Revision 6381 is a pre-publication revision. (Viewing current revision instead.)

Kutu Koma

Ringkasan

Menggeser koma ke kanan dan kiri dalam perkalian dan pembagian desimal dapat mempersingkat proses pengerjaan soal matematika. Namun banyak peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami konsep asbtrak. Melalui permainan Kutu Koma, di mana peserta didik secara fisik “mengalami sendiri”—harus melompat ke kanan dan kiri sebagai koma dan angka nol—mereka dapat memahami konsep abstrak tersebut secara lebih mudah. Selain itu, menggunakan metode yang mengandung unsur kinestetis ternyata cukup membantu menyalurkan keaktifan para 13 peserta didik kelas VI SDN 4 Tanjungori, Pulau Bawean, Kab. Gresik, terutama apabila mereka dalam kondisi jenuh menerima materi pelajaran.

Latar Belakang dan Tujuan

Permainan ini ditujukan untuk memudahkan pemahaman peserta didik dalam perkalian atau pembagian pecahan desimal dengan bilangan 10, 100, 1000, dst. Secara prinsip, peserta didik dapat menggunakan metode perkalian atau pembagian susun saat mengerjakan operasi matematika tersebut. Namun metode tersebut memerlukan waktu lebih lama. Mengingat peserta didik akan sering menggunakan operasi matematika tersebut dalam berbagai topik pembahasan—satuan pengukuran, misalnya—maka peserta didik perlu mempelajari metode penyelesaian dalam waktu lebih singkat.

Tujuan Penggunaan Metode

Permainan ini ditujukan untuk memudahkan pemahaman siswa dalam perkalian atau pembagian pecahan desimal dengan bilangan 10, 100, 1000, dst. Secara prinsip, pada saat siswa mengerjakan operasi Matematika tersebut menggunakan metode perkalian atau pembagian susun, sebetulnya sah-sah saja. Hanya, proses tersebut akan memakan waktu yang cukup lama. Mengingat operasi Matematika semacam itu akan banyak ditemukan dalam banyak topik pembahasan—satuan pengukuran, misal—maka menjadi penting bagi siswa untuk dapat mengerjakan operasi tersebut dalam waktu yang lebih singkat.

Teori atau Penjelasan Materi

Saat mengerjakan perkalian bilangan desimal dengan bilangan 10, 100, 1000, dst. maka yang harus dilakukan adalah menggeser koma yang terdapat pada bilangan tersebut ke kanan—atau menambah angka nol apabila komanya sudah habis—sesuai dengan jumlah angka nol pada bilangan pengali. Dalam operasi pembagian, yang harus dilakukan adalah menggeser koma yang terdapat pada bilangan tersebut ke kiri—atau menambahkan nol koma apabila komanya sudah habis—sesuai dengan jumlah angka nol pada bilangan pembagi.

Metode

Alat dan Bahan

  1. Kertas (minimal 5 buah)
  2. Spidol
  3. Gunting

Proses Pembuatan Produk/Metode

  1. Pada masing-masing kertas, tulislah satu angka bebas, tanda koma dan angka nol seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini. Angka nol dibutuhkan untuk operasi perkalian.
  2. Setiap kertas akan dipegang oleh satu peserta didik, kecuali tanda koma dan angka nol yang akan dipegang secara bersamaan oleh satu peserta didik, dan permainan Kutu Koma pun siap untuk dimainkan.

Penerapan Produk/Metode di Kelas

  1. Tugaskan beberapa peserta didik untuk membentuk formasi dengan memegang kertas bertuliskan angka, sehingga terbentuklah sebuah bilangan.
  2. Instruksikan operasi perkalian atau pembagian dengan bilangan 10, 100, 1000, dst.
  3. Tugaskan peserta didik yang memegang tanda koma dan angka nol untuk melompat ke kanan atau kiri sesuai dengan instruksi tersebut.

Pelajaran yang Didapat

Trik matematika yang ditujukan untuk mempermudah atau mempersingkat proses pengerjaan ternyata kadang dapat membingungkan peserta didik. Konsep yang dirasa sangat sederhana oleh pendidik pun ternyata dapat menjadi sebuah kesulitan bagi peserta didik. Hal ini dapat diakali dengan memindahkan proses pengerjaan yang ada di papan tulis dan buku tulis—yang terkadang mungkin terlalu abstrak bagi peserta didik—ke dalam sesuatu yang lebih nyata. Bahkan lebih baik lagi apabila peserta didik dapat menjadi bagian dari hal tersebut dan turut mengalaminya sendiri. Kegiatan permainan Kutu Koma telah membuktikan bahwa saat para peserta didik melakukan secara fisik sebuah konsep, maka mereka akan lebih mudah memahami konsep tersebut.  

Revisions

Revision Differences

May 24, 2015 @ 14:24:10Current Revision
Content
<h1>Abstraksi</h1>  <h1>Ringkasan</h1>
  Menggeser koma ke kanan dan kiri dalam perkalian dan pembagian desimal dapat mempersingkat proses pengerjaan soal matematika. Namun banyak peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami konsep asbtrak.
  Melalui permainan Kutu Koma, di mana peserta didik secara fisik “mengalami sendiri”—harus melompat ke kanan dan kiri sebagai koma dan angka nol—mereka dapat memahami konsep abstrak tersebut secara lebih mudah.
  Selain itu, menggunakan metode yang mengandung unsur kinestetis ternyata cukup membantu menyalurkan keaktifan para 13 peserta didik kelas VI SDN 4 Tanjungori, Pulau Bawean, Kab. Gresik, terutama apabila mereka dalam kondisi jenuh menerima materi pelajaran.
  <h1>Latar Belakang dan Tujuan</h1>
Menggeser koma ke kanan dan kiri dalam perkalian dan pembagian desimal mungkin merupakan hal yang mudah bagi kita dan dapat mempersingkat proses pengerjaan Matematika. Namun ternyata tidak halnya bagi siswa Kelas VI SDN 4 Tanjungori, penggeseran koma tersebut justru sulit dan membingungkan. Hal ini mungkin juga dialami oleh siswa lain seusia mereka. Terkadang siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep yang asbtrak. Permainan Kutu Koma ditujukan untuk mempermudah pemahaman konsep-konsep tersebut. Dengan mengalami sendiri permainan ini, siswa dapat menginternalisasi dan mendapat konteks perpindahan koma tersebut secara lebih jelas dan nyata. Persiapan dan cara bermain yang sangat sederhana membuat permainan Kutu Koma sangat praktis dan mudah untuk dipraktekkan. Permainan ini ditujukan untuk memudahkan pemahaman peserta didik dalam perkalian atau pembagian pecahan desimal dengan bilangan 10, 100, 1000, dst. Secara prinsip, peserta didik dapat menggunakan metode perkalian atau pembagian susun saat mengerjakan operasi matematika tersebut. Namun metode tersebut memerlukan waktu lebih lama. Mengingat peserta didik akan sering menggunakan operasi matematika tersebut dalam berbagai topik pembahasan—satuan pengukuran, misalnya—maka peserta didik perlu mempelajari metode penyelesaian dalam waktu lebih singkat.
<h1>Latar Belakang</h1>   
<h2>Kondisi Kelas</h2>  
Kelas VI SDN 4 Tanjungori, Pulau Bawean, Kab. Gresik, terdiri dari 13 siswa. Karakter siswa Kelas VI sangatlah aktif dan humoris—semua hal yang terjadi di kelas dapat menjadi bahan lelucon dan tidak jarang separuh waktu dari jam pelajaran akan digunakan untuk bercanda dan tertawa. Keaktifan dan keterbukaan ini mungkin dikarenakan oleh lokasi sekolah dan tempat tinggal mereka yang tidak terlalu jauh dari pusat Kecamatan.  
<h2>Latar Belakang Penerapan Produk atau Metode</h2>  
Saat sedang menghitung jumlah siswa Kelas VI yang orangtuanya bekerja di Malaysia dalam bentuk persen, para siswa terlihat sedikit kesulitan. Padahal proses yang tersisa hanyalah tinggal mengubah pecahan desimal ke dalam bentuk persen. Ternyata yang mereka lakukan adalah mengalikan pecahan desimal tersebut dengan angka 100 menggunakan metode perkalian susun, padahal mengerjakan perkalian susun masih menjadi momok bagi sebagian besar dari mereka. Tak heran apabila beberapa siswa pernah mengeluhkan alokasi waktu ujian dan lomba Matematika yang menurut mereka terlalu singkat, sehingga mereka seringkali tidak dapat mengerjakan soal sampai selesai. Demi kepraktisan pengerjaan soal, siswa pun akhirnya dijelaskan teori bahwa apabila pecahan desimal dikalikan 10, 100, 1000, dst. maka koma pada bilangan tersebut akan berpindah ke kanan dan begitu juga sebaliknya apabila operasi Matematikanya adalah pembagian. Namun ternyata aturan yang dimaksudkan untuk memudahkan ini malah membingungkan. Maka permainan Kutu Koma merupakan ilustrasi dari perpindahan koma tersebut agar lebih mudah dipahami oleh para siswa.  
<h2>Tujuan Penggunaan Metode</h2>  <h1>Tujuan Penggunaan Metode</h1>
Permainan ini ditujukan untuk memudahkan pemahaman siswa dalam perkalian atau pembagian pecahan desimal dengan bilangan 10, 100, 1000, dst. Secara prinsip, pada saat siswa mengerjakan operasi Matematika tersebut menggunakan metode perkalian atau pembagian susun, sebetulnya sah-sah saja. Hanya, proses tersebut akan memakan waktu yang cukup lama. Mengingat operasi Matematika semacam itu akan banyak ditemukan dalam banyak topik pembahasan—satuan pengukuran, misal—maka menjadi penting bagi siswa untuk dapat mengerjakan operasi tersebut dalam waktu yang lebih singkat. Permainan ini ditujukan untuk memudahkan pemahaman siswa dalam perkalian atau pembagian pecahan desimal dengan bilangan 10, 100, 1000, dst. Secara prinsip, pada saat siswa mengerjakan operasi Matematika tersebut menggunakan metode perkalian atau pembagian susun, sebetulnya sah-sah saja. Hanya, proses tersebut akan memakan waktu yang cukup lama. Mengingat operasi Matematika semacam itu akan banyak ditemukan dalam banyak topik pembahasan—satuan pengukuran, misal—maka menjadi penting bagi siswa untuk dapat mengerjakan operasi tersebut dalam waktu yang lebih singkat.
<h1>Teori atau Penjelasan Materi</h1> <h1>Teori atau Penjelasan Materi</h1>
Saat mengerjakan perkalian bilangan desimal dengan bilangan 10, 100, 1000, dst. maka yang harus dilakukan adalah menggeser koma yang terdapat pada bilangan tersebut ke kanan—atau menambah angka nol apabila komanya sudah habis—sesuai dengan jumlah angka nol pada bilangan pengali. Dalam operasi pembagian, yang harus dilakukan adalah menggeser koma yang terdapat pada bilangan tersebut ke kiri—atau menambahkan nol koma apabila komanya sudah habis—sesuai dengan jumlah angka nol pada bilangan pembagi. Saat mengerjakan perkalian bilangan desimal dengan bilangan 10, 100, 1000, dst. maka yang harus dilakukan adalah menggeser koma yang terdapat pada bilangan tersebut ke kanan—atau menambah angka nol apabila komanya sudah habis—sesuai dengan jumlah angka nol pada bilangan pengali. Dalam operasi pembagian, yang harus dilakukan adalah menggeser koma yang terdapat pada bilangan tersebut ke kiri—atau menambahkan nol koma apabila komanya sudah habis—sesuai dengan jumlah angka nol pada bilangan pembagi.
<h1>Metode</h1> <h1>Metode</h1>
<h2>Alat dan Bahan</h2> <h2>Alat dan Bahan</h2>
<ol> <ol>
<li>Kertas (minimal 5 buah)</li>  <li>Kertas (minimal 5 buah)</li>
<li>Spidol</li>  <li>Spidol</li>
<li>Gunting</li>  <li>Gunting</li>
</ol> </ol>
<h2>Proses Pembuatan Produk/Metode</h2> <h2>Proses Pembuatan Produk/Metode</h2>
<ol> <ol>
<li>Pada masing-masing kertas, tulislah satu angka bebas, tanda koma dan angka nol seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini. Angka nol dibutuhkan untuk operasi perkalian.</li>  <li>Pada masing-masing kertas, tulislah satu angka bebas, tanda koma dan angka nol seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini. Angka nol dibutuhkan untuk operasi perkalian.</li>
<li>Setiap kertas akan dipegang oleh satu siswa, kecuali tanda koma dan angka nol yang akan dipegang secara bersamaan oleh satu siswa, dan permainan Kutu Koma pun siap untuk dimainkan.</li>   <li>Setiap kertas akan dipegang oleh satu peserta didik, kecuali tanda koma dan angka nol yang akan dipegang secara bersamaan oleh satu peserta didik, dan permainan Kutu Koma pun siap untuk dimainkan.</li>
</ol> </ol>
<h2>Penerapan Produk/Metode di Kelas</h2> <h2>Penerapan Produk/Metode di Kelas</h2>
<ol> <ol>
<li>Tugaskan beberapa siswa untuk membentuk formasi dengan memegang kertas bertuliskan angka, sehingga terbentuklah sebuah bilangan.</li>   <li>Tugaskan beberapa peserta didik untuk membentuk formasi dengan memegang kertas bertuliskan angka, sehingga terbentuklah sebuah bilangan.</li>
<li>Instruksikan operasi perkalian atau pembagian dengan bilangan 10, 100, 1000, dst.</li>  <li>Instruksikan operasi perkalian atau pembagian dengan bilangan 10, 100, 1000, dst.</li>
<li>Tugaskan siswa yang memegang tanda koma dan angka nol untuk melompat ke kanan atau kiri sesuai dengan instruksi tersebut.</li>   <li>Tugaskan peserta didik yang memegang tanda koma dan angka nol untuk melompat ke kanan atau kiri sesuai dengan instruksi tersebut.</li>
</ol> </ol>
<h1>Pelajaran yang Didapat</h1> <h1>Pelajaran yang Didapat</h1>
<h2>Pembelajaran atau Hikmah yang Diambil</h2>  
Pergeseran koma ke kanan dan kiri yang terlihat sederhana ternyata dapat menjadi sulit dan justru membingungkan bagi siswa. Hal ini mungkin dikarenakan hal tersebut dirasa terlalu abstrak sehingga siswa mengalami kesulitan saat harus mempraktekannya. Dengan mengalami sendiri—melompat ke kanan dan kiri sebagai koma dan angka nol—siswa ternyata dapat memahami konsep abstrak tersebut secara lebih mudah. Selain itu, menggunakan metode yang mengandung unsur kinestetis ternyata cukup membantu untuk menyalurkan keaktifan para siswa, terutama apabila mereka sudah dalam kondisi jenuh dalam menerima materi.  
<h2>Kesimpulan</h2>  
Trik Matematika yang ditujukan untuk mempermudah atau mempersingkat proses pengerjaan ternyata justru dapat membingungkan siswa. Konsep yang dirasa sangat sederhana oleh guru pun ternyata dapat menjadi sebuah kesulitan bagi siswa. Hal ini dapat diakali dengan memindahkan proses pengerjaan yang ada di papan tulis dan buku tulis—yang terkadang mungkin terlalu abstrak bagi siswa—ke dalam sesuatu yang lebih nyata. Bahkan lebih baik lagi apabila mereka dapat menjadi bagian dari hal tersebut dan turut mengalaminya sendiri. Kegiatan Kutu Koma telah membuktikan bahwa saat para siswa mengalami sendiri sebuah konsep yang pada awalnya hanya berupa tulisan, maka mereka akan lebih mudah memahami konsep tersebut.  Trik matematika yang ditujukan untuk mempermudah atau mempersingkat proses pengerjaan ternyata kadang dapat membingungkan peserta didik. Konsep yang dirasa sangat sederhana oleh pendidik pun ternyata dapat menjadi sebuah kesulitan bagi peserta didik. Hal ini dapat diakali dengan memindahkan proses pengerjaan yang ada di papan tulis dan buku tulis—yang terkadang mungkin terlalu abstrak bagi peserta didik—ke dalam sesuatu yang lebih nyata. Bahkan lebih baik lagi apabila peserta didik dapat menjadi bagian dari hal tersebut dan turut mengalaminya sendiri. Kegiatan permainan Kutu Koma telah membuktikan bahwa saat para peserta didik melakukan secara fisik sebuah konsep, maka mereka akan lebih mudah memahami konsep tersebut.
  &nbsp;

Note: Spaces may be added to comparison text to allow better line wrapping.

No tags for this post.

2 Responses to “Kutu Koma”

  1. bangsacerdas.com 13 January 2016 at 22:45 #

    terimakasih mas danang atas ilmunya ,cuman tulisannya kurang ilustrasi jadi harus membaca berulang-ulang. Saran saya kalau bisa ada ilustrasinya.

  2. ISTIQOMAH 12 September 2017 at 11:00 #

    OK BANGET … ANAK2KU AKTIF SEMUA, JADI SANGAT SESUAI CARA BELAJARNYA

Leave a Reply