Revision 6988 is a pre-publication revision. (Viewing current revision instead.)

Menggambar Alam

Metode »
Muatan Lokal »
Muatan Lokal » Seni Budaya dan Keterampilan »
Alat dan Bahan »
Alat dan Bahan » Sumber Daya Lokal »

Metode :: Gambar

Tags: , , , , , , ,

  1. Abstraksi
Menggambar, bagi anak-anak, selalu menyenangkan dan tak pernah membosankan. Anak-anak menjadi kian peka pada apa yang ada di sekitarnya. Mereka menunjukkan interpretasi terhadap benda-benda yang pernah mereka temui atau kondisi yang pernah mereka alami. Selain itu, tentu saja, mereka dapat mengungkapkan dan imajinasi mereka. Perasaan, suasana, juga benda-benda yang hanya ada dalam dunia khayal, mampu mereka wujudkan dalam satu karya visual yang, seringkali, menakjubkan. Tak hanya indah dilihat, tapi juga mampu bercerita dengan sendirinya. Disinilah guru dapat melihat karya siswa sebagai sebuah media. Guru dapat menggali lebih dalam lagi tentang apa yang siswa gambar dengan mengajak siswa berdiskusi, baik saat proses menggambar ataupun setelahnya. Mengajak siswa menceritakan apa yang mereka gambar menjadi proses penilaian otentik untuk melihat karakter siswa, cara berpikir, kepercayaan diri, keberanian, sikap, serta daya cipta mereka. Selebihnya, menggambar menjadi kegiatan rekreasi di mana siswa dibebaskan untuk menciptakan karya mereka sendiri tanpa adanya batasan benar atau salah. Tak hanya itu, guru juga dapat menemukan bakat seni siswa yang dapat terus dikembangkan.   I. Latar Belakang
  1. Kondisi Kelas
Kelas 2 (dua) di SDN 3 Rambang (Kelas Jauh) terdiri dari sebelas siswa. Delapan diantaranya adalah laki-laki dan tiga selebihnya adalah perempuan. Sebagai anak-anak dengan rentang usia tujuh hingga sebelas tahun, mereka sangat menyukai kegiatan menggambar. Bisa dibilang, semuanya suka menggambar.  Tak hanya di buku gambar, mereka menggambar hampir di mana saja. Di balik sampul buku tulis, diantara catatan pelajaran menulis dan berhitung, di kertas sobekan, atau sekedar menggambari wajah model di sampul buku dengan garis-garis atau lingkaran berpola. Tak terbatas waktu pelajaran atau ketika guru mengajak mereka menggambar, mereka mengisi waktu menunggu jam pelajaran atau jam setelah istirahat dengan menggambar dan saling menunjukkannya pada teman-teman lainnya. Saling memuji atau sekedar saling bertukar gambar. Karena itulah, guru sengaja menyempatkan waktu untuk mengajak anak-anak menggambar. Tak sekedar menggambar bebas, kadang guru juga mengajak anak-anak sedikit bermain-main dengan tema atau alat menggambar. Kadang guru mengajak anak-anak membuat gambar bercerita atau gambar tentang permainan yang baru saja mereka mainkan. Hasilnya luar biasa. Murid tak hanya sekedar menggambar gunung dan pemandangan. Mereka juga mulai bisa mengungkapkan cerita di balik gambarnya. Terkait alat gambar, murid-murid di SDN 3 Rambang (Kelas Jauh) bisa dikatakan belum memiliki cukup banyak referensi dan pengalaman dengan alat gambar. Alat yang mereka gunakan biasanya pensil biasa, pensil warna, bolpoin hitam, dan krayon.   2. Latar Belakang Penggunaan Metode Melanjutkan prihal alat gambar, selain terbatasnya pengalaman mereka menggunakan bermacam-macam alat gambar, seperti halnya cat air dan kuas, guru juga dihadapkan pada kenyataan bahwa belum semua murid memiliki alat gambarnya sendiri. Saat itu, hanya dua murid yang memiliki pinsil warnanya sendiri. Seringkali mereka berebutan atau si empunya pensil warna urung meminjamkan karena suka hilang dan tercecer tak dapat ditemukan lagi. Selain itu, guru juga memiliki keterbatasan dalam kemampuan teknik menggambar yang baik. Di sisi lain, lingkungan sekolah yang berada di tengah perkebunan memungkinkan siswa untuk menemukan banyak tumbuh-tumbuhan berwarna-warni, di depan kelas juga ada beberapa jenis bunga-bungaan. Pada akhirnya, guru hanya mampu mengajak anak untuk menemukan lebih banyak ide untuk digambarkan, bereksperimen dengan warna, atau pun alat gambar. Kadang guru mengajak siswa ke luar kelas dan menggambar di luar kelas. Hingga pada satu waktu, guru mengajak mereka untuk . Tak hanya menggambar objek yang nampak dalam pandangan mata, tapi juga menggunakan bahan-bahan dari alam untuk menggambar. Memindahkan warna- yang sebenarnya ke dalam kertas gambar.   3. Teori/Penjelasan Materi Metode pengajaran ini muncul sebagai sebuah dalam model pembelajaran tematik. Guru mengajak siswa mengenal lebih dekat lingkungan sekolahnya (atau bisa juga lingkungan tempat tinggalnya). Mengenal benda-benda yang ada di alam dan fungsinya,  mengenal warna-warna dasar yang ada di alam, hingga pada satu titik mereka tahu dan sadar, ada begitu banyak hal hebat di sekitar mereka dan mereka akan bersyukur atas semua itu. Guru juga bisa menyisipkan pembelajaran agar siswa mau menjaga keindahan alam di sekitarnya sebagai sebuah sikap baik yang harus ditumbuhkan sejak dini. Secara materi, guru telah mengajak anak-anak untuk bereksperimen dalam seni rupa dan untuk lebih ekspresif dan imajinatif.   II. Materi
  1. Langkah Pertama
Guru mengajak siswa ke luar kelas, setelah sebelumnya mengajak siswa untuk menyiapkan kertas gambar (atau guru bisa membagikannya), tanpa membawa alat tulis apapun. Awalnya siswa akan penasaran, tapi biarkan rasa penasaran itu menggantung. Guru bisa memulai dengan pertanyaan tentang apa saja yang ada di sekitar mereka. Misal, lapangan, rumput, pohon kelapa, bunga, daun, tanah, langit dan lain sebagainya. Lalu guru bisa melanjutkan pertanyaan dengan bagaimana cara mereka tumbuh atau pertanyaan-pertanyaan lain sambil berjalan berkeliling lingkungan sekolah atau lingkungan sekitar, hingga sampai pada pertanyaan tentang warnanya. Agar lebih seru, guru bisa melempar pertanyaan tantangan sebelum sesi menggambar, misal, “Tanah warnanya apa ya? Bisakah kita menggambar tanah berwarna cokelat tanpa pinsil warna atau krayon atau pewarna apa pun?”. Di sini, guru juga bisa melihat inisiatif siswa dengan memerhatikan jawaban mereka, karena bisa jadi, akan ada satu atau dua siswa yang mengatakan, “Bisa Bu, dengan tanah.”   Selanjutnya, guru bisa mulai menjelaskan kegiatan pada sesi itu, yaitu menggambar alam. Guru mulai mengajak anak-anak menggambar dengan menanyakan tentang sumber-sumber warnyanya. Misal, hijau dengan daun, kuning/merah/merah muda/oranye atau biru dari bunga-bungaan, cokelat dari tanah, dan hitam dari arang, bahkan putih dari getah batang bunga. Memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar dan bisa digunakan untuk menggambar. Sedikit catatan penting, agar lebih tertib, beri perhatian pada siswa agar masing-masing siswa misal hanya boleh memetika dua bunga dan empat daun.   2. Langkah Kedua Guru mulai mengajak siswa untuk menggambarkan warna-warna alam itu ke kertas gambarnya. Guru bisa mencontohkannya terlebih dahulu atau memulai bersama-sama dengan siswa. Siswa bisa menggambar bebas menggunakan  bahan-bahan alam itu. biarkan mereka menggambar sesuai keinginan mereka sendiri.   III. Lesson Learned
  1. Pendidikan Karakter yang Disisipkan
Dari metode ini, ada beberapa hal yang dapat guru catat sebagai pembelajaran, diantaranya: tentang mengatasi keterbatasan alat dalam melakukan sesuatu, dalam hal ini adalah ketika ingin berekspresi dan melakukan apa yang mereka senangi, yaitu menggambar; siswa bisa lebih mengenal lingkungan sekitarnya serta lebih menghargai kekayaan alam dan bersyukur atas apa yang telah alam berikan. Hingga semoga, mereka memiliki kepekaan untuk terus menjaga keindahan alam yang ada. Sebagai catatan, guru pernah mencoba menerapkan metode ini pada anak-anak di kelas yang lebih rendah dan juga lebih tinggi, dan hasilnya sama memuaskan. Anak-anak bersemangat dan melakukannya dengan antusiasme yang sama besarnya.  
  1. Alat dan Bahan
-          Kertas gambar -          Daun-daun segar -          Bunga-bungaan -          Tanah -          Arang -          Atau apa saja yang bisa ditemukan di sekitar Anda.  
Hasil gambar anak-anak kelas 2 di SD N 3 Rambang (kelas jauh)

Hasil gambar anak-anak kelas 2 di SD N 3 Rambang (kelas jauh)

Revisions

Revision Differences

August 19, 2016 @ 21:59:10 [Autosave]Current Revision
Content
<ol> <ol>
<li>Abstraksi</li>  <li>Abstraksi</li>
</ol> </ol>
Menggambar, bagi anak-anak, selalu menyenangkan dan tak pernah membosankan. Anak-anak menjadi kian peka pada apa yang ada di sekitarnya. Mereka menunjukkan interpretasi terhadap benda-benda yang pernah mereka temui atau kondisi yang pernah mereka alami. Selain itu, tentu saja, mereka dapat mengungkapkan ekspresi dan imajinasi mereka. Perasaan, suasana, juga benda-benda yang hanya ada dalam dunia khayal, mampu mereka wujudkan dalam satu karya visual yang, seringkali, menakjubkan. Tak hanya indah dilihat, tapi juga mampu bercerita dengan sendirinya. Menggambar, bagi anak-anak, selalu menyenangkan dan tak pernah membosankan. Anak-anak menjadi kian peka pada apa yang ada di sekitarnya. Mereka menunjukkan interpretasi terhadap benda-benda yang pernah mereka temui atau kondisi yang pernah mereka alami. Selain itu, tentu saja, mereka dapat mengungkapkan ekspresi dan imajinasi mereka. Perasaan, suasana, juga benda-benda yang hanya ada dalam dunia khayal, mampu mereka wujudkan dalam satu karya visual yang, seringkali, menakjubkan. Tak hanya indah dilihat, tapi juga mampu bercerita dengan sendirinya.
Disinilah guru dapat melihat karya siswa sebagai sebuah media. Guru dapat menggali lebih dalam lagi tentang apa yang siswa gambar dengan mengajak siswa berdiskusi, baik saat proses menggambar ataupun setelahnya. Mengajak siswa menceritakan apa yang mereka gambar menjadi proses penilaian otentik untuk melihat karakter siswa, cara berpikir, kepercayaan diri, keberanian, sikap, serta daya cipta mereka. Selebihnya, menggambar menjadi kegiatan rekreasi di mana siswa dibebaskan untuk menciptakan karya mereka sendiri tanpa adanya batasan benar atau salah. Tak hanya itu, guru juga dapat menemukan bakat seni siswa yang dapat terus dikembangkan. Disinilah guru dapat melihat karya siswa sebagai sebuah media. Guru dapat menggali lebih dalam lagi tentang apa yang siswa gambar dengan mengajak siswa berdiskusi, baik saat proses menggambar ataupun setelahnya. Mengajak siswa menceritakan apa yang mereka gambar menjadi proses penilaian otentik untuk melihat karakter siswa, cara berpikir, kepercayaan diri, keberanian, sikap, serta daya cipta mereka. Selebihnya, menggambar menjadi kegiatan rekreasi di mana siswa dibebaskan untuk menciptakan karya mereka sendiri tanpa adanya batasan benar atau salah. Tak hanya itu, guru juga dapat menemukan bakat seni siswa yang dapat terus dikembangkan.
&nbsp; &nbsp;
I. Latar Belakang I. Latar Belakang
<ol> <ol>
<li>Kondisi Kelas</li>  <li>Kondisi Kelas</li>
</ol> </ol>
Kelas 2 (dua) di SDN 3 Rambang (Kelas Jauh) terdiri dari sebelas siswa. Delapan diantaranya adalah laki-laki dan tiga selebihnya adalah perempuan. Sebagai anak-anak dengan rentang usia tujuh hingga sebelas tahun, mereka sangat menyukai kegiatan menggambar. Bisa dibilang, semuanya suka menggambar.  Tak hanya di buku gambar, mereka menggambar hampir di mana saja. Di balik sampul buku tulis, diantara catatan pelajaran menulis dan berhitung, di kertas sobekan, atau sekedar menggambari wajah model di sampul buku dengan garis-garis atau lingkaran berpola. Tak terbatas waktu pelajaran SBK atau ketika guru mengajak mereka menggambar, mereka mengisi waktu menunggu jam pelajaran atau jam setelah istirahat dengan menggambar dan saling menunjukkannya pada teman-teman lainnya. Saling memuji atau sekedar saling bertukar gambar. Kelas 2 (dua) di SDN 3 Rambang (Kelas Jauh) terdiri dari sebelas siswa. Delapan diantaranya adalah laki-laki dan tiga selebihnya adalah perempuan. Sebagai anak-anak dengan rentang usia tujuh hingga sebelas tahun, mereka sangat menyukai kegiatan menggambar. Bisa dibilang, semuanya suka menggambar.  Tak hanya di buku gambar, mereka menggambar hampir di mana saja. Di balik sampul buku tulis, diantara catatan pelajaran menulis dan berhitung, di kertas sobekan, atau sekedar menggambari wajah model di sampul buku dengan garis-garis atau lingkaran berpola. Tak terbatas waktu pelajaran SBK atau ketika guru mengajak mereka menggambar, mereka mengisi waktu menunggu jam pelajaran atau jam setelah istirahat dengan menggambar dan saling menunjukkannya pada teman-teman lainnya. Saling memuji atau sekedar saling bertukar gambar.
Karena itulah, guru sengaja menyempatkan waktu untuk mengajak anak-anak menggambar. Tak sekedar menggambar bebas, kadang guru juga mengajak anak-anak sedikit bermain-main dengan tema atau alat menggambar. Kadang guru mengajak anak-anak membuat gambar bercerita atau gambar tentang permainan yang baru saja mereka mainkan. Hasilnya luar biasa. Murid tak hanya sekedar menggambar gunung dan pemandangan. Mereka juga mulai bisa mengungkapkan cerita di balik gambarnya. Terkait alat gambar, murid-murid di SDN 3 Rambang (Kelas Jauh) bisa dikatakan belum memiliki cukup banyak referensi dan pengalaman dengan alat gambar. Alat yang mereka gunakan biasanya pensil biasa, pensil warna, bolpoin hitam, dan krayon. Karena itulah, guru sengaja menyempatkan waktu untuk mengajak anak-anak menggambar. Tak sekedar menggambar bebas, kadang guru juga mengajak anak-anak sedikit bermain-main dengan tema atau alat menggambar. Kadang guru mengajak anak-anak membuat gambar bercerita atau gambar tentang permainan yang baru saja mereka mainkan. Hasilnya luar biasa. Murid tak hanya sekedar menggambar gunung dan pemandangan. Mereka juga mulai bisa mengungkapkan cerita di balik gambarnya. Terkait alat gambar, murid-murid di SDN 3 Rambang (Kelas Jauh) bisa dikatakan belum memiliki cukup banyak referensi dan pengalaman dengan alat gambar. Alat yang mereka gunakan biasanya pensil biasa, pensil warna, bolpoin hitam, dan krayon.
&nbsp; &nbsp;
2. Latar Belakang Penggunaan Metode 2. Latar Belakang Penggunaan Metode
Melanjutkan prihal alat gambar, selain terbatasnya pengalaman mereka menggunakan bermacam-macam alat gambar, seperti halnya cat air dan kuas, guru juga dihadapkan pada kenyataan bahwa belum semua murid memiliki alat gambarnya sendiri. Saat itu, hanya dua murid yang memiliki pinsil warnanya sendiri. Seringkali mereka berebutan atau si empunya pensil warna urung meminjamkan karena suka hilang dan tercecer tak dapat ditemukan lagi. Selain itu, guru juga memiliki keterbatasan dalam kemampuan teknik menggambar yang baik. Melanjutkan prihal alat gambar, selain terbatasnya pengalaman mereka menggunakan bermacam-macam alat gambar, seperti halnya cat air dan kuas, guru juga dihadapkan pada kenyataan bahwa belum semua murid memiliki alat gambarnya sendiri. Saat itu, hanya dua murid yang memiliki pinsil warnanya sendiri. Seringkali mereka berebutan atau si empunya pensil warna urung meminjamkan karena suka hilang dan tercecer tak dapat ditemukan lagi. Selain itu, guru juga memiliki keterbatasan dalam kemampuan teknik menggambar yang baik.
Di sisi lain, lingkungan sekolah yang berada di tengah perkebunan memungkinkan siswa untuk menemukan banyak tumbuh-tumbuhan berwarna-warni, di depan kelas juga ada beberapa jenis bunga-bungaan. Pada akhirnya, guru hanya mampu mengajak anak untuk menemukan lebih banyak ide untuk digambarkan, bereksperimen dengan warna, atau pun alat gambar. Kadang guru mengajak siswa ke luar kelas dan menggambar di luar kelas. Hingga pada satu waktu, guru mengajak mereka untuk menggambar alam. Tak hanya menggambar objek yang nampak dalam pandangan mata, tapi juga menggunakan bahan-bahan dari alam untuk menggambar. Memindahkan warna-warna alam yang sebenarnya ke dalam kertas gambar. Di sisi lain, lingkungan sekolah yang berada di tengah perkebunan memungkinkan siswa untuk menemukan banyak tumbuh-tumbuhan berwarna-warni, di depan kelas juga ada beberapa jenis bunga-bungaan. Pada akhirnya, guru hanya mampu mengajak anak untuk menemukan lebih banyak ide untuk digambarkan, bereksperimen dengan warna, atau pun alat gambar. Kadang guru mengajak siswa ke luar kelas dan menggambar di luar kelas. Hingga pada satu waktu, guru mengajak mereka untuk menggambar alam. Tak hanya menggambar objek yang nampak dalam pandangan mata, tapi juga menggunakan bahan-bahan dari alam untuk menggambar. Memindahkan warna-warna alam yang sebenarnya ke dalam kertas gambar.
&nbsp; &nbsp;
3. Teori/Penjelasan Materi 3. Teori/Penjelasan Materi
Metode pengajaran ini muncul sebagai sebuah eksperimen dalam model pembelajaran tematik. Guru mengajak siswa mengenal lebih dekat lingkungan sekolahnya (atau bisa juga lingkungan tempat tinggalnya). Mengenal benda-benda yang ada di alam dan fungsinya,  mengenal warna-warna dasar yang ada di alam, hingga pada satu titik mereka tahu dan sadar, ada begitu banyak hal hebat di sekitar mereka dan mereka akan bersyukur atas semua itu. Guru juga bisa menyisipkan pembelajaran agar siswa mau menjaga keindahan alam di sekitarnya sebagai sebuah sikap baik yang harus ditumbuhkan sejak dini. Secara materi, guru telah mengajak anak-anak untuk bereksperimen dalam seni rupa dan untuk lebih ekspresif dan imajinatif. Metode pengajaran ini muncul sebagai sebuah eksperimen dalam model pembelajaran tematik. Guru mengajak siswa mengenal lebih dekat lingkungan sekolahnya (atau bisa juga lingkungan tempat tinggalnya). Mengenal benda-benda yang ada di alam dan fungsinya,  mengenal warna-warna dasar yang ada di alam, hingga pada satu titik mereka tahu dan sadar, ada begitu banyak hal hebat di sekitar mereka dan mereka akan bersyukur atas semua itu. Guru juga bisa menyisipkan pembelajaran agar siswa mau menjaga keindahan alam di sekitarnya sebagai sebuah sikap baik yang harus ditumbuhkan sejak dini. Secara materi, guru telah mengajak anak-anak untuk bereksperimen dalam seni rupa dan untuk lebih ekspresif dan imajinatif.
&nbsp; &nbsp;
II. Materi II. Materi
<ol> <ol>
<li>Langkah Pertama</li>  <li>Langkah Pertama</li>
</ol> </ol>
Guru mengajak siswa ke luar kelas, setelah sebelumnya mengajak siswa untuk menyiapkan kertas gambar (atau guru bisa membagikannya), tanpa membawa alat tulis apapun. Awalnya siswa akan penasaran, tapi biarkan rasa penasaran itu menggantung. Guru bisa memulai dengan pertanyaan tentang apa saja yang ada di sekitar mereka. Misal, lapangan, rumput, pohon kelapa, bunga, daun, tanah, langit dan lain sebagainya. Lalu guru bisa melanjutkan pertanyaan dengan bagaimana cara mereka tumbuh atau pertanyaan-pertanyaan lain sambil berjalan berkeliling lingkungan sekolah atau lingkungan sekitar, hingga sampai pada pertanyaan tentang warnanya. Agar lebih seru, guru bisa melempar pertanyaan tantangan sebelum sesi menggambar, misal, “Tanah warnanya apa ya? Bisakah kita menggambar tanah berwarna cokelat tanpa pinsil warna atau krayon atau pewarna apa pun?”. Di sini, guru juga bisa melihat inisiatif siswa dengan memerhatikan jawaban mereka, karena bisa jadi, akan ada satu atau dua siswa yang mengatakan, “Bisa Bu, dengan tanah.” Guru mengajak siswa ke luar kelas, setelah sebelumnya mengajak siswa untuk menyiapkan kertas gambar (atau guru bisa membagikannya), tanpa membawa alat tulis apapun. Awalnya siswa akan penasaran, tapi biarkan rasa penasaran itu menggantung. Guru bisa memulai dengan pertanyaan tentang apa saja yang ada di sekitar mereka. Misal, lapangan, rumput, pohon kelapa, bunga, daun, tanah, langit dan lain sebagainya. Lalu guru bisa melanjutkan pertanyaan dengan bagaimana cara mereka tumbuh atau pertanyaan-pertanyaan lain sambil berjalan berkeliling lingkungan sekolah atau lingkungan sekitar, hingga sampai pada pertanyaan tentang warnanya. Agar lebih seru, guru bisa melempar pertanyaan tantangan sebelum sesi menggambar, misal, “Tanah warnanya apa ya? Bisakah kita menggambar tanah berwarna cokelat tanpa pinsil warna atau krayon atau pewarna apa pun?”. Di sini, guru juga bisa melihat inisiatif siswa dengan memerhatikan jawaban mereka, karena bisa jadi, akan ada satu atau dua siswa yang mengatakan, “Bisa Bu, dengan tanah.”
&nbsp; &nbsp;
Selanjutnya, guru bisa mulai menjelaskan kegiatan pada sesi itu, yaitu menggambar alam. Guru mulai mengajak anak-anak menggambar dengan menanyakan tentang sumber-sumber warnyanya. Misal, hijau dengan daun, kuning/merah/merah muda/oranye atau biru dari bunga-bungaan, cokelat dari tanah, dan hitam dari arang, bahkan putih dari getah batang bunga. Memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar dan bisa digunakan untuk menggambar. Sedikit catatan penting, agar lebih tertib, beri perhatian pada siswa agar masing-masing siswa misal hanya boleh memetika dua bunga dan empat daun. Selanjutnya, guru bisa mulai menjelaskan kegiatan pada sesi itu, yaitu menggambar alam. Guru mulai mengajak anak-anak menggambar dengan menanyakan tentang sumber-sumber warnyanya. Misal, hijau dengan daun, kuning/merah/merah muda/oranye atau biru dari bunga-bungaan, cokelat dari tanah, dan hitam dari arang, bahkan putih dari getah batang bunga. Memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar dan bisa digunakan untuk menggambar. Sedikit catatan penting, agar lebih tertib, beri perhatian pada siswa agar masing-masing siswa misal hanya boleh memetika dua bunga dan empat daun.
&nbsp; &nbsp;
2. Langkah Kedua 2. Langkah Kedua
Guru mulai mengajak siswa untuk menggambarkan warna-warna alam itu ke kertas gambarnya. Guru bisa mencontohkannya terlebih dahulu atau memulai bersama-sama dengan siswa. Guru mulai mengajak siswa untuk menggambarkan warna-warna alam itu ke kertas gambarnya. Guru bisa mencontohkannya terlebih dahulu atau memulai bersama-sama dengan siswa.
Siswa bisa menggambar bebas menggunakan  bahan-bahan alam itu. biarkan mereka menggambar sesuai keinginan mereka sendiri. Siswa bisa menggambar bebas menggunakan  bahan-bahan alam itu. biarkan mereka menggambar sesuai keinginan mereka sendiri.
&nbsp; &nbsp;
III. Lesson Learned III. Lesson Learned
<ol> <ol>
<li>Pendidikan Karakter yang Disisipkan</li>  <li>Pendidikan Karakter yang Disisipkan</li>
</ol> </ol>
Dari metode ini, ada beberapa hal yang dapat guru catat sebagai pembelajaran, diantaranya: tentang mengatasi keterbatasan alat dalam melakukan sesuatu, dalam hal ini adalah ketika ingin berekspresi dan melakukan apa yang mereka senangi, yaitu menggambar; siswa bisa lebih mengenal lingkungan sekitarnya serta lebih menghargai kekayaan alam dan bersyukur atas apa yang telah alam berikan. Hingga semoga, mereka memiliki kepekaan untuk terus menjaga keindahan alam yang ada. Sebagai catatan, guru pernah mencoba menerapkan metode ini pada anak-anak di kelas yang lebih rendah dan juga lebih tinggi, dan hasilnya sama memuaskan. Anak-anak bersemangat dan melakukannya dengan antusiasme yang sama besarnya. Dari metode ini, ada beberapa hal yang dapat guru catat sebagai pembelajaran, diantaranya: tentang mengatasi keterbatasan alat dalam melakukan sesuatu, dalam hal ini adalah ketika ingin berekspresi dan melakukan apa yang mereka senangi, yaitu menggambar; siswa bisa lebih mengenal lingkungan sekitarnya serta lebih menghargai kekayaan alam dan bersyukur atas apa yang telah alam berikan. Hingga semoga, mereka memiliki kepekaan untuk terus menjaga keindahan alam yang ada. Sebagai catatan, guru pernah mencoba menerapkan metode ini pada anak-anak di kelas yang lebih rendah dan juga lebih tinggi, dan hasilnya sama memuaskan. Anak-anak bersemangat dan melakukannya dengan antusiasme yang sama besarnya.
&nbsp; &nbsp;
<ol> <ol>
<li>Alat dan Bahan</li>  <li>Alat dan Bahan</li>
</ol> </ol>
-          Kertas gambar -          Kertas gambar
-          Daun-daun segar -          Daun-daun segar
-          Bunga-bungaan -          Bunga-bungaan
-          Tanah -          Tanah
-          Arang -          Arang
-          Atau apa saja yang bisa ditemukan di sekitar Anda. -          Atau apa saja yang bisa ditemukan di sekitar Anda.
  &nbsp;
<a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2014/12/ DSCN4511.jpg"><img class="size-large wp-image-6124" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2014/12/ DSCN4511-1024x768.jpg" alt="Hasil gambar anak-anak kelas 2 di SD N 3 Rambang (kelas jauh)" width="1024" height="768" /></a> Hasil gambar anak-anak kelas 2 di SD N 3 Rambang (kelas jauh) <a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2014/12/ DSCN4511.jpg"><img class="size-large wp-image-6124" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2014/12/ DSCN4511-1024x768.jpg" alt="Hasil gambar anak-anak kelas 2 di SD N 3 Rambang (kelas jauh)" width="1024" height="768" /></a> Hasil gambar anak-anak kelas 2 di SD N 3 Rambang (kelas jauh)

Note: Spaces may be added to comparison text to allow better line wrapping.

No comments yet.

Leave a Reply