Revision 6279 is a pre-publication revision. (Viewing current revision instead.)

Lomba Mengurutkan Bilangan (LMB)

297 kecil

Abstraksi

Lomba Mengurutkan (LMB) merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran mengenai urutan dengan seru dan menyenangkan. Selain menarik, metode LMB pun dapat mendidik hal-hal lain seperti bagaimana peserta didik belajar bekerja sama dan bersikap sportif. Dengan membentuk kelompok-kelompok dalam metode ini, peserta didik yang memiliki kelebihan dapat belajar membantu teman-temannya yang belum mengerti.

Latar Belakang

Kondisi Kelas

Peserta didik SD GMIT Oeulu ( Timur) berjumlah 21 orang, terdiri dari 10 orang siswa dan 11 orang siswi. Ada kesenjangan antara peserta didik laki-laki dan perempuan di kelas, baik saat belajar maupun bermain. Mereka seringkali bertengkar saat bermain atau saling ejek di dalam kelas saat pembelajaran berlangsung. Kemampuan membaca dan menulis peserta didik terbilang cukup. Kira-kira sepertiganya belum lancar membaca, sepertiga lainnya bisa membaca namun masih sering mengeja, dan sepertiga sisanya sudah lancar membaca. Kemampuan berhitungnya pun memiliki kesenjangan yang tinggi. Ada kelompok peserta didik yang sangat cepat menangkap pelajaran, ada pula yang lambat dalam menangkap pelajaran berhitung.

Latar belakang penggunaan metode

Sebagian besar siswa-siswi di kelas 3 SD GMIT Oeulu (Rote Timur) mengalami kesulitan belajar mengenai urutan bilangan lewat metode ceramah, tulis di papan dan pemberian soal-soal saja. Selain itu, ada kesulitan berinteraksi antara siswa dengan siswi di kelas. Perbedaan jenis kelamin membuat mereka malu dan segan bekerja dengan teman lawan jenisnya. Bahkan untuk duduk bersebelahan dengan teman lawan jenisnya saja mereka tidak mau. Perbedaan kecepatan penangkapan materi pun sangat senjang antara siswa-siswi satu kelas.

Tujuan penggunaan metode

Melatih kemampuan siswa-siswi untuk mengurutkan bilangan hingga ratusan. Membiasakan siswa-siswi untuk bekerja sama dengan teman-teman lawan jenisnya. Membiasakan dan mengembangkan sikap sportif dalam berkompetisi dengan teman-temannya. Membiasakan bekerja dalam kelompok. Siswa yang memiliki kelebihan dapat belajar membantu teman-temannya yang belum mengerti materi yang disampaikan

Metode

Alat dan Bahan

Bahan
  • Kertas Origami 15 x 15 cm (sejumlah siswa-siswi)
  • Karet Gelang / Paper Clip
Alat
  • Spidol
  • Gunting

Langkah Pelaksanaan

  1. Pendidik membagikan kertas origami kepada peserta didik.
  2. Peserta didik diminta melipat kertas origaminya menjadi 16 bagian.
  3. Jadikan garis lipatan sebagai panduan bagi peserta didik untuk menggunting kertas origaminya menjadi 16 potongan-potongan kecil.
  4. Peserta didik diminta untuk menuliskan bilangan ratusan secara berurutan pada 16 potongan kertas origami yang telah dibuatnya. Pendidik mendampingi peserta didik menuliskan bilangan-bilangan ini agar tidak ada kesalahan penulisan.
  5. Setelah selesai, 16 potongan kertas origami bertuliskan bilangan dari masing-masing peserta didik dikumpulkan menjadi satu menggunakan karet gelang atau paper clip.
  6. Sekarang kelas telah memiliki set kartu bilangan sebanyak jumlah peserta didik. Pendidik mengucapkan terima kasih kepada peserta didik yang telah bekerja sama menciptakan banyak set kartu bilangan ini. Kemudian pendidik mengumumkan bahwa setiap set kartu akan dipakai untuk bermain secara bergantian.
  7. Pendidik membagi rombongan belajar menjadi kelompok-kelompok kecil. Jumlah ideal dalam satu kelompok maksimal adalah tiga orang, namun bisa disesuaikan untuk rombongan belajar dengan jumlah peserta didik yang lebih besar. Peserta didik laki-laki dan perempuan dikomposisikan dalam satu kelompok. 299 kecil
  8. Pendidik menjelaskan peraturan perlombaan dimana setiap kelompok harus adu cepat menyusun keenambelas bilangan yang terdapat pada potongan kertas. Kelompok yang telah selesai menyusun bilangannya harus mengacungkan tangan sambil berseru, “Selesai!”298 kecil
  9. Pendidik dan peserta didik lainnya dalam satu kelas dapat memberikan apresiasi kepada kelompok yang memenangkan babak perlombaan. Apresiasi dapat dikreasikan mulai dari tepukan, tempelan di dinding kelas, dan lain-lain.
  10. Pendidik memulai perlombaan dan berlaku sebagai wasit. Pendidik dapat menekankan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan baik, tidak ada yang mendominasi dan tidak tidak ada yang pasif.294
  11. Pendidik dapat merotasi set kartu bilangan dari satu kelompok ke kelompok lain apabila babak perlombaan berganti.

Pelajaran yang dipetik

Pembelajaran terbesar dari LMB adalah pembentukan sikap. Bagaimana peserta didik bisa belajar untuk bekerja sama terutama dengan teman-teman lawan jenisnya. Serta bagaimana peserta didik bisa belajar bekerja dalam satu kelompok, menerima dan menyikapi setiap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki teman-temannya. 300 kecil Pelajaran tambahan yang didapat adalah pengetahuan peserta didik mengenai urutan bilangan ratusan yang terdapat pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD) Mata Pelajaran Kelas 3 semester 1.

Kesimpulan

Sekolah bukan sekadar tempat meningkatkan pengetahuan, namun juga keahlian dan sikap. Tanggung jawab besar para pendidik adalah menciptakan pengajaran yang secara efektif menyasar ketiga aspek tersebut dalam satu metode. LMB bisa menjadi salah satu alternatif metode mengajar kreatif yang mengawali tahun ajaran khususnya di kelas 3.

301 kecil

 

Revisions

Revision Differences

May 21, 2015 @ 05:53:42Current Revision
Content
<ol>  
  <h2><img class=" size-medium wp-image-6274 aligncenter" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 297-kecil-300x300.jpg" alt="297 kecil" width="300" height="300" /></h2>
<li><strong>  Abstraksi</strong></li>  <h2>Abstraksi</h2>
</ol>  
<strong><a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 297-kecil.jpg"><img class=" size-medium wp-image-6274 aligncenter" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 297-kecil-300x300.jpg" alt="297 kecil" width="300" height="300" /></a></strong>   
‘Lomba Menyusun Bilangan’ (LMB) adalah metode yang dapat digunakan agar pembelajaran mengenai urutan bilangan menjadi lebih seru dan menyenangkan.  
Selain membuatnya menjadi lebih menarik, metode LMB pun dapat menyasar pendidikan hal-hal lain seperti bagaimana siswa-siswi belajar bekerja sama dan bersikap sportif. Dengan membentuk kelompok-kelompok pun, siswa yang memiliki kelebihan dapat belajar membantu teman-temannya yang belum mengerti.  
&nbsp;  
<ol start="2">  
<li><strong> Latar Belakang</strong></li>  
</ol>  
  Lomba Mengurutkan Bilangan (LMB) merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran mengenai urutan bilangan dengan seru dan menyenangkan. Selain menarik, metode LMB pun dapat mendidik hal-hal lain seperti bagaimana peserta didik belajar bekerja sama dan bersikap sportif. Dengan membentuk kelompok-kelompok dalam metode ini, peserta didik yang memiliki kelebihan dapat belajar membantu teman-temannya yang belum mengerti.
  <h2>Latar Belakang</h2>
<strong>2.1 Kondisi Kelas</strong>  <h3>Kondisi Kelas</h3>
Siswa-siswi kelas 3 SD GMIT Oeulu (Rote Timur) berjumlah 21 orang, terdiri dari 10 orang siswa dan 11 orang siswi. Ada <em>gap</em> antara siswa dan siswi di kelas saat belajar maupun bermain. Seringkali mereka bertengkar saat bermain atau saling ejek di dalam kelas saat pelajaran berlangsung.  Peserta didik kelas 3 SD GMIT Oeulu (Rote Timur) berjumlah 21 orang, terdiri dari 10 orang siswa dan 11 orang siswi. Ada kesenjangan antara peserta didik laki-laki dan perempuan di kelas, baik saat belajar maupun bermain. Mereka seringkali bertengkar saat bermain atau saling ejek di dalam kelas saat pembelajaran berlangsung.
Kemampuan membaca dan menulis siswa-siswi cukup. Kira-kira sepertiga siswa-siswi di kelas belum lancar membaca, sepertiga lainnya bisa namun masih seringkali mengeja, dan sepertiga sisanya sudah lancar. Kemampuan berhitungnya pun memiliki kesenjangan yang tinggi. Ada kelompok siswa yang sangat cepat menangkap pelajaran, ada pula yang lambat dalam menangkap pelajaran berhitung.  Kemampuan membaca dan menulis peserta didik terbilang cukup. Kira-kira sepertiganya belum lancar membaca, sepertiga lainnya bisa membaca namun masih sering mengeja, dan sepertiga sisanya sudah lancar membaca. Kemampuan berhitungnya pun memiliki kesenjangan yang tinggi. Ada kelompok peserta didik yang sangat cepat menangkap pelajaran, ada pula yang lambat dalam menangkap pelajaran berhitung.
&nbsp;  
<strong>2.2 Latar Belakang Penggunaan Metode</strong> <h3>Latar belakang penggunaan metode</h3>
<p style="text-align: center"><strong><a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 298-kecil.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-6275" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 298-kecil-300x224.jpg" alt="298 kecil" width="300" height="224" /></a></strong><strong><a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 299-kecil.jpg"> <img class="alignnone size-medium wp-image-6276" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 299-kecil-300x224.jpg" alt="299 kecil" width="300" height="224" /></a></strong></p>  
Sebagian besar siswa-siswi di kelas 3 SD GMIT Oeulu (Rote Timur) mengalami kesulitan belajar mengenai urutan bilangan lewat metode ceramah, tulis di papan dan pemberian soal-soal saja. Sebagian besar siswa-siswi di kelas 3 SD GMIT Oeulu (Rote Timur) mengalami kesulitan belajar mengenai urutan bilangan lewat metode ceramah, tulis di papan dan pemberian soal-soal saja.
Selain itu, ada kesulitan berinteraksi antara siswa dengan siswi di kelas. Perbedaan jenis kelamin membuat mereka malu dan segan bekerja dengan teman lawan jenisnya. Bahkan untuk duduk bersebelahan dengan teman lawan jenisnya saja mereka tidak mau. Selain itu, ada kesulitan berinteraksi antara siswa dengan siswi di kelas. Perbedaan jenis kelamin membuat mereka malu dan segan bekerja dengan teman lawan jenisnya. Bahkan untuk duduk bersebelahan dengan teman lawan jenisnya saja mereka tidak mau.
Perbedaan kecepatan penangkapan materi pun sangat senjang antara siswa-siswi satu kelas. Perbedaan kecepatan penangkapan materi pun sangat senjang antara siswa-siswi satu kelas.
&nbsp;  
<strong>2.3 Tujuan Penggunaan Metode</strong> <h3>Tujuan penggunaan metode</h3>
Melatih kemampuan siswa-siswi untuk mengurutkan bilangan hingga 5.000.  Melatih kemampuan siswa-siswi untuk mengurutkan bilangan hingga ratusan.
Membiasakan siswa-siswi untuk bekerja sama dengan teman-teman lawan jenisnya. Membiasakan siswa-siswi untuk bekerja sama dengan teman-teman lawan jenisnya.
Membiasakan dan mengembangkan sikap sportif dalam berkompetisi dengan teman-temannya. Membiasakan dan mengembangkan sikap sportif dalam berkompetisi dengan teman-temannya.
Membiasakan bekerja dalam kelompok. Siswa yang memiliki kelebihan dapat belajar membantu teman-temannya yang belum mengerti materi yang disampaikan Membiasakan bekerja dalam kelompok. Siswa yang memiliki kelebihan dapat belajar membantu teman-temannya yang belum mengerti materi yang disampaikan
&nbsp;  
<strong>3 Metode</strong>  <h2>Metode</h2>
<p style="text-align: center"><strong><a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 300-kecil.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-6277" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 300-kecil-300x224.jpg" alt="300 kecil" width="300" height="224" /></a></strong></p>  
<strong>3.1 Alat dan Bahan</strong>  <h3>Alat dan Bahan</h3>
Bahan Bahan
<ul> <ul>
<li>Kertas Origami 15 x 15 cm (sejumlah siswa-siswi)</li>  <li>Kertas Origami 15 x 15 cm (sejumlah siswa-siswi)</li>
<li>Karet Gelang / <em>Paper Clip</em></li>  <li>Karet Gelang / <em>Paper Clip</em></li>
</ul> </ul>
&nbsp;  
Alat Alat
<ul> <ul>
<li>Spidol</li>  <li>Spidol</li>
<li>Gunting</li>  <li>Gunting</li>
</ul> </ul>
&nbsp;  
<strong>3.2 Langkah Pelaksanaan</strong>  <h3>Langkah Pelaksanaan</h3>
<ol> <ol>
<li>Bagikan kertas origami kepada siswa-siswi.</li>  
   <li>Pendidik membagikan kertas origami kepada peserta didik.</li>
<li>Instruksikan kepada siswa-siswi untuk melipat kertas origaminya menjadi 16 bagian.</li>   <li>Peserta didik diminta melipat kertas origaminya menjadi 16 bagian.</li>
<li>Jadikan garis lipatan sebagai panduan bagi siswa-siswi untuk menggunting kertas origaminya menjadi 16 potongan-potongan kecil.</li>   <li>Jadikan garis lipatan sebagai panduan bagi peserta didik untuk menggunting kertas origaminya menjadi 16 potongan-potongan kecil.</li>
<li>Minta siswa-siswi untuk menuliskan bilangan ribuan secara berurutan pada 16 potongan kertas origami yang telah dibuatnya. Guru mendampingi siswa-siswi menuliskan bilangan-bilangan ini agar tidak ada kesalahan penulisan.</li>   <li>Peserta didik diminta untuk menuliskan bilangan ratusan secara berurutan pada 16 potongan kertas origami yang telah dibuatnya. Pendidik mendampingi peserta didik menuliskan bilangan-bilangan ini agar tidak ada kesalahan penulisan.</li>
<li>Setelah selesai, kumpulkan 16 potongan kertas origami bertuliskan bilangan dari masing-masing siswa menjadi satu menggunakan karet gelang atau <em>paper clip.</em></li>   <li>Setelah selesai, 16 potongan kertas origami bertuliskan bilangan dari masing-masing peserta didik dikumpulkan menjadi satu menggunakan karet gelang atau <em>paper clip.</em></li>
<li>Sekarang kelas telah memiliki set kartu bilangan sebanyak jumlah siswa. Guru mengucapkan terima kasih kepada siswa-siswi yang telah bekerja sama menciptakan banyak set kartu bilangan ini kemudian guru mengumumkan bahwa setiap set kartu akan dipakai dalam bermain secara bergantian.</li>   <li>Sekarang kelas telah memiliki set kartu bilangan sebanyak jumlah peserta didik. Pendidik mengucapkan terima kasih kepada peserta didik yang telah bekerja sama menciptakan banyak set kartu bilangan ini. Kemudian pendidik mengumumkan bahwa setiap set kartu akan dipakai untuk bermain secara bergantian.</li>
   <li>Pendidik membagi rombongan belajar menjadi kelompok-kelompok kecil. Jumlah ideal dalam satu kelompok maksimal adalah tiga orang, namun bisa disesuaikan untuk rombongan belajar dengan jumlah peserta didik yang lebih besar. Peserta didik laki-laki dan perempuan dikomposisikan dalam satu kelompok.
  <img class="size-medium wp-image-6276 aligncenter" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 299-kecil-300x224.jpg" alt="299 kecil" width="300" height="224" /></li>
<li style="text-align: center"><strong><a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 295-kecil.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-6273" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 295-kecil-300x224.jpg" alt="295 kecil" width="300" height="224" /></a></strong><strong><a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/ 2015/05/294.jpg">  <img class="alignnone size-medium wp-image-6272" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 294-300x224.jpg" alt="294" width="300" height="224" /></a></strong></li>   <li>Pendidik menjelaskan peraturan perlombaan dimana setiap kelompok harus adu cepat menyusun keenambelas bilangan yang terdapat pada potongan kertas. Kelompok yang telah selesai menyusun bilangannya harus mengacungkan tangan sambil berseru, “Selesai!<strong><a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 298-kecil.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-6275 aligncenter" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 298-kecil-300x224.jpg" alt="298 kecil" width="300" height="224" /></a></strong></li>
<li>Guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil. Jumlah ideal dalam satu kelompok maksimal adalah tiga orang, namun bisa disesuaikan untuk kelas dengan jumlah siswa-siswi yang lebih besar. Komposisikan laki-laki dan perempuan dalam satu kelompok.</li>   
<li>Guru menjelaskan peraturan perlombaan dimana setiap kelompok harus adu cepat menyusun keenambelas bilangan yang terdapat pada potongan kertas. Kelompok yang telah selesai menyusun bilangannya harus mengacungkan tangan sambil berseru, “Selesai!”</li>  
<li>Guru dan teman-teman lain dalam satu kelas dapat memberikan apresiasi kepada kelompok yang memenangkan babak perlombaan. Apresiasi dapat dikreasikan mulai dari tepukan, tempelan di dinding kelas dan lain-lain.</li>   <li>Pendidik dan peserta didik lainnya dalam satu kelas dapat memberikan apresiasi kepada kelompok yang memenangkan babak perlombaan. Apresiasi dapat dikreasikan mulai dari tepukan, tempelan di dinding kelas, dan lain-lain.</li>
<li>Guru dapat memulai perlombaan dan berlaku sebagai wasit. Guru dapat menekankan kepada siswa-siswi untuk bekerja sama dengan baik, tidak ada yang mendominasi dan tidak tidak ada yang pasif.</li>  
   <li>Pendidik memulai perlombaan dan berlaku sebagai wasit. Pendidik dapat menekankan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan baik, tidak ada yang mendominasi dan tidak tidak ada yang pasif.<img class="alignnone size-medium wp-image-6272 aligncenter" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 294-300x224.jpg" alt="294" width="300" height="224" /></li>
<li>Guru dapat merotasi set kartu bilangan dari satu kelompok ke kelompok lain apabila babak perlombaan berganti.</li>   <li>Pendidik dapat merotasi set kartu bilangan dari satu kelompok ke kelompok lain apabila babak perlombaan berganti.</li>
</ol> </ol>
  <h2>Pelajaran yang dipetik</h2>
  Pembelajaran terbesar dari LMB adalah pembentukan sikap. Bagaimana peserta didik bisa belajar untuk bekerja sama terutama dengan teman-teman lawan jenisnya. Serta bagaimana peserta didik bisa belajar bekerja dalam satu kelompok, menerima dan menyikapi setiap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki teman-temannya.
  <img class="alignnone size-medium wp-image-6277 aligncenter" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 300-kecil-300x224.jpg" alt="300 kecil" width="300" height="224" />
  Pelajaran tambahan yang didapat adalah pengetahuan peserta didik mengenai urutan bilangan ratusan yang terdapat pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD) Mata Pelajaran Matematika Kelas 3 semester 1.
  <h3>Kesimpulan</h3>
  Sekolah bukan sekadar tempat meningkatkan pengetahuan, namun juga keahlian dan sikap. Tanggung jawab besar para pendidik adalah menciptakan pengajaran yang secara efektif menyasar ketiga aspek tersebut dalam satu metode.
  LMB bisa menjadi salah satu alternatif metode mengajar kreatif yang mengawali tahun ajaran khususnya di kelas 3.
  <p style="text-align: center;"><strong><a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 301-kecil.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-6278" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 301-kecil-224x300.jpg" alt="301 kecil" width="224" height="300" /></a></strong></p>
&nbsp; &nbsp;
<strong> 4, Pelajaran yang Didapat</strong>  
<p style="text-align: center"><strong><a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 301-kecil.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-6278" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2015/05/ 301-kecil-224x300.jpg" alt="301 kecil" width="224" height="300" /></a></strong></p>  
Pembelajaran terbesar dari LMB adalah pembentukan sikap. Bagaimana siswa-siswi bisa belajar untuk bekerja sama terutama dengan teman-teman lawan jenisnya. Serta bagaimana siswa-siswi bisa belajar bekerja dalam satu kelompok, menerima dan menyikapi setiap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki teman-temannya.  
Pelajaran tambahan yang didapat adalah pengetahuan siswa-siswi mengenai urutan bilangan ribuan yang terdapat pada SKKD KTSP Mata Pelajaran Matematika Kelas 3 semester 1.  
&nbsp;  
<ol start="5">  
<li><strong> Kesimpulan</strong></li>  
</ol>  
Sekolah bukan sekedar tempat meningkatkan pengetahuan namun juga keahlian dan sikap. Tanggung jawab besar para guru adalah menciptakan pengajaran yang secara efektif menyasar ketiganya dalam satu metode.  
LMB bisa menjadi salah satu alternatif metode mengajar kreatif yang mengawali tahun ajaran khususnya di kelas 3.  

Note: Spaces may be added to comparison text to allow better line wrapping.

No comments yet.

Leave a Reply