Revision 2147 is a pre-publication revision. (Viewing current revision instead.)

Ekosistem Air Laut (GAMBAR???)

Abstraksi

Membedakan air laut yang terdiri dari lautan, pantai, muara, dan terumbu karang bagi anak usia SD saya ternyata cukup sulit. Mereka tidak bisa membedakan antara laut dan di dalam kolam.

Latar Belakang

Kurangnya pengetahuan dan jauhnya daerah yang saya tempati dari laut ataupun pantai, membuat murid-murid saya merasa kesulitan dalam membedakan ekosistem yang ada di laut dan di kolam. Mereka pikir ekosistem air di laut dan di kolam itu adalah sama.

Kondisi Kelas

Jumlah murid di kelas adalah 20 siswa. Saya mencoba menerapkan metode konstruktivistik di dalam kelas.

Latar belakang penggunaan metode

Dengan metode konstruktivisme saya mengajak murid-murid untuk menggali pengetahuannya sendiri melalui media belajar yang akan mereka buat di dalam kelas. Untuk penyediaan alat dan bahan, biasanya saya sendiri yang menyiapkan dengan bermodal karton, spidol, pensil warna dan lain-lain untuk mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar saya hari ini.

Latar belakang penyampaian materi

Kali ini saya akan menyampaikan materi tentang ekosistem air laut. Saya mengemas pesan materi yang saya sampaikan kepada murid-murid saya di kelas dengan menggunakan media gambar. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan antara ekosistem air laut dan ekosistem air di kolam .

Penjelasan Materi

Ekosistem air laut disebut  juga dengan ekosistem bahari. Ekosistem air laut terdiri dari ekosistem lautan, ekosistem pantai, ekosistem muara, dan ekosistem terumbu karang. Ekosistem lautan ditandai dengan kandungan garam yang tinggi, terutama di daerah laut tropik. Ekosistem pantai terletak di perbatasan antara darat, laut, dan daerah pasang surut air laut. Ekosistem muara berada pada titik bertemunya sungai dengan laut. Sedangkan ekosistem terumbu karang didominasi dengan karang batu dan organisme lainnya karena daerahnya masih dapat ditembus cahaya matahari, sehingga proses fotosintesis masih dapat berlangsung.

Proses Pembelajaran di Kelas

Kegiatan awal

Dimulai dengan memperkenalkan ekosistem air laut dengan menggunakan gambar yang saya buat di rumah. Saya mempersilakan murid-murid untuk melihat ekosistem air laut yang saya pajang di depan kelas. Selanjutnya, murid-murid  diminta untuk membedakan antara ekosistem air laut dan ekosistem air di kolam dengan gaya bahasanya masing-masing di depan kelas.

Kegiatan Inti

Saya membagi murid-murid ke dalam kelompok besar. Saya membagi kelompok sesuai dengan ekosistem yang akan dijelaskan setiap kelompok. Ekosistem yang akan dibuat kelompok belajar: ekosistem lautan, ekosistem pantai, ekosistem muara, dan ekosistem kolam. Saya membebaskan kelompok membuat media belajar sesuai yang mereka inginkan.

Kegiatan penutup

Setelah media belajarnya sudah jadi, masing-masing kelompok diminta untuk menjelaskan dan menyebutkan ekosistem yang terdapat di lautan, pantai, muara, dan kolam. Kemudian media belajar yang sudah dibuat, saya pajang di dalam kelas. Murid-murid saya pun senang dan bangga atas hasil karya mereka.

Lesson Learned

Metode Alternatif

Metode ini sangat membantu saya dan murid-murid untuk mengasah motorik halusnya dan mengembangkan potensi kreativitasnya. Untuk menyediakan media belajar yang berbagai macam bentuknya, saya tidak merasa keberatan untuk membuatnya justru saya merasa senang kalau murid-murid yang saya ajarkan juga senang dalam belajar. Menurut saya, menggunakan media belajar yang beragam sangat mendukung kemungkinan penyampaian pesan materi lebih lama masuk ke dalam long term memory.   (Ditulis berdasarkan pengalaman Andita Destiarini Hadi, foto oleh Andita Destiarini Hadi )

Revisions

Revision Differences

October 19, 2012 @ 16:00:02Current Revision
Title
Ekosistem Air Laut (GAMBAR???) Membedakan 3 Ekosistem Air: Air Laut, Kolam, dan Akuarium
Content
<h2>PENILAIAN BELAJAR “BINTANG KELAS”</h2>  
&nbsp;  
<h2>Abstraksi</h2> <h2>Abstraksi</h2>
Tehnik penilaian hasil belajar siswa yang selama ini berlaku yaitu melalui tes tertulis, lisan, produk, portofolio, unjuk kerja, proyek, pengamatan, dan penilaian diri. Dari tehnik itu semua sebenarnya diperlukan langkah-langkah merancang penilaian. Membedakan ekosistem air laut yang terdiri dari ekosistem lautan, ekosistem pantai, ekosistem muara, dan ekosistem terumbu karang bagi anak usia SD saya ternyata cukup sulit. Mereka tidak bisa membedakan antara ekosistem laut dan ekosistem di dalam kolam.
<h2>Latar Belakang</h2> <h2>Latar Belakang</h2>
  <a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2012/10/ Ekosistem-Air- Laut-Andita.jpg"><img class="size-medium wp-image-2163" title="Ekosistem Air Laut - Andita" alt="" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2012/10/ Ekosistem-Air- Laut-Andita- 300x225.jpg" width="300" height="225" /></a> Ekosistem Air Laut
Untuk menilai hasil belajar siswa yang diakumulasikan dalam bentuk nilai angka sepertinya agak menyulitkan saya karena masih banyak siswa yang nilainya jauh di bawah nilai rata-rata. Sebagai seorang guru, saya harus mencari jalan keluarnya agar tehnik penilaian hasil belajar siswa tidak berdasarkan dari akumulasi nilai angka saja. Kurangnya pengetahuan dan jauhnya daerah yang saya tempati dari laut ataupun pantai, membuat murid-murid saya merasa kesulitan dalam membedakan ekosistem yang ada di laut dan di kolam. Mereka pikir ekosistem air di laut dan di kolam itu adalah sama.
<h3>Kondisi Kelas</h3> <h3>Kondisi Kelas</h3>
Penilaian hasil belajar ini menjadi pertimbangkan saya untuk menilai mereka berdasarkan aspek afektif siswa, yaitu keaktifan dan kerja sama pada kelompok di keseharian siswa di kelas dalam proses pembelajaran, baik itu diskusi, latihan, tugas, dan lain-lain. Jumlah murid di kelas adalah 20 siswa. Saya mencoba menerapkan metode konstruktivistik di dalam kelas.
<h3>Latar belakang penggunaan metode</h3> <h3>Latar belakang penggunaan metode</h3>
Saya menggunakan bintang kelas untuk menilai hasil belajar siswa. Metode penilaian ini saya lakukan dengan cara menuliskan daftar nama siswa di kelas di papan list yang sudah saya pasangkan di kelas agar siswa dapat memasangkan perolehan bintangnya (sebagai wujud reward untuk siswa) dan keterlibatan siswa pada saat praktek percobaan IPA. Dengan metode konstruktivisme saya mengajak murid-murid untuk menggali pengetahuannya sendiri melalui media belajar yang akan mereka buat di dalam kelas. Untuk penyediaan alat dan bahan, biasanya saya sendiri yang menyiapkan dengan bermodal karton, spidol, pensil warna dan lain-lain untuk mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar saya hari ini.
<h3>Latar belakang penyampaian materi</h3> <h3>Latar belakang penyampaian materi</h3>
Saya meminta siswa untuk turut aktif bertanya dan berani mengemukakan pendapatnya di dalam kelompok maupun di depan kelas. Hal ini dapat membuat saya melihat perkembangan bintang kelas yang diperoleh dari setiap siswa.  Bintang kelas yang paling banyak akan memperoleh nilai tambah. Kali ini saya akan menyampaikan materi tentang ekosistem air laut. Saya mengemas pesan materi yang saya sampaikan kepada murid-murid saya di kelas dengan menggunakan media gambar. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan antara ekosistem air laut dan ekosistem air di kolam .
<h2>Langkah Merancang Penilaian</h2>  <h2>Penjelasan Materi</h2>
&nbsp;  
  <a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2012/10/ Ekosistem-Akuarium- Andita.jpg"><img class="size-medium wp-image-2164" title="Ekosistem Akuarium - Andita" alt="" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2012/10/ Ekosistem-Akuarium-Andita- 300x225.jpg" width="300" height="225" /></a> Ekosistem Akuarium
  Ekosistem air laut disebut  juga dengan ekosistem bahari. Ekosistem air laut terdiri dari ekosistem lautan, ekosistem pantai, ekosistem muara, dan ekosistem terumbu karang.
  Ekosistem lautan ditandai dengan kandungan garam yang tinggi, terutama di daerah laut tropik. Ekosistem pantai terletak di perbatasan antara darat, laut, dan daerah pasang surut air laut. Ekosistem muara berada pada titik bertemunya sungai dengan laut. Sedangkan ekosistem terumbu karang didominasi dengan karang batu dan organisme lainnya karena daerahnya masih dapat ditembus cahaya matahari, sehingga proses fotosintesis masih dapat berlangsung.
  <h2>Proses Pembelajaran di Kelas</h2>
  <h3>Kegiatan awal</h3>
  Dimulai dengan memperkenalkan ekosistem air laut dengan menggunakan gambar yang saya buat di rumah. Saya mempersilakan murid-murid untuk melihat ekosistem air laut yang saya pajang di depan kelas. Selanjutnya, murid-murid  diminta untuk membedakan antara ekosistem air laut dan ekosistem air di kolam dengan gaya bahasanya masing-masing di depan kelas.
  <a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2012/10/ Ekosistem-Kolam- Andita.jpg"><img class="size-medium wp-image-2165" title="Ekosistem Kolam - Andita" alt="" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2012/10/ Ekosistem-Kolam- Andita-300x220.jpg" width="300" height="220" /></a> Ekosistem Kolam
  <h3>Kegiatan Inti</h3>
  Saya membagi murid-murid ke dalam kelompok besar. Saya membagi kelompok sesuai dengan ekosistem yang akan dijelaskan setiap kelompok. Ekosistem yang akan dibuat kelompok belajar: ekosistem lautan, ekosistem pantai, ekosistem muara, dan ekosistem kolam. Saya membebaskan kelompok membuat media belajar sesuai yang mereka inginkan.
  <h3>Kegiatan penutup</h3>
  Setelah media belajarnya sudah jadi, masing-masing kelompok diminta untuk menjelaskan dan menyebutkan ekosistem yang terdapat di lautan, pantai, muara, dan kolam. Kemudian media belajar yang sudah dibuat, saya pajang di dalam kelas. Murid-murid saya pun senang dan bangga atas hasil karya mereka.
<h2>Lesson Learned</h2> <h2>Lesson Learned</h2>
<h3>Metode Alternatif</h3> <h3>Metode Alternatif</h3>
Metode penilaian ini lumayan terlihat dampaknya. Siswa lebih terpacu mengerjakan tugas dan lain-lain, tetapi kita harus kesampingkan dulu mengenai benar atau salahnya siswa mengerjakan tugas di awal  penerapan metode ini. Metode ini sebagai akomodasi tehnik penilaian alternatif dan digunakan sebagai pemacu semangat siswa.  Ingat bahwa nilai akhir itu bukanlah segalanya, yang penting adalah prosesnya. Semoga bermanfaat J Metode ini sangat membantu saya dan murid-murid untuk mengasah motorik halusnya dan mengembangkan potensi kreativitasnya. Untuk menyediakan media belajar yang berbagai macam bentuknya, saya tidak merasa keberatan untuk membuatnya justru saya merasa senang kalau murid-murid yang saya ajarkan juga senang dalam belajar. Menurut saya, menggunakan media belajar yang beragam sangat mendukung kemungkinan penyampaian pesan materi lebih lama masuk ke dalam long term memory.
  &nbsp;
  (Ditulis berdasarkan pengalaman <a href="https:/ /indonesiamengajar.org/pengajar- muda/andita-hadi/">Andita Destiarini Hadi</a>, foto oleh <a href="https:/ /indonesiamengajar.org/pengajar- muda/andita-hadi/">Andita Destiarini Hadi </a>)

Note: Spaces may be added to comparison text to allow better line wrapping.

No comments yet.

Leave a Reply