Bagi Rapor ala Putri Indonesia

Pendidikan Karakter »

Tags: ,

Abstraksi

Pembagian rapor selalu menjadi momen untuk memotivasi siswa dan orang tua secara berkala. Di SDN 2 Kepuhlegundi, Pulau , pembagian rapor masih menggunakan sistem klasik ranking yang mengotak-kotakan anak berdasarkan kognitifnya saja. Nyatanya, setiap anak adalah juara. Setiap siswa memiliki kelebihan masing-masing yang dapat memotivasi perkembangan mereka ke depannya. Pada kesempatan ini, penulis menggunakan metode Putri Indonesia saat pembagian rapor. Waaah, anak-anak senang, orangtuanya pun bangga.

1

Latar belakang

Kondisi kelas

Rombongan belajar kelas VI berjumlah 17 siswa. Tingkat kecerdasan mereka berbeda-beda, begitupun dengan bidang keahliannya. Banyak siswa yang belum bisa matematika, tetapi mereka jago olahraga. Ada siswa yang nilai agama di rapornya kurang, sementara perilaku sehari-harinya baik. Dinamika kecerdasan di sekolah tersebut bermacam-macam.

Latar belakang penggunaan metode

Pembagian rapor kebanyakan masih menggunakan sistem klasik yang turun-temurun dari nenek moyang, Ranking. Umumnya, siswa yang tidak mendapat ranking 1, 2, 3 sampai 5 besar, acapkali dicap “kurang pintar” oleh teman-teman, masyarakat, bahkan orangtuanya sendiri. Padahal, siapa yang tahu bahwa siswa tersebut adalah atlet olahraga andalan sekolah atau anak yang pandai berpuisi atau fasih menghafal surat pendek Alquran atau kecerdasan-kecerdasan lainnya. Penulis merasa tidak adil jika ranking berlaku hanya berdasarkan kemampuan kognitif siswa.

Kecerdasan majemuk siswa patut diapresiasi, apapun bentuk kecerdasannya. Layaknya acara Putri Indonesia, dari 33 peserta, semuanya memperoleh selendang penghargaan. Nah, bentuk apresiasi kepada semua peserta inilah yang ingin ditiru penulis. Begitupun pada pembagian rapor ini. Ya, karena pasalnya, semua anak adalah juara dalam bidangnya masing-masing. Maka, mereka patut menerima selempang penghargaan, seperti Putri Indonesia. 🙂

Teori atau penjelasan materi

Pendidikan pada dasarnya tidak hanya mengejar peningkatan kognitif siswa semata. Masih ada dimensi-dimensi lain yang seyogyanya dikembangkan melalui sekolah, seperti kemampuan psikomotorik dan afektif. Oleh karenanya, rapor (hasil belajar siswa) sudah sepantasnya mencakup ketiga aspek tersebut.

Metode

Pembagian rapor kali ini menggunakan metode selempang penghargaan ala Putri Indonesia. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

1. Pembuatan selempang penghargaan

a. Guru menyiapkan beberapa lembar kertas karton berwarna (lebih bagus yang mengilap), kertas HVS, gunting, spidol, stapler dan lem kertas

b. Guru membuat kategori juara untuk masing-masing siswa berdasarkan penilaian dan pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung, bukan hanya berdasarkan nilai ulangan/ujian.

c. Guru menggunting kertas karton menjadi persegi panjag berukuran 10×200 cm. Gunting pula kertas HVS berbentuk persegi panjang untuk menuliskan kategori juara siswa. Tempel kertas HVS Juara tersebut pada kertas karton panjaaaang yang berfungsi sebagai selendang. Tulis kategori juara pada kertas HVS.

Contoh kategori yang diberikan:

  • Putri Logika
  • Putri Penurut
  • Putra Sabar
  • Putra Teknologi
  • Putra Matika
  • Putra Sains
  • Putri Agamis
  • Putra Olahraga
  • Putri Rajin
  • Putra Penolong
  • Putri Kreatif
  • Putri Tekun
  • Putri Teliti

Masukan dari penulis: jika jumlah rombongan belajar cukup banyak, maka guru dapat memberikan kategori yang sama kepada beberapa siswa.

d. Guru menyiapkan stapler. Setelah dikalungkan ke tubuh siswa, barulah di-steples selendang kartonnya.

2
Penjelasan Kiprah Siswa dalam Pembelajaran
Foto bersama kepsek
Foto bersama kepsek
4
Pengalungan selendang penghargaan

2. Penganugerahan

Penganugerahan disaksikan semua orangtua murid, komite sekolah, masyarakat setempat dan tentu saja kepala sekolah serta dewan guru. Bahkan kepala desa dan staf Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan pun ikut diundang dan menyaksikan.

Penganugerahan dimulai dengan perkenalan siswa (satu per satu) dan kiprahnya selama proses pembelajaran di kelas dan di luar kelas, termasuk prestasi akademik dan non-akademiknya. Penganugerahan ini dilakukan melalui pertunjukan slideshow foto-foto atau video siswa yang bersangkutan saat berkiprah di lingkungan sekolah, disertai dengan penjelasan dari guru kelas.

Setelah slideshow dan penjelasan tentang siswa tertentu, selanjutnya siswa tersebut dipanggil masuk ke dalam ruang penganugerahan (kelas) untuk dikalungi selendang oleh tokoh sekolah atau tokoh masyarakat. Tepuk tangan meriah pun diberikan seluruh penonton yang hadir. Selanjutnya adalah sesi foto. 🙂

Begitu seterusnya hingga seluruh siswa dalam kelas yang bersangkutan mendapat selendang penghargaan. Lantas mereka foto bersama di atas panggung (baca: di depan kelas), layaknya Putri Indonesia dari provinsi-provinsi yang berbeda.

Pelajaran yang dapat diambil

Metode alternatif

Metode alternatif bisa bermacam-macam bentuknya selama memegang prinsip bahwa “Setiap Anak adalah Juara”.

Pembelajaran dan hikmah yang diperoleh

  • Siswa menjadi lebih percaya diri karena mendapat apresiasi, pengakuan dan penghargaan yang disaksikan banyak orang.
  • Orangtua menjadi lebih optimisis dan bangga, menghargai kemampuan anaknya tidak hanya berdasarkan nilai dan angka-angka.
  • Kepala sekolah dan dewan guru memahami paradigma baru tentang pembuatan sistem penghargaan bagi siswa, cara memahami psikologi perkembangan anakdengan sekadar memberikan predikat Juara.
  • Masyarakat ikut bangga dan mengetahui potensi yang ada pada generasi yang akan meneruskan pembangunan di tempatnya.

Kesimpulan

SETIAP ANAK ADALAH JUARA!

Revisions

No comments yet.

Leave a Reply