You are viewing an old revision of this post, from June 23, 2014 @ 13:07:17. See below for differences between this version and the current revision.

ULANGAN HARIAN DENGAN METODE PAMERAN SOAL

ABSTRAKSI

Seperti di sekolah-sekolah lain pada umumnya, di SDN 01 Bangun Jaya Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, atau evaluasi belajar seringkali menjadi momok yang menakutkan bagi para peserta didik. Ada tekanan tersendiri yang dirasakan oleh peserta didik sehingga hasil yang diperoleh tidak optimal. Untuk menyiasati rasa takut tersebut, penulis mengubah cara pandang peserta didik terhadap / dengan cara mengubah suasana kelas menjadi layaknya suasana sebuah pameran. Tetapi pameran yang dimaksud di sini tentu bukan pameran lukisan atau karya seni lainnya, melainkan pameran karya olah otak yang berupa soal­-soal latihan.

Latar Belakang

Maret merupakan “Bulan Panas” karena hujan mulai jarang menyapa Kabupaten Tulang BawangBarat, Lampung. Angin dan udara panas pun segera berakrab ria dengan penduduk daerah dataran rendah di pulau Sumatera itu. Pada saat-­saat seperti ini, tempat yang paling disukai para peserta didik di SDN 01 Bangun Jaya adalah tempat­-tempat di pojok sekolah, di bawah pohon akasia. Panasnya cuaca ini seakan mengiringi suasana sekolah yang juga mulai terasa “panas” karena para peserta didik kelas VI harus banyak mengerjakan latihan soal untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian. Kata ulangan, tes atau ujian menjadi kata yang seringkali menakutkan bagi para peserta didik, sehingga mereka cenderung merasa tertekan. Tetapi apa boleh buat, evaluasi belajar  harus tetap dilaksanakan. Sebagai upaya untuk mengurangi ketakutan peserta didik dalam menghadapi tes atau ujian ini, penulis menerapkan metode pameran soal. Penulis mengubah suasana kelas bak ruang pameran. Hanya saja hal yang dipajang pada pameran ini bukanlah lukisan atau perhiasan, melainkannpajangan yang berupa karya olah otak, yaitu soal­soal. “Pameran soal ? Apa pula ini, Bu?” Tanya salah satu peserta didik. Aha! Ada yang penasaran? Mari kita simak bagaimana suasananya.

 Metode

Alat dan Bahan

  1. Kertas Plano dipotong 2 x 2  m
  2. Spidol
  3. Selotip putih (double tape)
  4. Laptop* (Bisa diganti benda lain yang berfungsi sama)
  5. Pengeras suara yang mudah dibawa­bawa

Proses

  1. Menyiapkan kertas plano berukuran 2 x 2 m.
  2. Menuliskan soal­soal pada kertas plano tersebut.
  3. Menempelkan kertas plano pada dinding di ruangan kelas.

Penerapan Metode Dalam Kelas

  1. Peserta didik berada di luar kelas selama 10 menit pertama. Hal ini selain bertujuan        agar peserta didik mengulang kembali materi yang telah disampaikan juga dimaksudkan    untuk membangkitkan keingintahuan mereka.
  2. Pendidik memajang kertas plano yang berisi soal-­soal di pojok-­pojok kelas.
  3. Setelah siap, minta pasa peserta didik untuk berbaris di depan pintu kelas. Bagi peserta    didik menjadi beberapa kelompok sesuai jumlah kertas pameran soal. Peserta didik hanya  diperbolehkan membawa selembar kertas dan pena saat memasuki kelas.
  4. Hidupkan alunan musik yang lembut dan menenangkan. Agar suasana menjadi lebih  hidup, pendidik bisa berperan sebagai pemandu pameran.
  5. Persilakan peserta didik masuk sambil mengatakan, “Halo anak­anak, selamat  ______. Perkenalkan saya Nona Sani. Hari ini saya menjadi pemandu kalian untuk berkunjung  ke pameran ini. Siapa yang sudah pernah ke pameran?”
  6. Buatlah peserta didik bersemangat dengan sambutan awal ini.
  7. Peserta didik mulai melihat galeri soal secara berurutan sesuai kelompok. Beri batasan  waktu. Misalnya, satu kelompok bisa melihat dan mengerjakan soal dalam waktu 15 menit di  setiap jenis pajangan soal.
  8. Bersikaplah sebagai pemandu yang ramah tetapi tegas hingga waktu mengunjungi  pameran selesai.

Pelajaran Yang Didapat

saninovika Melalui metode ini, evaluasi belajar bisa berlangsung dengan cara yang menyenangkan. Metode ini mudah untuk diterapkan karena selain murah juga tidak memerlukan banyak waktu untuk mempersiapkannya. Tiga gaya belajar peserta didik, yaitu gaya penglihatan, pendengaran dan gerak tubuh bisa tercakup selama pelaksanaannya. Hal ini membuat peserta didik bisa memusatkan perhatian pada soal latihan masing­-masing sehingga rasa tegang dan cemas pun menjadi berkurang, bahkan mungkin hilang. Pelaksanaan evaluasi yang menyenangkan, bukan? Silakan dipraktekkan :)

 

Kesimpulan

  1. Metode ini bisa menghilangkan rasa jenuh dan takut peserta didik ketika menghadapi tes, ulangan  atau evaluasi belajar.
  2. Peserta didik bisa memusatkan perhatiannya pada latihan soal sehingga hasil yang memuaskan pun sangat dimungkinkan.

Referensi

Artikel ini berhubungan dengan beberapa artikel di bawah ini:
  1. Ulangan Matematika Keren dengan Pixel Math (28.8)
  2. (Bukan) Ulangan Matematika (23.7)
  3. Pameran Foto Enam Benua (23.2)
  4. Belajar Pidato dengan Metode ‘Reality Show’ (22.1
   

Revisions

Revision Differences

June 23, 2014 @ 13:07:17Current Revision
Title
ULANGAN HARIAN DENGAN METODE PAMERAN SOAL Ulangan Harian dengan Metode Pameran Soal
Content
<p style="text-align: justify;"><i> </i></p>  
<p style="text-align: justify;"><i> </i></p>  
<h2 style="text-align: justify;">Abstraksi</h2>  
  <h2 style="text-align: left;">ABSTRAKSI</h2>
  <h2 style="text-align: left;"></h2>
  <h2 style="text-align: left;"></h2>
Tes atau evaluasi belajar terkadang menjadi momok yang menyeramkan bagi siswa. Padahal hal tersebut diperlukan sebagai evaluasi sejauh mana pemahaman anak-anak terhadap proses belajar-mengajar yang telah dilaksanakan. Ada <i>pressure </i>tersendiri sehingga terkadang anak-anak menjadi takut dan tidak maksimal. Untuk itu, ada baiknya merubah <i>mindset </i>siswa untuk tidak menjadikan ulangan sebagai hal yang menakutkan dengan mengubah suasananya. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan mengubah suasana kelas menjadi pameran. Akan tetapi, bedanya di dalam pameran ini isinya bukan lukisan ataupun karya seni melainkan karya olah otak yaitu soal-soal latihan. <p style="text-align: left;">Seperti di sekolah-sekolah lain pada umumnya, di SDN 01 Bangun Jaya Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, tes atau evaluasi belajar seringkali menjadi momok yang menakutkan bagi para peserta didik. Ada tekanan tersendiri yang dirasakan oleh peserta didik sehingga hasil yang diperoleh tidak optimal. Untuk menyiasati rasa takut tersebut, penulis mengubah cara pandang peserta didik terhadap tes/ulangan dengan cara mengubah suasana kelas menjadi layaknya suasana sebuah pameran. Tetapi pameran yang dimaksud di sini tentu bukan pameran lukisan atau karya seni lainnya, melainkan pameran karya olah otak yang berupa soal­-soal latihan.</p>
<h2 style="text-align: justify;"></h2>   
<h2 style="text-align: justify;">Latar Belakang</h2>  <h2 style="text-align: left;">Latar Belakang</h2>
Bulan Maret adalah bulan yang sangat panas<i>.</i> Hujan sudah mulai jarang menyapa. Angin dan udara panas segera berakrab ria dengan kami penduduk daerah dataran rendah pulau Sumatra. Segeralah tempat-tempat di bawah pohon akasia di pojok sekolah menjadi tempat favorit para siswa.  
  Maret merupakan “Bulan Panas” karena hujan mulai jarang menyapa Kabupaten Tulang BawangBarat, Lampung. Angin dan udara panas pun segera berakrab ria dengan penduduk daerah dataran rendah di pulau Sumatera itu. Pada saat-­saat seperti ini, tempat yang paling disukai para peserta didik di SDN 01 Bangun Jaya adalah tempat­-tempat di pojok sekolah, di bawah pohon akasia. Panasnya cuaca ini seakan mengiringi suasana sekolah yang juga mulai terasa “panas” karena para peserta didik kelas VI harus banyak mengerjakan latihan soal untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian. Kata ulangan, tes atau ujian menjadi kata yang seringkali menakutkan bagi para peserta didik, sehingga mereka cenderung merasa tertekan. Tetapi apa boleh buat, evaluasi belajar  harus tetap dilaksanakan.
Selain <i>panas </i>karena cuaca, bulan ketiga ini juga panas karena sudah mulai banyak latihan soal, terutama untuk siswa kelas enam yang akan mengikuti ujian. <i>Mindset </i>tentang sesuatu yang menyeramkan dan menegangkan dalam kata “ulangan”, “ujian”, atau “tes” terkadang menjadi tekanan tersendiri. Tapi apa daya, evaluasi tetaplah harus dilakukan. <i>Test</i><i> </i><i>must go on</i>. Sebagai upaya untuk mengurangi ketakutan peserta didik dalam menghadapi tes atau ujian ini, penulis menerapkan metode pameran soal. Penulis mengubah suasana kelas bak ruang pameran. Hanya saja hal yang dipajang pada pameran ini bukanlah lukisan atau perhiasan, melainkannpajangan yang berupa karya olah otak, yaitu soal­soal.
Dalam upaya mengurangi panasnya bulan Maret ini, kita ajak siswa kelas enam mengevaluasi pembelajaran dengan mengunjungi pameran soal. Bukan pameran karya seni, melainkan pameran karya olah otak, yaitu soal-soal.  
“Pameran soal, <em>opo meneh iki</em> Bu?”  
  “Pameran soal ? Apa pula ini, Bu?” Tanya salah satu peserta didik.
Aha! Ada yang penasaran? Inilah cara bermainnya.  Aha! Ada yang penasaran? Mari kita simak bagaimana suasananya.
&nbsp;  
  <h2> Metode</h2>
<h2>Alat dan Bahan</h2> <h2>Alat dan Bahan</h2>
<ol> <ol>
<li>Kertas Plano dipotong 2 x 2  m</li>  <li>Kertas Plano dipotong 2 x 2  m</li>
<li>Spidol</li>  <li>Spidol</li>
<li>Double tip</li>   <li>Selotip putih (double tape)</li>
<li>Laptop* (Bisa diganti benda lain yang berfungsi sama)</li>  <li>Laptop* (Bisa diganti benda lain yang berfungsi sama)</li>
<li>Speaker portable</li>   <li>Pengeras suara yang mudah dibawa­bawa</li>
</ol> </ol>
&nbsp;  
<h2>Cara Bermain</h2>  <h2>Proses</h2>
<ol> <ol>
<li>Siswa diminta keluar kelas selama 10 menit, selain bertujuan untuk mengulang kembali materi yang telah disampaikan, hal ini akan membangkitkan <i>curiousity </i>anak-anak; <i></i></li>  
<li>Setelah anak-anak keluar, pasang kertas plano yang berisi soal-soal di pojok-pojok kelas;</li>  
<li>Bariskan anak-anak di depan pintu, bagi menjadi kelompok-kelompak sesuai jumlah kertas pameran soal. Siswa boleh masuk ke kelas hanya dengan membawa selembar kertas dan pena;</li>  
<li>Persilakan masuk dengan apersepsi dengan hal yang tidak biasa seperti, “Halo anak-anak, saya <em>Miss</em> Sani, saya adalah pemandu kalian hari ini untuk berkunjung ke suatu pameran, yaitu pameran soal, ada yang sudah pernah ke pameran sebelumnya?”;</li>  
   <li><span style="font-size: 13px;">Menyiapkan kertas plano berukuran 2 x 2 m.</span></li>
<li>Buat siswa antusias dengan persepsi yang kita berikan;</li>  <li>Menuliskan soal­soal pada kertas plano tersebut.</li>
<li>Siswa melihat-lihat galeri berurutan sesuai kelompok, beri alokasi waktu. Misalkan dalam setiap jenis pameran satu kelompok boleh melihat dan mengerjakan soal dalam waktu 15 menit;</li>  
<li>Beri alunan instrumen musik yang menenangkan selama mengerjakan soal dari laptop;</li>  <li>Menempelkan kertas plano pada dinding di ruangan kelas.</li>
<li>Berperanlah sebagai pemandu yang ramah namun tegas sampai waktu mengunjungi pameran selesai.<i></i></li>  
</ol> </ol>
  <h2>Penerapan Metode Dalam Kelas</h2>
  <ol>
   <li><span style="font-size: 13px;">Peserta didik berada di luar kelas selama 10 menit pertama. Hal ini selain bertujuan        agar peserta didik mengulang kembali materi yang telah disampaikan juga dimaksudkan    untuk membangkitkan keingintahuan mereka.</span></li>
   <li>Pendidik memajang kertas plano yang berisi soal-­soal di pojok-­pojok kelas.</li>
   <li>Setelah siap, minta pasa peserta didik untuk berbaris di depan pintu kelas. Bagi peserta    didik menjadi beberapa kelompok sesuai jumlah kertas pameran soal. Peserta didik hanya  diperbolehkan membawa selembar kertas dan pena saat memasuki kelas.</li>
   <li>Hidupkan alunan musik yang lembut dan menenangkan. Agar suasana menjadi lebih  hidup, pendidik bisa berperan sebagai pemandu pameran.</li>
   <li>Persilakan peserta didik masuk sambil mengatakan, “Halo anak­anak, selamat  ______. Perkenalkan saya Nona Sani. Hari ini saya menjadi pemandu kalian untuk berkunjung  ke pameran ini. Siapa yang sudah pernah ke pameran?”</li>
   <li>Buatlah peserta didik bersemangat dengan sambutan awal ini.</li>
   <li><em id="__mceDel" style="font-size: 13px;">Peserta didik mulai melihat galeri soal secara berurutan sesuai kelompok. Beri batasan  waktu. Misalnya, satu kelompok bisa melihat dan mengerjakan soal dalam waktu 15 menit di  setiap jenis pajangan soal.</em></li>
   <li><em id="__mceDel" style="font-size: 13px;">Bersikaplah sebagai pemandu yang ramah tetapi tegas hingga waktu mengunjungi  pameran selesai.</em></li>
  </ol>
  <h2>Pelajaran Yang Didapat</h2>
  <a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2014/06/ saninovika.png"><img class="size-medium wp-image-5985 aligncenter" alt="saninovika" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2014/06/ saninovika-300x228.png" width="300" height="228" /></a>
  Melalui metode ini, evaluasi belajar bisa berlangsung dengan cara yang menyenangkan. Metode ini mudah untuk diterapkan karena selain murah juga tidak memerlukan banyak waktu untuk mempersiapkannya. Tiga gaya belajar peserta didik, yaitu gaya penglihatan, pendengaran dan gerak tubuh bisa tercakup selama pelaksanaannya. Hal ini membuat peserta didik bisa memusatkan perhatian pada soal latihan masing­-masing sehingga rasa tegang dan cemas pun menjadi berkurang, bahkan mungkin hilang. Pelaksanaan evaluasi yang menyenangkan, bukan? Silakan dipraktekkan :)
  <p style="text-align: center;"><strong>  </strong></p>
  <h2>Kesimpulan</h2>
  <ol>
   <li><span style="font-size: 13px;">Metode ini bisa menghilangkan rasa jenuh dan takut peserta didik ketika menghadapi tes, ulangan  atau evaluasi belajar.</span></li>
   <li><em id="__mceDel" style="font-size: 13px;">Peserta didik bisa memusatkan perhatiannya pada latihan soal sehingga hasil yang memuaskan pun sangat dimungkinkan.</em></li>
  </ol>
  <h2>Referensi</h2>
  Artikel ini berhubungan dengan beberapa artikel di bawah ini:
  <ol>
   <li><a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-admin/post.php?action= edit&amp;post= 4786">Ulangan Matematika Keren dengan Pixel Math</a> (28.8)</li>
   <li><a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-admin/post.php?action= edit&amp;post= 3937">(Bukan) Ulangan Matematika</a>  (23.7)</li>
   <li><a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-admin/post.php?action= edit&amp;post= 3098">Pameran Foto Enam Benua</a> (23.2)</li>
   <li><a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-admin/post.php?action= edit&amp;post= 4807">Belajar Pidato dengan Metode ‘Reality Show’</a> (22.1</li>
  </ol>
  &nbsp;
&nbsp; &nbsp;
<p style="text-align: center;"><strong>LESSON LEARNED</strong></p>  
<a href="http:// belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2014/05/ 100_45961.jpg"><img class="size-medium wp-image-5752 aligncenter" alt="100_4596" src="http://belajar.indonesiamengajar.org/ wp-content/uploads/2014/05/ 100_45961-300x225.jpg" width="300" height="225" /></a>  
Melalui pameran soal, siswa akan dievaluasi dengan cara yang menyenangkan. Metode ini mudah untuk dilakukan karena murah dan tidak memerlukan banyak waktu persiapan. Selain itu, tiga saluran belajar anak yaitu <em>v</em><i>isual</i>, <em>a</em><i>uditory</i> dan <em>k</em><i> inestetik</i> dapat terakomodir sehingga mereka akan fokus pada soal latihan masing-masing dan akan mengurangi ketegangan saat dievaluasi.  
Oke, sampai di sini ya. Langsung mari kita praktikkan dalam proses belajar mengajar di tempat masing-masing. :)  

Note: Spaces may be added to comparison text to allow better line wrapping.

No comments yet.

Leave a Reply