peduli paham atau tidak, tidak peduli mengerjakan sendiri atau mencontek, yang penting dapat nilai dari guru). Dan penggunaan papan skor ini amat sesuai dengan tujuan saya. Jika saya bilang: “Aduh, anak-anak kalian ini lemas sekali gerakannya terpaksa ibu kasih di muka sedih” Maka anak-anak langsung bersemangat melakukan gerakan dengan penuh energi (yang tanpa sadar, sebenarnya ini membuat mereka menyampaikan materi pelajaran dengan lebih baik lagi).

Tetap jangan lupakan gestur dan nada suara sebagai penyegar proses pengajaran. Bila saya memutuskan untuk memberi tanda turus di lambang muka tersenyum, maka anak-anak akan berseru “Oh yeah!” dengan nada bersemangat sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. Dan bila dengan sangat terpaksa, saya harus memberi tanda turus di lambang muka sedih, maka anak-anak akan berseru “Ooooohhhh…” dengan nada menggerutu sambil tangan bergerak mengucek mata (seperti menangis).

5. Hands and Eyes

Tangan dan mata adalah organ tubuh yang paling berharga dalam Power Teaching. Kedua organ ini adalah alat utama sang guru untuk mendapatkan perhatian yang maksimum dari siswa. Well, dengan ataupun tanpa teknik ini, memang sudah menjadi kebiasaan saya–yang berkarakter kinestetik–untuk selalu menggerak-gerakkan tangan dan badan bila sedang berbicara di depan umum. Jadi tentu saja ini sebuah keuntungan, bahwa ternyata kebiasaan saya ini ada manfaatnya untuk mengajar 😛 Memang, terkadang saya ditertawakan oleh anak-anak di kelas, karena kelewat aktif dalam bergerak. Tapi saya merasakan sendiri bahwa dengan aktifnya kedua organ tubuh itu dalam mengajar, itu menunjukkan bahwa kita memiliki energi yang maksimal serta perhatian yang penuh pada setiap anak-anak di kelas dan tentu saja, anak-anak akan membalas dengan tingkat energi dan perhatian yang sama.

6. Comprehension Check

Bagaimana Anda bisa tahu bahwa Anda telah berhasil mengajar dan anak-anak telah memahami dengan baik apa yang Anda ajarkan? Utamanya adalah dengan berputar ke sekeliling kelas untuk mengamati dan mencuri dengar proses saling mengajar pada siswa. Kemudian, untuk memastikan bahwa anak-anak telah mengingat materi, saya melakukan prinsip pengulangan. Sempat juga saya mengetes mereka beberapa hari setelah proses pembelajaran dan hasilnya cukup memuaskan saya. Cukup banyak anak yang masih mengingat apa yang telah kami pelajari. Kalaupun lupa, saya tinggal melakukan gestur penanda terhadap apa yang mereka lupakan, dan mereka pun akan langsung teringat.

Penutup

Tentu saja, keberhasilan pembelajaran dengan metode Power Teaching ini masih harus dilihat hasil jangka panjangnya. Mengingat baru sekitar 2 bulan saya menerapkannya (itu pun tidak di setiap materi ataupun mata pelajaran). Namun sejauh ini saya melihat hasil yang cukup positif dari anak-anak. Mungkin hanya satu yang masih menjadi PR bagi saya untuk diselesaikan, yaitu pada dasarnya anak-anak bisa mengingat materi dengan baik tetapi belum bisa mengaplikasikan apa yang diingat ke dalam pengerjaan soal.

Kredit

Penjelasan tentang prinsip Power Teaching ini saya sarikan dari video tutorial Power teaching the Basics dari Chris Biffle, seorang praktisi pendidikan dari Amerika.

Revisions

2 Responses to “Penerapan Metode Pembelajaran Power Teaching”

  1. adeng 28 April 2013 at 20:33 #

    da ga buku yang menjelaskan power teaching ini

  2. isti 1 July 2016 at 13:13 #

    ok bingit …

Leave a Reply