Revision 6537 is a pre-publication revision. (Viewing current revision instead.)

Domino Aksara

Uncategorized »

Ringkasan

Banyak peserta didik terlihat telah bisa membaca. Mereka dapat membaca lantang dan lancar buku yang dipergunakan untuk belajar membaca. Namun ternyata, setelah diuji, mereka hanya menghafal bacaan di buku belajar membaca tersebut, bukan karena benar-benar mengerti cara mengeja huruf dan membaca tulisan. Maka dari itu, proses pembelajaran membaca bagi peserta didik dikembalikan lagi ke tahap paling awal, yaitu pengenalan huruf. Permainan Domino Aksara ditujukan sebagai salah satu kegiatan pembelajaran menghafal bentuk dan nama aksara secara menyenangkan.

Latar Belakang

Kondisi Kelas

Rombongan belajar kelas I SDN 4 Tanjungori, Pulau Bawean, Kab. Gresik, terdiri dari 14 peserta didik. Ruang kelas mereka digabung dengan rombongan belajar kelas II, diberi sekat tripleks. Peserta didik selalu terdengar lantang—dengan nada suara seragam—saat membaca kata-kata sederhana dalam buku Praktis Membaca. Namun jangan heran apabila mereka tiba-tiba mengatakan dengan yakin ‘su-si’ padahal tulisan yang disodorkan adalah ‘ni-na’. Ternyata hal ini dikarenakan selama ini peserta didik sepertinya menghafalkan—bukan membaca—bacaan yang diulang oleh pendidik di kelas. Maka tidak heran apabila banyak peserta didik yang berhasil menyelesaikan buku Praktis Membaca 1A namun tetap belum hafal abjad. Beberapa peserta didik bahkan belum sepenuhnya memahami bentuk dan nama huruf. Mereka, misalnya, menunjuk angka saat disuruh mencari huruf ‘N’ atau menyebut suatu aksara dengan kosakata, misal, ‘G’ dibaca ‘HI’ atau ‘M’ disebut ‘KU’.

Latar Belakang Penerapan Produk atau Metode

Pada awalnya pendidik mencoba mengenalkan huruf dengan pendekatan asosiatif-imajinatif. Misal, huruf ‘S’ digambarkan seperti ular dan huruf ‘U’ digambarkan sebagai kurungan ikan. Namun sepertinya cara tersebut kurang efektif karena bagi beberapa peserta didik pendekatan tersebut justru membingungkan. Konsep bentuk huruf yang sama pun sepertinya juga belum sepenuhnya dipahami, karena tidak jarang peserta didik yang sudah mengetahui bentuk huruf ‘A’ misal, saat diperlihatkan huruf ‘S’ masih juga menebaknya dengan ‘A’, padahal bentuk kedua huruf tersebut sangatlah berbeda.

Tujuan Penggunaan Metode

Kompetensi yang dituju dalam kegiatan permainan Domino Aksara adalah penguasaan abjad sebagai dasar bagi kemampuan membaca. Dengan mengemasnya dalam sebuah permainan, diharapkan peserta didik dapat lebih tertarik mengulang dan menghafalkan abjad.

Teori atau Penjelasan Materi

Pengenalan abjad merupakan dasar yang mutlak dibutuhkan agar dapat membaca dan menulis. Permainan Domino Aksara dikembangkan dengan pemikiran sederhana bahwa agar dapat menghafalkan abjad, peserta didik butuh mengenali bentuk huruf tersebut terlebih dahulu. Dengan memasangkan huruf berbentuk sama—dengan sistem yang sama seperti pada permainan domino—diharapkan peserta didik dapat mulai menghafalkan huruf melalui bentuknya.

Metode

Alat dan Bahan

  1. Kertas (disarankan menggunakan kertas bekas, karena hanya satu sisi yang akan digunakan)
  2. Karton (disarankan menggunakan karton bekas, seperti dari kotak susu)
  3. Lem
  4. Gunting
  5. Lakban transparan
  6. Printer (apabila tidak memiliki akses ke komputer dan printer, dapat diganti dengan digambar menggunakan spidol)

Proses Pembuatan Produk/Metode

  1. Buatlah desain kombinasi Domino Aksara, berisi 48 kartu dan dapat diunduh di sini. Namun sebetulnya tidak ada ketentuan kombinasi huruf dan jumlah kartu domino yang harus digunakan. Jangan lupa untuk menandai sisi atas kartu, karena apabila tidak, akan ada beberapa huruf yang mudah tertukar; seperti ‘u’ dengan ‘n’ dan ‘d’ dengan ‘p’. Apabila tidak ada akses ke komputer dan printer, proses ini dapat dilakukan secara manual digambar menggunakan spidol.
  2. Gunting dan tempelkan kartu domino di atas karton untuk memperkokoh kartu.
  3. Lapisi kartu domino dengan menggunakan lakban transparan agar kartu tidak cepat kotor dan robek.
  4. Domino Aksara siap untuk dimainkan.

Penerapan Produk/Metode di Kelas

  1. Prinsip permainan Domino Aksara sama persis dengan permainan domino pada umumnya, yaitu pemain ditugaskan memasangkan huruf yang sama.
  2. Dengan 1 set Domino Aksara yang berisi 48 kartu, permainan ini dapat diikuti 2-5 pemain.
  3. Masing-masing pemain mendapatkan 5 kartu untuk memulai permainan.
  4. Saat memasangkan huruf yang sama, peserta didik juga harus mengucapkan huruf tersebut. Hal ini ditujukan agar selain mereka mengenali bentuk huruf yang sama, mereka juga diharapkan mulai menghafalkan nama huruf.
  5. Apabila pemain tidak memiliki pasangan huruf yang sama, maka ia diharuskan untuk mengambil kartu dari tumpukan sisa kartu yang ada sampai menemukan kartu yang dimaksud. Namun apabila tumpukan sisa kartu sudah habis, dan pemain belum juga menemukan huruf yang sama, maka kesempatan pemain tersebut dilewati dan kesempatan langsung diberikan kepada pemain berikutnya.
  6. Permainan dinyatakan selesai apabila ada pemain yang telah berhasil menghabiskan kartunya atau tidak ada pemain yang memiliki kartu dengan huruf yang berpasangan. Pada kasus kedua, pemain yang memiliki jumlah kartu paling sedikit adalah pemenangnya.
 

P9242712

Pelajaran yang Didapat

Pembelajaran atau Hikmah yang Diambil

Melalui permainan Domino Aksara, peserta didik terlihat tidak merasa terbebani saat menghafalkan abjad. Mereka merasa bahwa menghafalkan abjad adalah konsekuensi sederhana apabila mereka ingin memenangkan permainan Domino Aksara. Terlebih karena Domino Aksara adalah permainan dengan unsur kompetisi, maka peserta didik akan memiliki semangat dan motivasi yang lebih untuk menghafalkan abjad. Selain mencapai kompetensi dasar tersebut, permainan ini juga dapat mengasah ketelitian.

Kesimpulan

Mengemas sebuah kegiatan pembelajaran dalam sebuah permainan sepertinya masih menjadi salah satu cara paling efektif, entah itu sebagai sebuah kegiatan apersepsi atau pun kegiatan inti. Permainan pun dapat dikembangkan dari permainan yang sudah ada, sehingga proses pengembangannya akan lebih sederhana.

Revisions

Revision Differences

June 8, 2015 @ 14:55:01Current Revision
Content
<h1>Ringkasan</h1> <h1>Ringkasan</h1>
Banyak peserta didik terlihat telah bisa membaca. Mereka dapat membaca lantang dan lancar buku yang dipergunakan untuk belajar membaca. Namun ternyata, setelah diuji, mereka hanya menghafal bacaan di buku belajar membaca tersebut, bukan karena benar-benar mengerti cara mengeja huruf dan membaca tulisan. Maka dari itu, proses pembelajaran membaca bagi peserta didik dikembalikan lagi ke tahap paling awal, yaitu pengenalan huruf. Permainan Domino Aksara ditujukan sebagai salah satu kegiatan pembelajaran menghafal bentuk dan nama aksara secara menyenangkan. Banyak peserta didik terlihat telah bisa membaca. Mereka dapat membaca lantang dan lancar buku yang dipergunakan untuk belajar membaca. Namun ternyata, setelah diuji, mereka hanya menghafal bacaan di buku belajar membaca tersebut, bukan karena benar-benar mengerti cara mengeja huruf dan membaca tulisan. Maka dari itu, proses pembelajaran membaca bagi peserta didik dikembalikan lagi ke tahap paling awal, yaitu pengenalan huruf. Permainan Domino Aksara ditujukan sebagai salah satu kegiatan pembelajaran menghafal bentuk dan nama aksara secara menyenangkan.
<h1>Latar Belakang</h1> <h1>Latar Belakang</h1>
<h2>Kondisi Kelas</h2> <h2>Kondisi Kelas</h2>
Rombongan belajar kelas I SDN 4 Tanjungori, Pulau Bawean, Kab. Gresik, terdiri dari 14 peserta didik. Ruang kelas mereka digabung dengan rombongan belajar kelas II, diberi sekat tripleks. Rombongan belajar kelas I SDN 4 Tanjungori, Pulau Bawean, Kab. Gresik, terdiri dari 14 peserta didik. Ruang kelas mereka digabung dengan rombongan belajar kelas II, diberi sekat tripleks.
Peserta didik selalu terdengar lantang—dengan nada suara seragam—saat membaca kata-kata sederhana dalam buku <em>Praktis Membaca</em>. Namun jangan heran apabila mereka tiba-tiba mengatakan dengan yakin ‘su-si’ padahal tulisan yang disodorkan adalah ‘ni-na’. Ternyata hal ini dikarenakan selama ini peserta didik sepertinya menghafalkan—bukan membaca—bacaan yang diulang oleh pendidik di kelas. Maka tidak heran apabila banyak peserta didik yang berhasil menyelesaikan buku <em>Praktis Membaca 1A</em> namun tetap belum hafal abjad. Beberapa peserta didik bahkan belum sepenuhnya memahami bentuk dan nama huruf. Mereka, misalnya, menunjuk angka saat disuruh mencari huruf ‘N’ atau menyebut suatu aksara dengan kosakata, misal, ‘G’ dibaca ‘HI’ atau ‘M’ disebut ‘KU’. Peserta didik selalu terdengar lantang—dengan nada suara seragam—saat membaca kata-kata sederhana dalam buku <em>Praktis Membaca</em>. Namun jangan heran apabila mereka tiba-tiba mengatakan dengan yakin ‘su-si’ padahal tulisan yang disodorkan adalah ‘ni-na’. Ternyata hal ini dikarenakan selama ini peserta didik sepertinya menghafalkan—bukan membaca—bacaan yang diulang oleh pendidik di kelas. Maka tidak heran apabila banyak peserta didik yang berhasil menyelesaikan buku <em>Praktis Membaca 1A</em> namun tetap belum hafal abjad. Beberapa peserta didik bahkan belum sepenuhnya memahami bentuk dan nama huruf. Mereka, misalnya, menunjuk angka saat disuruh mencari huruf ‘N’ atau menyebut suatu aksara dengan kosakata, misal, ‘G’ dibaca ‘HI’ atau ‘M’ disebut ‘KU’.
<h2>Latar Belakang Penerapan Produk atau Metode</h2> <h2>Latar Belakang Penerapan Produk atau Metode</h2>
Pada awalnya pendidik mencoba mengenalkan huruf dengan pendekatan asosiatif-imajinatif. Misal, huruf ‘S’ digambarkan seperti ular dan huruf ‘U’ digambarkan sebagai kurungan ikan. Namun sepertinya cara tersebut kurang efektif karena bagi beberapa peserta didik pendekatan tersebut justru membingungkan. Konsep bentuk huruf yang sama pun sepertinya juga belum sepenuhnya dipahami, karena tidak jarang peserta didik yang sudah mengetahui bentuk huruf ‘A’ misal, saat diperlihatkan huruf ‘S’ masih juga menebaknya dengan ‘A’, padahal bentuk kedua huruf tersebut sangatlah berbeda. Pada awalnya pendidik mencoba mengenalkan huruf dengan pendekatan asosiatif-imajinatif. Misal, huruf ‘S’ digambarkan seperti ular dan huruf ‘U’ digambarkan sebagai kurungan ikan. Namun sepertinya cara tersebut kurang efektif karena bagi beberapa peserta didik pendekatan tersebut justru membingungkan. Konsep bentuk huruf yang sama pun sepertinya juga belum sepenuhnya dipahami, karena tidak jarang peserta didik yang sudah mengetahui bentuk huruf ‘A’ misal, saat diperlihatkan huruf ‘S’ masih juga menebaknya dengan ‘A’, padahal bentuk kedua huruf tersebut sangatlah berbeda.
<h2>Tujuan Penggunaan Metode</h2> <h2>Tujuan Penggunaan Metode</h2>
Kompetensi yang dituju dalam kegiatan permainan Domino Aksara adalah penguasaan abjad sebagai dasar bagi kemampuan membaca. Dengan mengemasnya dalam sebuah permainan, diharapkan peserta didik dapat lebih tertarik mengulang dan menghafalkan abjad. Kompetensi yang dituju dalam kegiatan permainan Domino Aksara adalah penguasaan abjad sebagai dasar bagi kemampuan membaca. Dengan mengemasnya dalam sebuah permainan, diharapkan peserta didik dapat lebih tertarik mengulang dan menghafalkan abjad.
<h1>Teori atau Penjelasan Materi</h1> <h1>Teori atau Penjelasan Materi</h1>
Pengenalan abjad merupakan dasar yang mutlak dibutuhkan agar dapat membaca dan menulis. Permainan Domino Aksara dikembangkan dengan pemikiran sederhana bahwa agar dapat menghafalkan abjad, peserta didik butuh mengenali bentuk huruf tersebut terlebih dahulu. Dengan memasangkan huruf berbentuk sama—dengan sistem yang sama seperti pada permainan domino—diharapkan peserta didik dapat mulai menghafalkan huruf melalui bentuknya. Pengenalan abjad merupakan dasar yang mutlak dibutuhkan agar dapat membaca dan menulis. Permainan Domino Aksara dikembangkan dengan pemikiran sederhana bahwa agar dapat menghafalkan abjad, peserta didik butuh mengenali bentuk huruf tersebut terlebih dahulu. Dengan memasangkan huruf berbentuk sama—dengan sistem yang sama seperti pada permainan domino—diharapkan peserta didik dapat mulai menghafalkan huruf melalui bentuknya.
<h1>Metode</h1> <h1>Metode</h1>
<h2>Alat dan Bahan</h2> <h2>Alat dan Bahan</h2>
<ol> <ol>
<li>Kertas (disarankan menggunakan kertas bekas, karena hanya satu sisi yang akan digunakan)</li>  <li>Kertas (disarankan menggunakan kertas bekas, karena hanya satu sisi yang akan digunakan)</li>
<li>Karton (disarankan menggunakan karton bekas, seperti dari kotak susu)</li>  <li>Karton (disarankan menggunakan karton bekas, seperti dari kotak susu)</li>
<li>Lem</li>  <li>Lem</li>
<li>Gunting</li>  <li>Gunting</li>
<li>Lakban transparan</li>  <li>Lakban transparan</li>
<li>Printer (apabila tidak memiliki akses ke komputer dan printer, dapat diganti dengan spidol)</li>   <li>Printer (apabila tidak memiliki akses ke komputer dan printer, dapat diganti dengan digambar menggunakan spidol)</li>
</ol> </ol>
<h2>Proses Pembuatan Produk/Metode</h2> <h2>Proses Pembuatan Produk/Metode</h2>
<ol> <ol>
<li>Buatlah desain kombinasi Domino Aksara, berisi 48 kartu dan dapat diunduh <a title="Desain Domino Aksara" href="https:/ /www.dropbox.com/ s/p97eoirkfx41qsy/ Desain%20Domino%20Aksara.docx?dl=0" target="_blank">di sini</a>. Namun sebetulnya tidak ada ketentuan kombinasi huruf dan jumlah kartu domino yang harus digunakan. Jangan lupa untuk menandai sisi atas kartu karena apabila tidak, akan ada beberapa huruf yang mudah tertukar; seperti ‘u’ dengan ‘n’ dan ‘d’ dengan ‘p’. Apabila tidak ada akses ke komputer dan printer, proses ini dapat dilakukan secara manual menggunakan spidol.</li>   <li>Buatlah desain kombinasi Domino Aksara, berisi 48 kartu dan dapat diunduh <a title="Desain Domino Aksara" href="https:/ /www.dropbox.com/ s/p97eoirkfx41qsy/ Desain%20Domino%20Aksara.docx?dl=0" target="_blank">di sini</a>. Namun sebetulnya tidak ada ketentuan kombinasi huruf dan jumlah kartu domino yang harus digunakan. Jangan lupa untuk menandai sisi atas kartu, karena apabila tidak, akan ada beberapa huruf yang mudah tertukar; seperti ‘u’ dengan ‘n’ dan ‘d’ dengan ‘p’. Apabila tidak ada akses ke komputer dan printer, proses ini dapat dilakukan secara manual digambar menggunakan spidol.</li>
<li>Gunting dan tempelkan kartu domino di atas karton untuk memperkokoh kartu.</li>  <li>Gunting dan tempelkan kartu domino di atas karton untuk memperkokoh kartu.</li>
<li>Lapisi kartu domino dengan menggunakan lakban transparan agar kartu tidak cepat kotor dan robek.</li>  <li>Lapisi kartu domino dengan menggunakan lakban transparan agar kartu tidak cepat kotor dan robek.</li>
<li>Domino Aksara siap untuk dimainkan.</li>  <li>Domino Aksara siap untuk dimainkan.</li>
</ol> </ol>
<h2>Penerapan Produk/Metode di Kelas</h2> <h2>Penerapan Produk/Metode di Kelas</h2>
<ol> <ol>
<li>Prinsip permainan Domino Aksara sama persis dengan permainan domino pada umumnya, yaitu pemain ditugaskan untuk memasangkan huruf yang sama.</li>   <li>Prinsip permainan Domino Aksara sama persis dengan permainan domino pada umumnya, yaitu pemain ditugaskan memasangkan huruf yang sama.</li>
<li>Dengan 1 set Domino Aksara yang berisi 48 kartu, permainan ini dapat diikuti 2-5 pemain.</li>  <li>Dengan 1 set Domino Aksara yang berisi 48 kartu, permainan ini dapat diikuti 2-5 pemain.</li>
<li>Masing-masing pemain mendapatkan 5 kartu untuk memulai permainan.</li>  <li>Masing-masing pemain mendapatkan 5 kartu untuk memulai permainan.</li>
<li>Saat memasangkan huruf yang sama, siswa juga harus mengucapkan huruf tersebut. Hal ini ditujukan agar selain mereka mengenali bentuk huruf yang sama, mereka juga diharapkan mulai menghafalkan nama huruf.</li>   <li>Saat memasangkan huruf yang sama, peserta didik juga harus mengucapkan huruf tersebut. Hal ini ditujukan agar selain mereka mengenali bentuk huruf yang sama, mereka juga diharapkan mulai menghafalkan nama huruf.</li>
<li>Apabila pemain tidak memiliki pasangan huruf yang sama, maka ia diharuskan untuk mengambil kartu dari tumpukan sisa kartu yang ada sampai menemukan kartu yang dimaksud. Namun apabila tumpukan sisa kartu sudah habis, dan pemain belum juga menemukan huruf yang sama, maka kesempatan pemain tersebut dilewati dan kesempatan langsung diberikan kepada pemain berikutnya.</li>  <li>Apabila pemain tidak memiliki pasangan huruf yang sama, maka ia diharuskan untuk mengambil kartu dari tumpukan sisa kartu yang ada sampai menemukan kartu yang dimaksud. Namun apabila tumpukan sisa kartu sudah habis, dan pemain belum juga menemukan huruf yang sama, maka kesempatan pemain tersebut dilewati dan kesempatan langsung diberikan kepada pemain berikutnya.</li>
<li>Permainan dinyatakan selesai apabila ada pemain yang telah berhasil menghabiskan kartunya atau tidak ada pemain yang memiliki kartu dengan huruf yang berpasangan. Pada kasus kedua, pemain yang memiliki jumlah kartu paling sedikit adalah pemenangnya.</li>  <li>Permainan dinyatakan selesai apabila ada pemain yang telah berhasil menghabiskan kartunya atau tidak ada pemain yang memiliki kartu dengan huruf yang berpasangan. Pada kasus kedua, pemain yang memiliki jumlah kartu paling sedikit adalah pemenangnya.</li>
</ol> </ol>
  &nbsp;
<a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ P9242712.jpg"><img class=" size-medium wp-image-6374 aligncenter" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ P9242712-300x225.jpg" alt="P9242712" width="300" height="225" /></a>  <p style="text-align: center;"><a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ P9242712.jpg"><img class="alignnone wp-image-6374 size-medium" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ P9242712-300x225.jpg" alt="P9242712" width="300" height="225" /></a></p>
<h1>Pelajaran yang Didapat</h1> <h1>Pelajaran yang Didapat</h1>
<h2>Pembelajaran atau Hikmah yang Diambil</h2> <h2>Pembelajaran atau Hikmah yang Diambil</h2>
Melalui permainan, terlihat bahwa siswa tidak merasa terbebani untuk menghafalkan abjad. Mereka akan merasa bahwa menghafalkan abjad adalah konsekuensi sederhana apabila mereka ingin memenangkan permainan Domino Aksara. Terlebih karena Domino Aksara adalah permainan dengan unsur kompetisi, maka para siswa akan memiliki semangat dan motivasi yang lebih untuk menghafalkan abjad. Selain dari kompetensi dasar tersebut, permainan ini juga dapat mengasah ketelitian.  Melalui permainan Domino Aksara, peserta didik terlihat tidak merasa terbebani saat menghafalkan abjad. Mereka merasa bahwa menghafalkan abjad adalah konsekuensi sederhana apabila mereka ingin memenangkan permainan Domino Aksara. Terlebih karena Domino Aksara adalah permainan dengan unsur kompetisi, maka peserta didik akan memiliki semangat dan motivasi yang lebih untuk menghafalkan abjad. Selain mencapai kompetensi dasar tersebut, permainan ini juga dapat mengasah ketelitian.
<h2>Kesimpulan</h2> <h2>Kesimpulan</h2>
Mengemas sebuah kegiatan pembelajaran dalam sebuah permainan sepertinya masih menjadi salah satu cara paling efektif, entah itu sebagai sebuah kegiatan apersepsi atau pun kegiatan inti. Permainan pun dapat dikembangkan dari permainan yang sudah ada, sehingga proses pengembangannya akan lebih sederhana. Mengemas sebuah kegiatan pembelajaran dalam sebuah permainan sepertinya masih menjadi salah satu cara paling efektif, entah itu sebagai sebuah kegiatan apersepsi atau pun kegiatan inti. Permainan pun dapat dikembangkan dari permainan yang sudah ada, sehingga proses pengembangannya akan lebih sederhana.

Note: Spaces may be added to comparison text to allow better line wrapping.

No tags for this post.

3 Responses to “Domino Aksara”

  1. Benny Febrianto 10 November 2015 at 15:42 #

    Potingan nya bermanfaat banget..

  2. Muhammad Abdi Ridha 15 November 2015 at 06:12 #

    Terima kasih atas ilmunya, semoga kedepan juga bisa ikut berkontribusi di Indonesia Mengajar. 🙂

  3. agus diyansyah 15 June 2016 at 15:40 #

    mungkin kalo untuk siswa smp dan sma ada domino periodik unsur kali yah 😀 biar mereka juga bisa hafal dengan table periodik unsur

Leave a Reply