Kelas Imajinasi: Berpikir di Luar Batas

Kelas 3 »
Pendidikan Karakter »
Kelas 4 »

Tags: , ,

Abstraksi

Pada bahasan kali ini, saya akan menceritakan bentuk pengajaran yang kami terapkan di kelas untuk merangsang daya berpikir siswa-siswa. Kegiatan ini kami sebut adalah kelas , suatu kegiatan yang (rencananya) akan menjadi suatu ‘program’ dengan banyak sesi di sela-sela pengajaran materi kurikulum dengan tema yang bervariasi di setiap sesinya. Tujuan besarnya adalah untuk ‘memerangi’ budaya berkata ‘tidak bisa’ sebelum mencoba–yang kerap ditunjukkan oleh murid-murid saya di sini.

Latar Belakang

3 Orang Siswa Menggambarkan Imajinasinya

3 Orang Siswa Menggambarkan Imajinasinya

Ide ini berawal dari kebosanan saya mendengar murid-murid saya yang mudah sekali berkata ‘han jeut’ atau tidak bisa—padahal belum mencobanya sama sekali ketika berkata seperti itu. Selain itu, murid-murid saya cenderung hanya melakukan apa yang diperintahkan dan tidak berani untuk berbeda maupun bereksperimen/berkreasi.

Misalnya saat saya meminta mereka untuk mengerjakan sesuatu, mereka sering sekali sedikit-sedikit bertanya akan hal yang sebenarnya bukan suatu masalah. Seperti: “Pakai pensil atau pulpen?”, “Diberi nomor atau tidak?”, “Boleh ditulis atau tidak?”, dan hal-hal semacam itu. Dari situlah ide Kelas Imajinasi muncul.

Ide besar Kelas Imajinasi adalah mendorong anak-anak untuk berpikir di luar batas serta menyadarkan bahwa apa yang dianggap ‘tidak bisa’ itu seringkali hanya ada di alam pikiran saja. Rencananya Kelas Imajinasi ini akan dilaksanakan dalam beberapa sesi di sela-sela pengajaran materi kurikulum, dengan tema yang berbeda serta berbagai variasi kegiatan. Sejauh ini, saya baru menjalankan satu tema yang saya laksanakan di dua kelas yaitu kelas III dan IV SDN 7 paya Bakong, Aceh Utara.

Pelaksanaan

Pada pelaksanaan Kelas Imajinasi sesi pertama, tema yang diangkat adalah: “Bayangkan apa saja, jadilah apa saja”. Inti dari tema ini adalah mempersuasi para siswa untuk berpikir atau bertanya seliar mungkin. Saya yakin, anak-anak kaya akan rupa-rupa khayalan, keinginan, atau pertanyaan. Namun, mereka terlalu takut untuk mengungkapkannya hanya karena pikiran tersebut dianggap terlalu aneh dan mengada-ngada.

Di akhir sesi, saya ingin membuat anak-anak mengetahui bahwa banyak sekali penemuan terbesar di dunia, berasal dari pemikiran terliar. Sehingga, tidak perlu takut untuk memiliki pemikiran seperti itu.

Apersepsi

Pertama, guru meminta perwakilan tiga orang siswa untuk menggambar suatu alat atau kendaraan di depan kelas. Di kelas tiga, tiga perwakilan siswa tersebut menggambar rumah, helikopter, dan sepeda motor. Dari situ guru menjelaskan bahwa tiga benda yang siswa gambar tersebut adalah hasil dari penemuan. Penemuan tersebut bisa tercipta karena para penemunya berimajinasi tentang suatu hal yang mereka inginkan tetapi dianggap tidak mungkin pada waktu itu. Tetapi sang penemu tidak menyerah dan berkata ‘tidak mungkin’. Setelah sang penemu berusaha berkali-kali maka jadilah alat-alat tersebut. Contohnya pesawat.

Pesawat berasal dari imajinasi seseorang yang ingin terbang. Dia dianggap gila, karena mana mungkin manusia bisa terbang. Tetapi dia berkata ‘pasti bisa’ lalu dia berusaha membuat mimpinya jadi kenyataan. Hasilnya adalah terciptanya pesawat terbang.

Dari situ, anak-anak kemudian mengenal kosakata baru yaitu imajinasi dan guru menjelaskan artinya pada mereka.

Kegiatan Inti

Guru meminta anak-anak untuk berpura-pura ‘tidur siang’ dan bermimpi (mereka memejamkan mata dan membayangkan segala keinginan mereka yang aneh dan luar biasa). Lalu, guru meminta mereka menuliskan -mimpi mereka di selembar kertas, sebanyak-banyaknya.

Pada awalnya, tidak ada satupun murid yang berani memulai. Ada juga yang takut-takut dan bertanya berkali-kali ‘ini  boleh bu, ini bisa bu”, dan semacamnya. Pada akhirnya saya juga ‘ikut tidur’ siang dan menceritakan mimpi saya: ‘aku ingin menembus tembok, membelah diri jadi dua, dan memindahkan kepala di kaki dan kaki di kepala’.

Setelah diberikan  stimulus seperti itu, barulah anak-anak berani untuk menuliskan mimpi dan keinginan terliar mereka dengan bersemangat.  Bahkan di kelas empat, lama-kelamaan mereka makin liar saja menuliskan keinginan dan enggan berhenti (saya sampai harus menambah kertas untuk menulis hingga dua kali).

Penutup

Setelah selesai menuliskan imajinasi masing-masing, saya meminta mereka untuk membaca keras-keras imajinasi masing-masing, memasukkannya ke dalam otak (dengan melakukan gestur kedua tangan seperti meraup sesuatu kemudian menempelkannya di dahi), sambil berkata ‘aku bisa’ sebanyak tiga kali. Kemudian saya berpesan untuk selalu mencatat dan menyimpannya baik-baik setiap kali mereka memiliki imajinasi baru.

Beberapa Imajinasi Mereka

Jumadil Awal (Kelas III): ‘Kenapa si aku tidak bisa  berjalan di air karna aku sagat suka berjalan di air… aku juga pegen sekali terbang ke sana ke gunung merapi dan kenaoa ya buk gunung bisa besar sekali kenapa bisa begitu’

“Aku pingin bisa pukul hantu. Aku bisa makan tembok”
Wahyudi (Kelas III)

“Aku pingin kepalaku tidak ada. Aku pengeng masuk dalam semen. Aku pengeng makan bintang dan bulan”
Hayatun (Kelas III)

“Kenapa ya burung bisa punya sayap tapi aku tidak aku pingin punya sayap. Aku juga ingin menjadi rumah yang paling indah”
Rouzatul Jannah (Kelas IV)

“Aku ingin menjadi merpati”
Nurafni (kelas IV)

“Aku ingin menjadi betmen”
Mutia (Kelas IV)

Lesson Learned

Secara pribadi, hanya dengan menunjukkan bahwa mereka akhirnya berani untuk menuliskan (juga menghias) segala macam imajinasi mereka tanpa sedikit-sedikit bertanya, saya sudah cukup puas dengan pelaksanaan Kelas Imajinasi di dua kelas (III dan IV) tersebut. Walaupun memang ada juga anak yang mencontek dengan menulis imajinasi saya ataupun imajinasi temannya dengan sama persis. Tetapi untuk anak-anak yang lain saya cukup terkejut dengan alam pikiran mereka. Betapa menakjubkannya daya imajinasi anak-anak –bila mereka dibebaskan untuk melakukannya.

Selain itu, dengan  menuliskan hasil imajinasi mereka di dalam kertas, itu juga sebagai sarana latihan untuk meningkatkan keterampilan anak-anak dalam menulis dalam bahasa Indonesia. Di mana ini sangat menunjang program lain yaitu ‘terampil berbahasa Indonesia’ yang saya canangkan (murid-murid saya memiliki kemampuan berbahasa Indonesia, baik lisan maupun tulisan, yang amat minim).

Revisions

6 Responses to “Kelas Imajinasi: Berpikir di Luar Batas”

  1. agung yansusan 18 March 2013 at 16:47 #

    kereeeen! saluuut! ini bisa dipraktekan ke org dewasa seperti pelatihan pns, karyawan dll 😀
    salam kenal

  2. Cahaya Ramadhani
    Cahaya Ramadhani 24 March 2013 at 21:49 #

    Terimakasih banyak. salam kenal 🙂

  3. Cahaya Ramadhani
    Cahaya Ramadhani 28 March 2013 at 22:10 #

    Oiya? hahaha aku gak tau. Haloooooooo!!

  4. afeef.arifin@yahoo.co.id
    Afif Arifin 13 April 2013 at 06:23 #

    Berani dan sangat membantu, sebagai referensi untuk mengajar di Sabah, Malaysia. Meskipun bukan PM Indonesia Mengajar :-p
    Mirip dengan cerita di film produksi India “Taare Zameen Par” dan Produk Amrik “Freedom Writer”

  5. Kristyanto Buulolo 16 July 2013 at 15:26 #

    wowwww, keren banget…..
    thanks banget…..bisa dicoba neh di kelas saya nantinya

Leave a Reply