Revision 4404 is a pre-publication revision. (Viewing current revision instead.)

Kelas Profesi “Guru”

AbstraksiKelas Profesi Guru - Ruang Belajar - Suhariyanto (2)

Ketika murid-murid saya diminta membuat pohon , banyak yang ingin menjadi Guru. Menjadi Guru tentunya dibutuhkan kemampuan menyampaikan sebuah materi dan kemampuan untuk berbicara di depan anak didik. Untuk melatih siswa-siswi sekaligus mengembangkan minat bakatnya, tidak ada salahnya kita berikan kesempatan kepada anak-anak tersebut.  Kali ini saya akan berbagi dan bercerita tentang pengalaman memberikan jam kepada siswa-siswi untuk melatih kepercayaan diri berbicara di depan umum.

Latar Belakang

Tentunya pernah sekali dua kali terjadi bahwa guru berhalangan hadir? Bayangkan seandainya banyak guru yang berhalangan hadir karena sakit atau urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan dalam waktu bersamaan. Pasti akan sedikit membuat guru yang hadir “berpikir dua kali” untuk mengendalikan semua kelas. Lebih-lebih usia anak-anak adalah usia bermain, sehingga pasti akan kehabisan tenaga jika mengajar enam kelas langsung. Langkah ini saya lakukan ketika banyak guru berhalangan hadir di SD 38 Sekodi, Kab. Bengkalis, Riau. Dengan kondisi enam rombel, tentunya tidak banyak yang bisa dilakukan jika hanya seorang guru yang mengelola semua kelas. Terbesit langkah, kenapa tidak memberikan kesempatan kepada siswa-siswa kelas atas (kelas 4, kelas 5, dan kelas 6) untuk mengajar adik kelasnya? Selain bisa membantu mengelola semua kelas,  cara tersebut bisa melatih siswa-siswi untuk mengembangkan minat dan bakatnya dalam mengajar, menyampaikan materi sekaligus menguji pemahaman anak. Selain itu, kegiatan ini juga mengasah kemampuan para siswa untuk berbicara di depan umum. Menakjubkan memang ketika kita bisa memfasilitasi sekaligus mengembangkan soft competency mereka. Kitapun bisa fokus mengelola kelas yang lain. Selain itu, cara ini juga merupakan bentuk apresiasi tersendiri bagi siswa penyampai karena mereka merasa dipandang bisa dan mampu menjadi guru. Tak ada salahnya kesempatan ini diberikan di usia sekolah dasar agar di jenjang pendidikan berikutnya anak tidak “panas dingin” ketika diminta berbicara di depan kelas.
Mengajar melatih rasa percaya diri siswa

Mengajar melatih rasa siswa

Alur Pelaksanaan

Untuk melakukan hal tersebut kita bisa melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
  1. Guru mencari dan menggali minat bakat siswa, siapa yang memiliki minat mengajar dan ingin menjadi guru. Biasanya mereka akan antusias ketika diberi kesempatan mengajar. Sebagai guru pasti kita sudah tahu sedikit banyak tentang minat bakat si murid.
  2. Prinsip daam metode ini adalah kelas besar mengajar kelas kecil. Jadi siswa kelas 4,5,6 bisa mengajar kelas 1, 2, dan 3.
  3. Jika si murid yakin dan percaya diri untuk mengajar sendiri di kelas, lebih baik guru memberikan kesempatan mengajar sendirian. Jika tidak, bisa dimodifikasi dengan mengajar berdua, bertiga, atau berempat agar siswa semakin percaya diri.
  4. Materi bisa disesuaikan dengan kemampuan anak (kemampuan penyampai dan penerima materi).
  5. Guru sebagai fasilitator atau mentor bagi anak yang meyampaikan materi. Di akhir sesi bisa dikembangkan dengan refleksi tentang perasaan  anak setelah menyampaikan materi.
  6. Metode ini bisa menjadi alternatif untuk mengembangkan jiwa mandiri anak dalam belajar. Kegiatan ini bisa ditindaklanjuti dengan membagi jadwal kepada anak-anak yang berminat mengajar dan melaksanakannya berkala dan persiapan yang matang. Sekaligus bisa dilanjutkan dengan program “mentor – mentee” di luar kelas.

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang dibutuhkan sebenarnya sangat kondisional. Hal utama adalah spidol papan tulis atau kapur untuk mengajar. Namun, tidak menutup kemungkinan bahan-bahan penunjang yang dibutuhkan dalam penyampaian materi hari itu untuk membekali siswa.

Kelas Profesi Guru - Ruang Belajar - Suhariyanto (1)Manfaat

Melalui kelas ini murid akan dilibatkan secara langsung menjadi seorang guru. Bagi murid, pengalaman ini akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri sehingga kepercayaan diri anak semakin meningkat (self esteem semakin meningkat). Selain itu, pengalaman seperti ini sangat bagus untuk melatih kemampuan mengajar anak dan .

Revisions

Revision Differences

March 29, 2013 @ 13:39:49Current Revision
Content
<h2>Abstraksi</h2>  
  <h2>Abstraksi<a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2013/03/ Kelas-Profesi-Guru-Ruang- Belajar-Suhariyanto-2.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-4433" alt=" Guru - Ruang Belajar - Suhariyanto (2)" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2013/03/ Kelas-Profesi-Guru-Ruang- Belajar-Suhariyanto- 2-224x300.jpg" width="224" height="300" /></a></h2>
Ketika anak-anak diminta membuat pohon cita-cita, banyak yang ingin menjadi Guru. Menjadi Guru tentunya dibutuhkan kemampuan menyampaikan sebuah materi dan kemampuan untuk berbicara di depan anak didik. Untuk melatih siswa-siswi sekaligus mengembangkan minat bakatnya, tidak ada salahnya kita berikan kesempatan mengajar kepada anak-anak tersebut.  Kali ini saya akan berbagi dan bercerita tentang pengalaman memberikan jam mengajar kepada siswa-siswi untuk melatih kepercayaan diri berbicara di depan umum.  Ketika murid-murid saya diminta membuat pohon cita-cita, banyak yang ingin menjadi Guru. Menjadi Guru tentunya dibutuhkan kemampuan menyampaikan sebuah materi dan kemampuan untuk berbicara di depan anak didik. Untuk melatih siswa-siswi sekaligus mengembangkan minat bakatnya, tidak ada salahnya kita berikan kesempatan mengajar kepada anak-anak tersebut.  Kali ini saya akan berbagi dan bercerita tentang pengalaman memberikan jam mengajar kepada siswa-siswi untuk melatih kepercayaan diri berbicara di depan umum.
<h2>Latar Belakang</h2> <h2>Latar Belakang</h2>
Tentunya pernah sekali dua kali terjadi bahwa guru berhalangan hadir? Bayangkan seandainya banyak guru yang berhalangan hadir karena sakit atau urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan dalam waktu bersamaan. Pasti akan sedikit membuat guru yang hadir “berpikir dua kali” untuk mengendalikan semua kelas. Lebih-lebih usia anak-anak adalah usia bermain, sehingga pasti akan kehabisan tenaga jika mengajar enam kelas langsung. Tentunya pernah sekali dua kali terjadi bahwa guru berhalangan hadir? Bayangkan seandainya banyak guru yang berhalangan hadir karena sakit atau urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan dalam waktu bersamaan. Pasti akan sedikit membuat guru yang hadir “berpikir dua kali” untuk mengendalikan semua kelas. Lebih-lebih usia anak-anak adalah usia bermain, sehingga pasti akan kehabisan tenaga jika mengajar enam kelas langsung.
  Langkah ini saya lakukan ketika banyak guru berhalangan hadir di SD 38 Sekodi, Kab. Bengkalis, Riau. Dengan kondisi enam rombel, tentunya tidak banyak yang bisa dilakukan jika hanya seorang guru yang mengelola semua kelas. Terbesit langkah, kenapa tidak memberikan kesempatan kepada siswa-siswa kelas atas (kelas 4, kelas 5, dan kelas 6) untuk mengajar adik kelasnya? Selain bisa membantu mengelola semua kelas,  cara tersebut bisa melatih siswa-siswi untuk mengembangkan minat dan bakatnya dalam mengajar, menyampaikan materi sekaligus menguji pemahaman anak.
Langkah ini saya lakukan ketika banyak guru berhalangan hadir di SD 38 Sekodi. Dengan kondisi enam kelas, tentunya tidak banyak yang bisa dilakukan jika hanya seorang guru yang handle semua kelas. Terbesit langkah, kenapa tidak memberikan kesempatan kepada anak-anak kelas atas untuk mengajar kelas bawah? Selain bisa membantu meng-handle semua kelas,  cara tersebut bisa melatih siswa siswi untuk mengembangkan minat dan bakatnya dalam mengajar, menyampaikan materi sekaligus menguji pemahaman anak. Selain itu, anak-anak semakin terbiasa berbicara di depan kelas supaya <i>public speakingnya</i>-pun semakin terasah. Menakjubkan memang ketika kita bisa memfasilitasi sekaligus mengembangkan <i>soft competency</i> mereka. Kitapun bisa <i>focus</i> meng-<i>handle</i> kelas yang lain. Selain itu, cara ini juga merupakan bentuk apresiasi tersendiri bagi siswa penyampai karena mereka merasa dipandang bisa dan mampu menjadi guru. Tak ada salahnya kesempatan ini diberikan di usia Sekolah Dasar agar di jenjang pendidikan berikutnya anak tidak “panas dingin” ketika diminta berbicara di depan kelas.  Selain itu, kegiatan ini juga mengasah kemampuan para siswa untuk berbicara di depan umum. Menakjubkan memang ketika kita bisa memfasilitasi sekaligus mengembangkan <i>soft competency</i> mereka. Kitapun bisa fokus mengelola kelas yang lain. Selain itu, cara ini juga merupakan bentuk apresiasi tersendiri bagi siswa penyampai karena mereka merasa dipandang bisa dan mampu menjadi guru. Tak ada salahnya kesempatan ini diberikan di usia sekolah dasar agar di jenjang pendidikan berikutnya anak tidak “panas dingin” ketika diminta berbicara di depan kelas.
  <a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2013/03/ Kelas-Profesi-Guru-Ruang- Belajar-Suhariyanto-3.jpg"><img class=" wp-image-4434 " alt="Mengajar melatih rasa percaya diri siswa" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2013/03/ Kelas-Profesi-Guru-Ruang- Belajar-Suhariyanto-3.jpg" width="498" height="250" /></a> Mengajar melatih rasa percaya diri siswa
<h2>Alur Pelaksanaan</h2> <h2>Alur Pelaksanaan</h2>
Untuk melakukan hal tersebut kita bisa melakukan langkah-langkah sebagai berikut : Untuk melakukan hal tersebut kita bisa melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
<ol> <ol>
<li>Cari dan gali minat bakat anak, siapa yang memiliki minat mengajar dan ingin menjadi guru. Biasanya mereka akan antusias ketika diberi kesempatan mengajar. Sebagai guru pasti kita sudah tahu sedikit minat bakat si anak.</li>   <li>Guru mencari dan menggali minat bakat siswa, siapa yang memiliki minat mengajar dan ingin menjadi guru. Biasanya mereka akan antusias ketika diberi kesempatan mengajar. Sebagai guru pasti kita sudah tahu sedikit banyak tentang minat bakat si murid.</li>
<li>Prinsip daam metode ini adalah kelas besar mengajar kelas kecil. Jadi siswa kelas 4,5,6 bisa mengajar kelas 1, 2, dan 3.</li>  <li>Prinsip daam metode ini adalah kelas besar mengajar kelas kecil. Jadi siswa kelas 4,5,6 bisa mengajar kelas 1, 2, dan 3.</li>
<li>Jika anak yakin dan percaya diri untuk mengajar sendiri di kelas, lebih baik berikan kesempatan mengajar sendirian. Jika tidak, bisa dimodifikasi dengan mengajar berdua, bertiga atau berempat agar siswa semakin percaya diri.</li>   <li>Jika si murid yakin dan percaya diri untuk mengajar sendiri di kelas, lebih baik guru memberikan kesempatan mengajar sendirian. Jika tidak, bisa dimodifikasi dengan mengajar berdua, bertiga, atau berempat agar siswa semakin percaya diri.</li>
<li>Materi bisa disesuaikan dengan kemampuan anak (kemampuan penyampai dan penerima materi).</li>  <li>Materi bisa disesuaikan dengan kemampuan anak (kemampuan penyampai dan penerima materi).</li>
<li>Guru sebagai fasilitator atau mentor bagi anak yang meyampaikan materi. Di akhir sesi bisa dikembangkan dengan refleksi tentang perasaan  anak setelah menyampaikan materi.</li>  <li>Guru sebagai fasilitator atau mentor bagi anak yang meyampaikan materi. Di akhir sesi bisa dikembangkan dengan refleksi tentang perasaan  anak setelah menyampaikan materi.</li>
<li>Metode ini bisa menjadi alternatif untuk mengembangkan jiwa mandiri anak dalam belajar. Kegiatan ini bisa ditindaklanjuti dengan membagi jadwal kepada anak-anak yang berminat mengajar dan melaksanakannya berkala dan persiapan yang matang. Sekaligus bisa dilanjutkan dengan program “mentor – mentee” di luar kelas.</li>  <li>Metode ini bisa menjadi alternatif untuk mengembangkan jiwa mandiri anak dalam belajar. Kegiatan ini bisa ditindaklanjuti dengan membagi jadwal kepada anak-anak yang berminat mengajar dan melaksanakannya berkala dan persiapan yang matang. Sekaligus bisa dilanjutkan dengan program “mentor – mentee” di luar kelas.</li>
</ol> </ol>
<h2>Alat dan Bahan</h2> <h2>Alat dan Bahan</h2>
Alat dan bahan yang dibutuhkan sebenarnya sangat kondisional. Hal utama adalah Spidol Papan tulis untuk mengajar. Namun, tidak menutup kemungkinan bahan-bahan penunjang yang dibutuhkan dalam penyampaian materi hari itu untuk membekali siswa.  Alat dan bahan yang dibutuhkan sebenarnya sangat kondisional. Hal utama adalah spidol papan tulis atau kapur untuk mengajar. Namun, tidak menutup kemungkinan bahan-bahan penunjang yang dibutuhkan dalam penyampaian materi hari itu untuk membekali siswa.
<h2>Manfaat</h2>  
  <h2><a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2013/03/ Kelas-Profesi-Guru-Ruang- Belajar-Suhariyanto-1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-4432" alt="Kelas Profesi Guru - Ruang Belajar - Suhariyanto (1)" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2013/03/ Kelas-Profesi-Guru-Ruang- Belajar-Suhariyanto- 1-300x226.jpg" width="300" height="226" /></a>Manfaat</h2>
Melalui kelas proffesi ini akan dilibatkan secara langsung menjadi seorang guru. Bagi anak, pengalaman ini akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri sehingga kepercayaan diri anak semakin meningkat (self esteem semakin meningkat). Selain itu, pengalaman seperti ini sangat bagus untuk melatih kemampuan mengajar anak dan <i>public speaking.</i>  Melalui kelas profesi ini murid akan dilibatkan secara langsung menjadi seorang guru. Bagi murid, pengalaman ini akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri sehingga kepercayaan diri anak semakin meningkat (self esteem semakin meningkat). Selain itu, pengalaman seperti ini sangat bagus untuk melatih kemampuan mengajar anak dan <i>public speaking.</i>

Note: Spaces may be added to comparison text to allow better line wrapping.

No comments yet.

Leave a Reply