Revision 4636 is a pre-publication revision. (Viewing current revision instead.)

Tanggal Berapa Sekarang, Tepuk Berhitung, Siul Berhitung

Calistung »
Ice Breaking »

Metode :: Permainan

Tags: , , , , ,

Abstraksi

Pada bahasan kali ini saya akan menceritakan tentang suatu metode yang hampir selalu saya lakukan di awal sesi kelas di SDN 7 Paya Bakong, Aceh Utara, yaitu '', ' ', serta ''. Ini adalah salah satu cara yang saya buat dengan harapan meningkatkan logika serta kemampuan berhitung siswa. Selain itu, ' berhitung' dan 'siul berhitung' juga berguna sebagai teknik pengendalian kelas dan untuk mempersiapkan siswa sebelum menerima pelajaran selanjutnya.

Latar Belakang

Tanggal Berapa Sekarang

Berawal dari kebiasaan masyarakat setempat yang bila ingin menyebutkan bulan berapa sekarang, tidak pernah menyebutkan nama bulan melainkan angka urutan bulan tersebut.
Contoh: Januari disebut bulan 1, Februari disebut bulan 2, dst.
Hal ini membuat anak-anak tidak terbiasa menggunakan nama-nama bulan dalam penanggalan masehi. Anak-anak juga tidak terlalu familiar dengan penanggalan. Ketika ditanya ‘tanggal berapa hari ini?’, mereka akan kebingungan.

dan Siul Berhitung

Sedangkan untuk 'tepuk berhitung' dan 'siul berhitung', berangkat dari keadaan di mana sebagian besar murid saya belum ahli dalam hitungan dasar (perkalian, pembagian, penjumlahan, dan pengurangan) bahkan di kelas besar sekalipun. Saya ingin meningkatkan kemampuan murid dalam hal itu, namun sayangnya saya tidak mengampu mata pelajaran . Kalaupun mengajar , lebih karena menggantikan guru dan itupun harus mengajarkan sesuai materi kurikulum. Maka, tepuk berhitung dan siul berhitung ini saya ciptakan agar bisa diterapkan kapan saja, di kelas berapa saja, tanpa harus menunggu jam pelajaran .
maga-magak-Ruang-Belajar-Cahaya-Ramadhani

Ice breaking di kelas

Tanggal Berapa Sekarang

Pelaksanaan

Langkah Pertama Guru bertanya pada siswa: ‘Tanggal berapa sekarang?’. Kemudian para siswa langsung berlomba-lomba menjawabnya. Langkah Kedua Misalkan pada hari ini adalah tanggal 13, maka saya akan bertanya tanggal berapakah beberapa hari setelah atau sebelum tanggal hari ini. Misalkan: ‘Tujuh hari sebelum tanggal 13, tanggal berapa?’ Kemudian siswa-siswa akan berlomba-lomba untuk menghitung dan menjawabnya. Intinya ini hanyalah penambahan dan pengurangan sederhana. Langkah Ketiga Namun terkadang saya juga menyelipkan pertanyaan ‘jebakan’ untuk mengasah logika mereka. Misalkan hari ini adalah tanggal 25, saya kemudian bertanya: ‘Kalau begitu 10 hari lagi tanggal berapa?’. Awalnya akan banyak yang menjawab ‘tanggal 35’. Padahal tidak ada tanggal 35. Dari situ, saya jelaskan bahwa untuk bisa menjawab soal dengan benar, mereka terlebih dahulu harus tahu berapa jumlah hari dalam bulan ini (apakah 30 atau 31, ataukah 28/29). Ini mengajarkan mereka tentang jumlah hari dalam satu bulan. Langkah Keempat Kemudian pertanyaan ini akan dilanjutkan dengan ‘bulan berapa sekarang’ dan ‘tahun berapa sekarang’ dan menanyakan hal yang sama (beberapa bulan/tahun sebelum/sesudah bulan/tahun tersebut). Langkah Kelima Jangan lupa untuk memberikan apresiasi bagi siswa yang bisa menjawab dengan benar.

Lesson Learned

Dari permainan ‘Tanggal Berapa Sekarang’, para siswa sudah mengetahui nama-nama dan urutan bulan dalam penanggalan masehi. Para siswa juga sudah mulai paham tentang jumlah hari dalam satu bulan, yang berbeda-beda tergantung nama bulannya. Selain itu, karena siswa-siswa sudah tahu bahwa setiap masuk kelas maka saya akan melakukan permainan ini, mereka pun sudah mempersiapkan jawaban tentang tanggal berapa hari ini. Ini membuat mereka jadi menyadari penanggalan setiap harinya (sebelumnya, selalu guru yang menuliskan tanggal pada hari itu di papan tulis). Kuncinya memang ada pada keteraturan, yaitu permainan ini harus dilaksanakan berulang-ulang agar siswa semakin paham dan terlatih.

Tepuk Berhitung dan Siul Berhitung

Pelaksanaan

Konsepnya sama dengan permainan ‘Tanggal Berapa Sekarang’ yaitu berhitung sederhana. Namun dalam tepuk dan siul berhitung ini, kita bisa juga melakukan perkalian dan pembagian sederhana. Langkah Pertama Guru akan melakukan tepukan atau siulan sesuai dengan jumlah yang guru inginkan. Agar lebih menarik, guru bisa membuat variasi tepukan dan siulan. Guru juga bisa menampilkan ekspresi yang unik agar tambah menarik. Langkah Kedua Setelah melakukan tepukan atau siulan sesuai dengan jumlah yang guru inginkan, guru kemudian akan berkata ditambah, dikurangi, dikali, atau dibagi dengan angka yang guru mau. Lalu para siswa akan berlomba-lomba menjawab. Lakukan berulang-ulang dan jangan lupa berikan apresiasi bagi murid yang bisa menjawab dengan benar.

Lesson Learned

Dari permainan ‘tepuk berhitung’ dan ‘siul berhitung’ yang saya lakukan secara rutin, anak-anak mulai cepat tanggap dalam melakukan hitung-hitungan. Walaupun dalam hal pengurangan dan pembagian, masih agak kurang. Dari pelaksanaan ‘tepuk berhitung’ dan ‘siul berhitung’ ini, saya juga menemukan fakta bahwa ternyata permainan ini bisa juga menjadi teknik pengendalian kelas. Sebabnya, permainan ini mengharuskan para siswa untuk fokus dan memperhatikan berapa kali guru melakukan tepukan atau siulan. Secara tidak langsung, para siswa pun menjadi diam dan tertib. Permainan ini juga sebagai pemanasan agar siswa siap untuk menerima pelajaran selanjutnya.

Revisions

Revision Differences

April 14, 2013 @ 00:04:20Current Revision
Content
<p><img class="alignleft size-full wp-image-4632" alt="maga magak" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2013/04/ maga-magak.jpg" width="1024" height="578" /></p>  
<p><strong>Abstraksi</strong><br />  
  <h2>Abstraksi</h2>
Pada bahasan kali ini saya akan menceritakan tentang suatu metode yang hampir selalu saya lakukan di awal sesi kelas di SDN 7 Paya Bakong, Aceh Utara, yaitu tanggal berapa sekarang, tepuk berhitung, serta siul berhitung. Ini adalah salah satu cara yang saya buat dengan harapan meningkatkan logika serta kemampuan berhitung anak. Selain itu, tepuk berhitung dan siul berhitung juga berguna sebagai teknik pengendalian kelas dan untuk mempersiapkan anak sebelum menerima pelajaran selanjutnya.</p>  Pada bahasan kali ini saya akan menceritakan tentang suatu metode yang hampir selalu saya lakukan di awal sesi kelas di SDN 7 Paya Bakong, Aceh Utara, yaitu 'tanggal berapa sekarang', 'tepuk berhitung', serta 'siul berhitung'. Ini adalah salah satu cara yang saya buat dengan harapan meningkatkan logika serta kemampuan berhitung siswa. Selain itu, 'tepuk berhitung' dan 'siul berhitung' juga berguna sebagai teknik pengendalian kelas dan untuk mempersiapkan siswa sebelum menerima pelajaran selanjutnya.
  <h2>Latar Belakang</h2>
  <h3>Tanggal Berapa Sekarang</h3>
  Berawal dari kebiasaan masyarakat setempat yang bila ingin menyebutkan bulan berapa sekarang, tidak pernah menyebutkan nama bulan melainkan angka urutan bulan tersebut.
  <blockquote>< strong>Contoh</strong>: Januari disebut bulan 1, Februari disebut bulan 2, dst.</blockquote>
  Hal ini membuat anak-anak tidak terbiasa menggunakan nama-nama bulan dalam penanggalan masehi. Anak-anak juga tidak terlalu familiar dengan penanggalan. Ketika ditanya ‘tanggal berapa hari ini?’, mereka akan kebingungan.
  <h3>Tepuk Berhitung dan Siul Berhitung</h3>
  Sedangkan untuk 'tepuk berhitung' dan 'siul berhitung', berangkat dari keadaan di mana sebagian besar murid saya belum ahli dalam hitungan dasar (perkalian, pembagian, penjumlahan, dan pengurangan) bahkan di kelas besar sekalipun. Saya ingin meningkatkan kemampuan murid dalam hal itu, namun sayangnya saya tidak mengampu mata pelajaran matematika. Kalaupun mengajar matematika, lebih karena menggantikan guru dan itupun harus mengajarkan sesuai materi kurikulum. Maka, tepuk berhitung dan siul berhitung ini saya ciptakan agar bisa diterapkan kapan saja, di kelas berapa saja, tanpa harus menunggu jam pelajaran matematika.
  <a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2013/04/ maga-magak-Ruang-Belajar- Cahaya-Ramadhani.jpg"><img class=" wp-image-4659 " alt="maga-magak- Ruang-Belajar- Cahaya-Ramadhani" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2013/04/ maga-magak-Ruang-Belajar- Cahaya-Ramadhani.jpg" width="573" height="323" /></a> Ice breaking di kelas
  <h2>Tanggal Berapa Sekarang</h2>
  <h3>Pelaksanaan</h3>
  <strong>Langkah Pertama</strong>
  Guru bertanya pada siswa: ‘Tanggal berapa sekarang?’. Kemudian para siswa langsung berlomba-lomba menjawabnya.
  <strong>Langkah Kedua</strong>
  Misalkan pada hari ini adalah tanggal 13, maka saya akan bertanya tanggal berapakah beberapa hari setelah atau sebelum tanggal hari ini. Misalkan: ‘Tujuh hari sebelum tanggal 13, tanggal berapa?’ Kemudian siswa-siswa akan berlomba-lomba untuk menghitung dan menjawabnya. Intinya ini hanyalah penambahan dan pengurangan sederhana.
  <strong>Langkah Ketiga</strong>
  Namun terkadang saya juga menyelipkan pertanyaan ‘jebakan’ untuk mengasah logika mereka. Misalkan hari ini adalah tanggal 25, saya kemudian bertanya: ‘Kalau begitu 10 hari lagi tanggal berapa?’. Awalnya akan banyak yang menjawab ‘tanggal 35’. Padahal tidak ada tanggal 35.
  Dari situ, saya jelaskan bahwa untuk bisa menjawab soal dengan benar, mereka terlebih dahulu harus tahu berapa jumlah hari dalam bulan ini (apakah 30 atau 31, ataukah 28/29). Ini mengajarkan mereka tentang jumlah hari dalam satu bulan.
  <strong>Langkah Keempat</strong>
  Kemudian pertanyaan ini akan dilanjutkan dengan ‘bulan berapa sekarang’ dan ‘tahun berapa sekarang’ dan menanyakan hal yang sama (beberapa bulan/tahun sebelum/sesudah bulan/tahun tersebut).
  <strong>Langkah Kelima</strong>
  Jangan lupa untuk memberikan apresiasi bagi siswa yang bisa menjawab dengan benar.
  <h3>Lesson Learned</h3>
  Dari permainan ‘Tanggal Berapa Sekarang’, para siswa sudah mengetahui nama-nama dan urutan bulan dalam penanggalan masehi. Para siswa juga sudah mulai paham tentang jumlah hari dalam satu bulan, yang berbeda-beda tergantung nama bulannya.
  Selain itu, karena siswa-siswa sudah tahu bahwa setiap masuk kelas maka saya akan melakukan permainan ini, mereka pun sudah mempersiapkan jawaban tentang tanggal berapa hari ini. Ini membuat mereka jadi menyadari penanggalan setiap harinya (sebelumnya, selalu guru yang menuliskan tanggal pada hari itu di papan tulis). Kuncinya memang ada pada keteraturan, yaitu permainan ini harus dilaksanakan berulang-ulang agar siswa semakin paham dan terlatih.
  <h2>Tepuk Berhitung dan Siul Berhitung</h2>
  <h3>Pelaksanaan</h3>
  Konsepnya sama dengan permainan ‘Tanggal Berapa Sekarang’ yaitu berhitung sederhana. Namun dalam tepuk dan siul berhitung ini, kita bisa juga melakukan perkalian dan pembagian sederhana.
<p><strong>Latar Belakang</strong><br />  <strong>Langkah Pertama</strong>
Berawal dari kebiasaan masyarakat yang bila ingin menyebutkan bulan berapa sekarang, tidak pernah menyebutkan nama bulan melainkan angka urutan bulan tersebut. Contoh: Januari disebut bulan 1, Februari disebut bulan 2, dst. Ini membuat anak-anak sama sekali tidak tahu nama-nama bulan dalam penanggalan masehi. Anak-anak juga tidak terlalu familiar dengan penanggalan. Ketika ditanya ‘tanggal berapa hari ini?’, mereka akan kebingungan.<br />  
Sedangkan untuk tepuk berhitung dan siul berhitung, berangkat dari keadaan di mana sebagian besar murid saya sangat lemah dalam hitungan dasar (kali, bagi, tambah, dan kurang)bahkan di kelas besar sekalipun. Saya ingin meningkatkan kemampuan murid dalam hal itu, namun sayangnya saya tidak mengampu mata pelajaran matematika. Kalaupun mengajar matematika, lebih karena menggantikan guru dan itupun harus mengajarkan sesuai materi kurikulum. Maka, tepuk berhitung dan siul berhitung ini saya ciptakan agar bisa diterapkan kapan saja, di kelas berapa saja, tanpa harus menunggu jam pelajaran matematika.</p>   
<p><strong>Pelaksanaan Tanggal Berapa Sekarang</strong><br />   
•Saya bertanya pada anak-anak: ‘Tanggal berapa sekarang?’. Kemudian anak-anak langsung berlomba-lomba menjawabnya.<br />   
Misalkan pada hari ini adalah tanggal 13, maka saya akan bertanya tanggal berapakah beberapa hari setelah atau sebelum tanggal hari ini. Misalkan: ‘Tujuh hari sebelum tanggal 13, tanggal berapa?’ Kemudian anak-anak saya akan berlomba-lomba juga untuk menghitung dan menjawabnya. Intinya ini hanyalah penambahan dan pengurangan sederhana.<br />   
•Namun terkadang saya juga menyelipkan pertanyaan ‘jebakan’ untuk mengasah logika mereka. Misalkan hari ini adalah tanggal 25, saya kemudian bertanya: ‘Kalau begitu 10 hari lagi tanggal berapa?’. Awalnya akan banyak yang menjawab ‘tanggal 35’. Padahal tidak ada yang namanya tanggal 35. Dari situ, saya jelaskan bahwa untuk bisa menjawab soal dengan benar, mereka terlebih dahulu harus tahu berapa jumlah hari dalam bulan ini (apakah 30 atau 31, ataukah 28/29). Ini mengajarkan mereka tentang jumlah hari dalam satu bulan.<br />  
Kemudian pertanyaan ini akan dilanjutkan dengan ‘bulan berapa sekarang’ dan ‘tahun berapa sekarang’ dan menanyakan hal yang sama (beberapa bulan/tahun sebelum/sesudah bulan/tahun tersebut).<br />   
Jangan lupa berikan apresiasi bagi anak yang bisa menjawab dengan benar.</p>   
<p><strong>Lesson Learned</strong><br />  
Dari permainan ‘Tanggal Berapa Sekarang’ ini, sekarang anak-anak sudah mengetahui tentang nama-nama dan urutan bulan dalam penanggalan masehi. Anak-anak juga sudah mulai paham tentang jumlah hari dalam satu bulan, yang berbeda-beda tergantung nama bulannya. Selain itu, karena anak-anak sudah tahu bahwa setiap masuk kelas saya akan melakukan permainan ini, mereka pun sudah mempersiapkan jawaban tentang tanggal berapa hari ini. Ini membuat mereka jadi menyadari penanggalan setiap harinya (sebelumnya, selalu guru yang menuliskan tanggal pada hari itu di papan tulis). Kuncinya memang ada pada keteraturan, yaitu permainan ini harus dilaksanakan berulang-ulang agar anak semakin paham.</p>  
<p><strong>Tepuk Berhitung dan Siul Berhitung</strong><br />   
Konsepnya sama saja dengan permainan ‘Tanggal Berapa Sekarang’ yaitu berhitung sederhana. Namun dalam tepuk dan siul berhitung ini, kita bisa juga melakukan perkalian dan pembagian sederhana.<br />   
  Guru akan melakukan tepukan atau siulan sesuai dengan jumlah yang guru inginkan. Agar lebih menarik, guru bisa membuat variasi tepukan dan siulan. Guru juga bisa menampilkan ekspresi yang unik agar tambah menarik.
  <strong>Langkah Kedua</strong>
  Setelah melakukan tepukan atau siulan sesuai dengan jumlah yang guru inginkan, guru kemudian akan berkata ditambah, dikurangi, dikali, atau dibagi dengan angka yang guru mau. Lalu para siswa akan berlomba-lomba menjawab. Lakukan berulang-ulang dan jangan lupa berikan apresiasi bagi murid yang bisa menjawab dengan benar.
  <h3>Lesson Learned</h3>
•Pertama, saya akan melakukan tepukan atau siulan sesuai dengan jumlah yang saya inginkan. Jangan lupa untuk melakukannya dengan bervariasi dan gunakan gestur-gestur yang lucu sehingga anak akan tertarik.<br /> Dari permainan ‘tepuk berhitung’ dan ‘siul berhitung’ yang saya lakukan secara rutin, anak-anak mulai cepat tanggap dalam melakukan hitung-hitungan. Walaupun dalam hal pengurangan dan pembagian, masih agak kurang.
Setelah melakukan tepukan atau siulan sesuai dengan jumlah yang saya inginkan, saya kemudian akan berkata ditambah, dikurangi, dikali, atau dibagi dengan angka yang saya mau. Lalu anak-anak akan berlomba-lomba menjawab. Lakukan berulang-ulang dan jangan lupa berikan apresiasi bagi murid yang bisa menjawab dengan benar.</p>   
<p><strong>Lesson Learned</strong><br />  
Dari permainan ‘tepuk berhitung’ dan ‘siul berhitung’ yang saya lakukan secara rutin, anak-anak mulai cepat tanggap dalam melakukan hitung-hitungan. Walaupun memang, dalam hal pengurangan dan pembagian, masih agak kurang. Dari pelaksanaan ‘tepuk berhitung’ dan ‘siul berhitung’ ini, saya juga menemukan fakta bahwa ternyata permainan ini bisa juga menjadi teknik pengendalian kelas. Sebabnya, permainan ini mengharuskan anak-anak untuk fokus dan memperhatikan berapa kali saya melakukan tepukan atau siulan. Secara tidak langsung, anak-anak pun menjadi diam dan tertib. Permainan ini juga sebagai pemanasan agar anak siap untuk menerima pelajaran selanjutnya.</p>  
  Dari pelaksanaan ‘tepuk berhitung’ dan ‘siul berhitung’ ini, saya juga menemukan fakta bahwa ternyata permainan ini bisa juga menjadi teknik pengendalian kelas. Sebabnya, permainan ini mengharuskan para siswa untuk fokus dan memperhatikan berapa kali guru melakukan tepukan atau siulan. Secara tidak langsung, para siswa pun menjadi diam dan tertib. Permainan ini juga sebagai pemanasan agar siswa siap untuk menerima pelajaran selanjutnya.

Note: Spaces may be added to comparison text to allow better line wrapping.

One Response to “Tanggal Berapa Sekarang, Tepuk Berhitung, Siul Berhitung”

  1. Rutsri 22 August 2016 at 14:50 #

    Hi kak.
    Mau tanya.
    Metode utk ngajar kelas 1 SD berhitung yg paling efektif apa ya?

Leave a Reply