You are viewing an old revision of this post, from June 19, 2014 @ 21:26:12. See below for differences between this version and the current revision.

Belajar Pidato dengan Metode ‘Reality Show’

Abstraksi

Peserta didik kelas V SDN 018 Tanah Grogot, Kabupaten , Kalimantan Timur cenderung bersikap malu ketika berbicara bahasa Indonesia di hadapan umum. Padahal, mereka seharusnya bisa menguasai kemampuan dasar ini dengan baik. Untuk mengubah sikap tersebut, pendidik dapat menggunakan metode belajar kreatif berupa acara realitas (reality show). Melalui pembelajaran ini, peserta didik diharapkan mampu mengendalikan rasa grogi, sekaligus terbiasa tampil berbicara di depan umum dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Latar Belakang

Berbicara merupakan cara berkomunikasi di antara sesama manusia. Meski biasa dilakukan, rasa grogi seringkali muncul bila diminta tampil berbicara di depan umum.

Hal ini dialami oleh peserta didik kelas V SDN 018 Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Mereka cenderung bersikap malu ketika berbicara di hadapan umum dengan menggunakan bahasa Indonesia. Pasalnya, mereka mengikuti kebiasaan masyarakat Paser yang menggunakan dua bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, yakni bahasa Jawa dan bahasa Bugis.

Oleh karena itu, pendidik perlu melatih dan membiasakan penggunaan bahasa Indonesia kepada peserta didik. Caranya tentu harus menyenangkan agar peserta didik dapat menyerap dengan baik dan cepat. Salah satu metode belajar kreatif itu adalah acara realitas (reality show) yang dapat diaplikasikan saat pelajaran Bahasa Indonesia. Peserta didik diminta menyusun naskah pidato dalam bahasa Indonesia, kemudian mempresentasikannya di depan kelas tanpa menggunakan teks.

Metode

Teori atau Penjelasan Materi

Terampil berkomunikasi di hadapan umum dapat dilatih dengan cara berpidato. Untuk peserta didik yang duduk di bangku kelas V SD, tema pidato yang sesuai dengan usia mereka antara lain tentang diri sendiri, keluarga, dan hobi.

Tujuan

  1. Membantu peserta didik untuk lancar dan tenang saat berbicara di depan umum dengan menggunakan bahasa Indonesia.
  2. Memperkaya kosa kata bahasa Indonesia peserta didik.

Lokasi

Ruang kelas

Alat dan Bahan

  1. Kertas
  2. Alat tulis

Langkah Pelaksanaan

Persiapan

Pendidik meminta peserta didik untuk membuat sebuah naskah pidato dengan tema bebas. Pendidik juga dapat memberikan beberapa contoh naskah pidato sebagai referensi peserta didik dalam menyusun pidatonya sendiri.

Pelaksanaan

Maju ke depan

  1. Pendidik mengajak peserta didik untuk menghayati teks pidato yang telah dibuatnya. Peserta didik diharapkan sudah mampu membawakan pidato tanpa teks di pertemuan selanjutnya.
  2. Pendidik membuat kertas undian yang berisi nama seluruh peserta didik. Peserta didik akan tampil berpidato secara bergiliran sesuai urutan undian.
  3. Pendidik meminta setiap peserta didik untuk membuat kertas nilai bertuliskan angka 100, 95, 90, 85, 80, 75, 70, 65, 60 dan 50. Mereka diminta menilai pidato yang dibawakan oleh masing-masing peserta didik. Catatan: Pendidik mengingatkan peserta didik untuk menilai secara objektif. Artinya, penilaian yang dibuat bukan berdasarkan kedekatan hubungan pertemanan, melainkan pada kualitas pidato yang disampaikan
  4. Pendidik bertugas sebagai pembawa acara dan peserta didik yang tidak maju ke depan kelas adalah penonton. Pendidik mengajak peserta didik untuk menciptakan suasana kelas yang seru dan menyenangkan, dengan membayangkan bahwa kelas tersebut merupakan studio televisi yang menjadi tempat digelarnya acara realitas (reality show). Peserta didik boleh bertepuk tangan jika isi pidato mengesankan.
  5. Sebelum peserta didik berpidato, pendidik mengajak peserta didik yang menjadi penonton untuk memberikan mantra aba-aba berupa: “lampu, kamera, action!”, berikut gerakan khasnya.
  6. Setiap peserta didik yang menjadi penonton memberikan nilai untuk peserta didik yang tampil di hadapan kelas. Nilai akhir akan diambil berdasarkan rata-rata nilai yang diperoleh.

Penilaian Dewan Juri

Hikmah yang Didapat

Peserta didik diharapkan mampu mengendalikan rasa grogi, sekaligus terbiasa tampil di hadapan umum dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Adanya penilaian dari peserta didik lain juga dapat memotivasi untuk meningkatkan kualitas pidato di pembelajaran berikutnya.

Revisions

Revision Differences

June 19, 2014 @ 21:26:12Current Revision
Content
<h2></h2> <h2></h2>
<h2>Abstraksi</h2> <h2>Abstraksi</h2>
<p dir="ltr">Peserta didik kelas V SDN 018 Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur cenderung bersikap malu ketika berbicara bahasa Indonesia di hadapan umum. Padahal, mereka seharusnya bisa menguasai kemampuan dasar ini dengan baik. Untuk mengubah sikap tersebut, pendidik dapat menggunakan metode belajar kreatif berupa acara realitas (reality show). Melalui pembelajaran ini, peserta didik diharapkan mampu mengendalikan rasa grogi, sekaligus terbiasa tampil berbicara di depan umum dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.</p>  <p dir="ltr">Peserta didik kelas V SDN 018 Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur cenderung bersikap malu ketika berbicara bahasa Indonesia di hadapan umum. Padahal, mereka seharusnya bisa menguasai kemampuan dasar ini dengan baik. Untuk mengubah sikap tersebut, pendidik dapat menggunakan metode belajar kreatif berupa acara realitas (<em>reality show</em>). Melalui pembelajaran ini, peserta didik diharapkan mampu mengendalikan rasa grogi, sekaligus terbiasa tampil berbicara di depan umum dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.</p>
&nbsp;  
<h2>Latar Belakang</h2> <h2>Latar Belakang</h2>
<p dir="ltr">Berbicara merupakan cara berkomunikasi di antara sesama manusia. Meski biasa dilakukan, rasa grogi seringkali muncul bila diminta tampil berbicara di depan umum.</p> <p dir="ltr">Berbicara merupakan cara berkomunikasi di antara sesama manusia. Meski biasa dilakukan, rasa grogi seringkali muncul bila diminta tampil berbicara di depan umum.</p>
<p dir="ltr">Hal ini dialami oleh peserta didik kelas V SDN 018 Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Mereka cenderung bersikap malu ketika berbicara di hadapan umum dengan menggunakan bahasa Indonesia. Pasalnya, mereka mengikuti kebiasaan masyarakat Paser yang menggunakan dua bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, yakni bahasa Jawa dan bahasa Bugis.</p> <p dir="ltr">Hal ini dialami oleh peserta didik kelas V SDN 018 Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Mereka cenderung bersikap malu ketika berbicara di hadapan umum dengan menggunakan bahasa Indonesia. Pasalnya, mereka mengikuti kebiasaan masyarakat Paser yang menggunakan dua bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, yakni bahasa Jawa dan bahasa Bugis.</p>
<p dir="ltr">Oleh karena itu, pendidik perlu melatih dan membiasakan penggunaan bahasa Indonesia kepada peserta didik. Caranya tentu harus menyenangkan agar peserta didik dapat menyerap dengan baik dan cepat. Salah satu metode belajar kreatif itu adalah acara realitas (reality show) yang dapat diaplikasikan saat pelajaran Bahasa Indonesia. Peserta didik diminta menyusun naskah pidato dalam bahasa Indonesia, kemudian mempresentasikannya di depan kelas tanpa menggunakan teks.</p>  <p dir="ltr">Oleh karena itu, pendidik perlu melatih dan membiasakan penggunaan bahasa Indonesia kepada peserta didik. Caranya tentu harus menyenangkan agar peserta didik dapat menyerap dengan baik dan cepat. Salah satu metode belajar kreatif itu adalah acara realitas (<em>reality show</em>) yang dapat diaplikasikan saat pelajaran Bahasa Indonesia. Peserta didik diminta menyusun naskah pidato dalam bahasa Indonesia, kemudian mempresentasikannya di depan kelas tanpa menggunakan teks.</p>
&nbsp;  
<h2>Metode</h2> <h2>Metode</h2>
<p dir="ltr"><strong>Teori atau Penjelasan Materi</strong></p> <p dir="ltr"><strong>Teori atau Penjelasan Materi</strong></p>
<p dir="ltr">Terampil berkomunikasi di hadapan umum dapat dilatih dengan cara berpidato. Untuk peserta didik yang duduk di bangku kelas V SD, tema pidato yang sesuai dengan usia mereka antara lain tentang diri sendiri, keluarga, dan hobi.</p> <p dir="ltr">Terampil berkomunikasi di hadapan umum dapat dilatih dengan cara berpidato. Untuk peserta didik yang duduk di bangku kelas V SD, tema pidato yang sesuai dengan usia mereka antara lain tentang diri sendiri, keluarga, dan hobi.</p>
<p dir="ltr"><strong> Tujuan</strong></p> <p dir="ltr"><strong> Tujuan</strong></p>
<ol> <ol>
<li dir="ltr">  
<p dir="ltr">Membantu peserta didik untuk lancar dan tenang saat berbicara di depan umum dengan menggunakan bahasa Indonesia.</p>   <li>Membantu peserta didik untuk lancar dan tenang saat berbicara di depan umum dengan menggunakan bahasa Indonesia.</li>
</li>  
<li dir="ltr">  
<p dir="ltr">Memperkaya kosa kata bahasa Indonesia peserta didik.</p>   <li>Memperkaya kosa kata bahasa Indonesia peserta didik.</li>
</li>  
</ol> </ol>
<p dir="ltr"><strong> Lokasi</strong></p> <p dir="ltr"><strong> Lokasi</strong></p>
<p dir="ltr">Ruang kelas</p> <p dir="ltr">Ruang kelas</p>
<p dir="ltr"><strong>Alat dan Bahan</strong></p> <p dir="ltr"><strong>Alat dan Bahan</strong></p>
<ol> <ol>
<li dir="ltr">  
<p dir="ltr">Kertas</p>   <li>Kertas</li>
</li>  
<li dir="ltr">  
<p dir="ltr">Alat tulis</p>   <li>Alat tulis</li>
</li>  
</ol> </ol>
&nbsp;  
<h2>Langkah Pelaksanaan</h2> <h2>Langkah Pelaksanaan</h2>
<p dir="ltr"><strong> Persiapan</strong></p> <p dir="ltr"><strong> Persiapan</strong></p>
<p dir="ltr">Pendidik meminta peserta didik untuk membuat sebuah naskah pidato dengan tema bebas. Pendidik juga dapat memberikan beberapa contoh naskah pidato sebagai referensi peserta didik dalam menyusun pidatonya sendiri.</p> <p dir="ltr">Pendidik meminta peserta didik untuk membuat sebuah naskah pidato dengan tema bebas. Pendidik juga dapat memberikan beberapa contoh naskah pidato sebagai referensi peserta didik dalam menyusun pidatonya sendiri.</p>
<p dir="ltr"><strong> Pelaksanaan</strong></p> <p dir="ltr"><strong> Pelaksanaan</strong></p>
  <p dir="ltr" style="text-align: center;"><strong><img class="aligncenter" alt="Maju ke depan" src="https:// lh3.googleusercontent.com/ gC4iC21vXL6jJ4- VdrNYKpQVW7jJ3bMbPUREq70zqPvUM4qacj8HCWXXynj7tGq6wRReBPad9w- 9hyASYj165vr3XEnasWal_ TA2lS9Rmx5hlFiZhGPKOY6gDgZ8w3HcEiLktVklZ44" width="246px;" height="300px;" /></strong></p>
<ol> <ol>
<li dir="ltr">  
<p dir="ltr">Pendidik mengajak peserta didik untuk menghayati teks pidato yang telah dibuatnya. Peserta didik diharapkan sudah mampu membawakan pidato tanpa teks di pertemuan selanjutnya.</p>   <li>Pendidik mengajak peserta didik untuk menghayati teks pidato yang telah dibuatnya. Peserta didik diharapkan sudah mampu membawakan pidato tanpa teks di pertemuan selanjutnya.</li>
</li>  
   <li>Pendidik membuat kertas undian yang berisi nama seluruh peserta didik. Peserta didik akan tampil berpidato secara bergiliran sesuai urutan undian.</li>
   <li>Pendidik meminta setiap peserta didik untuk membuat kertas nilai bertuliskan angka 100, 95, 90, 85, 80, 75, 70, 65, 60 dan 50. Mereka diminta menilai pidato yang dibawakan oleh masing-masing peserta didik. <strong> Catatan:</strong> Pendidik mengingatkan peserta didik untuk menilai secara objektif. Artinya, penilaian yang dibuat bukan berdasarkan kedekatan hubungan pertemanan, melainkan pada kualitas pidato yang disampaikan</li>
   <li>Pendidik bertugas sebagai pembawa acara dan peserta didik yang tidak maju ke depan kelas adalah penonton. Pendidik mengajak peserta didik untuk menciptakan suasana kelas yang seru dan menyenangkan, dengan membayangkan bahwa kelas tersebut merupakan studio televisi yang menjadi tempat digelarnya acara realitas (<em>reality show</em>). Peserta didik boleh bertepuk tangan jika isi pidato mengesankan.</li>
   <li>Sebelum peserta didik berpidato, pendidik mengajak peserta didik yang menjadi penonton untuk memberikan mantra aba-aba berupa: “<em>lampu, kamera, action!</em>”, berikut gerakan khasnya.</li>
   <li>Setiap peserta didik yang menjadi penonton memberikan nilai untuk peserta didik yang tampil di hadapan kelas. Nilai akhir akan diambil berdasarkan rata-rata nilai yang diperoleh.</li>
</ol> </ol>
<p style="text-align: center;">  
<img class="aligncenter" alt="Maju ke depan" src="https:// lh3.googleusercontent.com/ gC4iC21vXL6jJ4- VdrNYKpQVW7jJ3bMbPUREq70zqPvUM4qacj8HCWXXynj7tGq6wRReBPad9w- 9hyASYj165vr3XEnasWal_ TA2lS9Rmx5hlFiZhGPKOY6gDgZ8w3HcEiLktVklZ44" width="246px;" height="300px;" />  
<ol start="2">  
<li dir="ltr">  
<p dir="ltr">Pendidik membuat kertas undian yang berisi nama seluruh peserta didik. Peserta didik akan tampil berpidato secara bergiliran sesuai urutan undian.</p>  
</li>  
<li dir="ltr">  
<p dir="ltr">Pendidik meminta setiap peserta didik untuk membuat kertas nilai bertuliskan angka 100, 95, 90, 85, 80, 75, 70, 65, 60 dan 50. Mereka diminta menilai pidato yang dibawakan oleh masing-masing peserta didik.</p>  
</li>  
</ol>  
<p dir="ltr">Catatan: Pendidik mengingatkan peserta didik untuk menilai secara objektif. Artinya, penilaian yang dibuat bukan berdasarkan kedekatan hubungan pertemanan, melainkan pada kualitas pidato yang disampaikan</p>  
<ol start="4">  
<li dir="ltr">  
<p dir="ltr">Pendidik bertugas sebagai pembawa acara dan peserta didik yang tidak maju ke depan kelas adalah penonton. Pendidik mengajak peserta didik untuk menciptakan suasana kelas yang seru dan menyenangkan, dengan membayangkan bahwa kelas tersebut merupakan studio televisi yang menjadi tempat digelarnya acara realitas (reality show). Peserta didik boleh bertepuk tangan jika isi pidato mengesankan.</p>  
</li>  
<li dir="ltr">  
<p dir="ltr">Sebelum peserta didik berpidato, pendidik mengajak peserta didik yang menjadi penonton untuk memberikan mantra aba-aba berupa: “lampu, kamera, action!”, berikut gerakan khasnya.</p>  
</li>  
<li dir="ltr">  
<p dir="ltr">Setiap peserta didik yang menjadi penonton memberikan nilai untuk peserta didik yang tampil di hadapan kelas. Nilai akhir akan diambil berdasarkan rata-rata nilai yang diperoleh.</p>  
</li>  
</ol>  
<p style="text-align: center;">  
<img class="aligncenter" alt="Penilaian Dewan Juri" src="https:// lh5.googleusercontent.com/ 0cDF7BPq4lt2hBeF1tNjV6kei6WjqA9WXlMYSkl3IeLg7pNld4Yih9jT0wJKWisVZ7N1EVTHrSQLsbLArou35nEOTz9NF24fKBrq3BpkYo_ 8TwgZI7bQcQWcfZ2IafjPATGgvt6HFmg" width="300px;" height="242px;" />  <p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" alt="Penilaian Dewan Juri" src="https:// lh5.googleusercontent.com/ 0cDF7BPq4lt2hBeF1tNjV6kei6WjqA9WXlMYSkl3IeLg7pNld4Yih9jT0wJKWisVZ7N1EVTHrSQLsbLArou35nEOTz9NF24fKBrq3BpkYo_ 8TwgZI7bQcQWcfZ2IafjPATGgvt6HFmg" width="300px;" height="242px;" /></p>
<h2>Hikmah yang Didapat</h2> <h2>Hikmah yang Didapat</h2>
<p dir="ltr">Peserta didik diharapkan mampu mengendalikan rasa grogi, sekaligus terbiasa tampil di hadapan umum dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Adanya penilaian dari peserta didik lain juga dapat memotivasi untuk meningkatkan kualitas pidato di pembelajaran berikutnya.</p> <p dir="ltr">Peserta didik diharapkan mampu mengendalikan rasa grogi, sekaligus terbiasa tampil di hadapan umum dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Adanya penilaian dari peserta didik lain juga dapat memotivasi untuk meningkatkan kualitas pidato di pembelajaran berikutnya.</p>
<p dir="ltr"></p>  

Note: Spaces may be added to comparison text to allow better line wrapping.

No comments yet.

Leave a Reply